Langsung ke konten utama

Perang Ekspansi Arab Saudi Melawan Emirat Hijaz dan Turki Utsmani

 Mungkin para pembaca tidak banyak yang mengetahui bahwa Kota Makkah dan Madinah yang sekarang ada di Kerajaan Arab Saudi baru dipegang oleh Kerajaan Arab Saudi pada tahun 1925, dan sebelum itu dua kota suci Makkah dan Madinah bukanlah kota yang menganut aliran Salafi-Wahabi sebagaimana kota-kota di Arab Saudi pada umumnya, dan banyak pendakwah dan jamaah Salafi-Wahabi yang menggunakan fakta dipegangnya dua kota suci oleh Kerajaan Arab Saudi yang menganut Salafi-Wahabi sebagai aliran atau “Mazhab resmi” negara sebagai bukti kalau aliran yang mereka anut adalah benar. Ketika dibantah dengan dalil tidak jarang mereka langsung membawa dua kota suci sebagai bukti akan kebenaran ajaran mereka, seolah-olah Arab Saudi sudah berdiri sejak zaman Rasulullah, padahal Arab Saudi pertama kali muncul di akhir tahun 1700an dengan nama Emirat Dir’iyyah/Dar’iyyah di Najid dataran tinggi di Jazirah Arab bagian tengah, Emirat Dir’iyyah/Dar’iyyah bekerjsama dengan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman bin Ali Attamimi, penggagas Wahabi dalam berekspansi ke seluruh jazirah Arab dan memaksakan paham Wahabi, Emirat Dar’iyyah/Dir’iyyah sempat menguasai Makkah dan Madinah dalam waktu yang singkat sampai ditendang keluar oleh Muhammad Ali Pasya, Gubernur Turki Ustmani di Mesir, serangan Turki Ustmani dari Mesir itu sendiri diundang oleh Syarif Makkah, Raja Hijaz, sekitar Makkah dan Madinah yang sebelumnya diserang oleh Emirat Dir’iyyah/Dar’iyyah Bani Saud yang mau memaksakan ajaran Wahabi, Wahabi diusir dari Makkah dan Madinah pada tahun 1804, dan terus terdesak sampai ke markasnya di Dir’yyah/Dar’iyyah di Arabia Tengah dan dikalahkan oleh pasukan Turki Ustmani dari Mesir pada 1818, pada tahun yang sama, Amir Abdullah bin Saud al Kabir bin Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud dihukum mati di Istambul karena kesalahannya, sejak saat itu Bani Saud hanya berkuasa di Najd dan baru bisa masuk lagi ke Hijaz, Makkah dan Madinah setelah Perang Dunia Pertama yang meruntuhkan Turki Ustmani

Arab Saudi sebagai sebuah kerajaan yang melakukan ekspansi atau perluasan wilayah kekuasaan berperang dengan sesama muslim yang bukan Wahabi, mereka menuduh muslim yang bukan Wahabi sebagai orang musyrik dan kafir, alasan ini dipakai selama masa Emirat Dar’iyyah atau Negara Arab Saudi Pertama sampai Emirat Dar’iyyah dihancurkan oleh pasukan Mesir atas perintah Turki Utsmani pada 1818 di atas. Dalam melakukan perluasan wilayah Emirat Dar’iyyah menimbulkan banyak korban jiwa, seperti menyerang kota Uyaynah, pemimpin kota Uyaynah Utsman bin Ma’mar dulunya adalah murid Muhammad bin Abdul Wahab, dia orang yang mendukung Muhammad bin Abdul Wahab menghancurkan kubah Makam Zaid bin Khattab Radhiyallahu Anhu, kakakanda Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu Anhu. Utsman bin Muammar dibunuh oleh pengikut Muhammad bin Abdul Wahab yang lain karena ketahuan melakukan surat menyurat dengan musuh, biasanya hal seperti itu hanya dianggap sebagai masalah politik biasa, namun Muhammad bin Abdul Wahab mengizinkan pembunuhan atas Utsman bin Ma’mar dengan dalih Utsman bin Ma’mar sudah murtad karena melakukan surat-menyurat dengan musuh, sebagai perbandingan, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam memaafkan salah satu sahabat veteran perang badar yang kedapatan mengirimkan surat kepada musyrikin Quraisy di Makkah, sahabat itu mengirimkan surat yang membocorkan pergerakan pasukan muslimin kepada kafir Quraisy karena ia takut kafir Quraisy akan melakukan perbuatan yang tidak baik kepada keluarganya yang ada di Makkah. Sebagian keluarganya tidak ikut hijrah, karena itulah ada keluarganya yang tertinggal di Makkah. Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam yang mendapatkan wahyu soal surat itu kemdian menyuruh Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu untuk mencari seorang Wanita yang dititpi surat itu, begitu ketahuan sahabat yang ikut perang badar itu tidak dibunuh sedangkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab mengizinkan untuk membunuh Utsman bin Ma’mar padahal Utsman bin Ma’mar memiliki jasa yang sangat besar bagi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.  Utsman bin Ma’mar dibunuh setelah shalat jumat di masjid jami’ Uyaynah, akibatnya terjadi kerusuhan salama tiga hari di Uyaynah antara pihak yang pro dan kontra terhadap pembunuhan Utsman bin Ma’mar, setelah terjadi kerusuhan selam tiga hari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab kemudian datang ke Uyaynah untuk menunjuk saudara Utsman bin Ma’mar yang juga muridnya menjadi pemimpin baru Uyaynah. Muhammad bin Abdul Wahab mungkin dendam kepada Utsman bin Ma’mar karena dia diusir dari sana sebab Utsman bin Ma’mar takut kepada penguasa Bani Khalid di Al Ahsa.

Setelah diusir dari Uyaynah pada tahun 1158 Hijriah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berpindah ke Dar’iyyah yang dikuasai oleh Bani Saud, dengan amirnya Muhammad bin Saud, leluhur raja Arab Saudi. Setelah kesepakatan tersebut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab mengajak dan menjanjikan sekutu barunya itu dengan berbagai futuhat (penaklukan wilayah atau ekspansi) dan memperbanyak Ghanimah/rampasan perang.[1] Mereka berdua memiliki banyak kecocokan sehingga mereka bersepakat dan melakukan pembagian tugas, Muhammad bin Saud mengurusi bidang kekuasaan, sedangkan Muhammad bin Abdul Wahab mengurusi bidang keagamaan, mereka menyepakati tidak syarat, yaitu[2]:

1.      Muhammad bin Abdul Wahab tidak menghalangi Ibnu Saud (Muhammad bin Saud) dalam mengambil cukai, pajak, dan retribusi lainnya dari penduduk Dar’iyyah dan penduduk lain yang tunduk pada kekuasaan Muhammad bin Saud. Adapun penduduk yang tidak taat, maka harus diperangi atas nama agama atau jihad, dan harta rampasannya dinamakan Ghanimah.

2.      Kedua, Imarah, yaitu kerajaan dan kekuasaan, hanya dipegang oleh keluarga Muhammad bin Saud dan keturunannya. Sedangkan Muhammad bin Abdul Wahab dan keturunannya cukup memegang urusan keagamaan.

3.      Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab memiliki kewajiban untuk selalu berada di pihak keluarga Muhammad bin Saud, konsisten dan selalu mendukung kebijakannya, tidak boleh meningggalkannya atau berpaling kepada yang lain.

            Di dalam buku sejarah Tarikh An Najd karya Syaikh Ibrahim bin Ghunnam yang dikeluarkan oleh Kerajaan Arab Saudi dan Keturunan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab (Keluarga Alu Syaikh) yang penerbitannya juga dalam pengawasan Syaikh bin Baz, Mufti Agung Arab Saudi sampai tahun 1991 disebutkan bahwa “Sesungguhnya Utsman bin Ma’mar, penguasa Uyaynah, adalah orang musyrik yang kafir (bukan pengikut Muhammad bin Abdul Wahab). Maka Ketika Muslimim (maksudnya pengikut Muhammad bin Abdul Wahab) menyadari itu, mereka bersepakat untuk membunuhnya setelah ia selesai melaksanakan shalat Jum’at. Kami telah berhasil membunuhnya di dalam masjid pada bulan Rajab tahun 1163H. Pada hari ketiga dari peristiwa pembunuhan itu, Muhammad bin Abdul Wahab mengunjungi Uyaynah untuk mengangkat Misy’ari/Musy’ari bin Ma’mar sebagai pemimpin baru Uyaynah

Masalah belum selesai, keluarga Al Ma’mar bukan hanya menguasai Uyaynah, tetapi juga Huraymalah dan Sadus, ketiga kota itu sekarang sudah terserap menjadi bagian dari Kota Riyadh, kota Huraymalah tidak bisa menerima pemimpin mereka dibunuh ketika sedang shalat sunnah ba’diyah Jum’at, Qadhi (Hakim Agama Islam)Kota Huraymalah, Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahab, yang merupakan kakak kandung dari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab mengirimkan surat kepada adiknya, bertanya mengapa ia sampai tega membiarkan pembunuhan Utsman bin Ma’mar. Surat itu dijawab oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab bahwa Utsman bin Ma’mar sudah kafir karena berteman dengan orang kafir, dan hahal untuk dibunuh, dan menurut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang tidak ikut ajarannya sudah kafir, Utsman bin Ma’mar mengirim surat ke orang yang tidak ikut Muhammad bin Abdul Wahab.

 Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahab pun tidak terima dengan jawaban adiknya itu, mana ada ajaran yang mengatakan bahwa berteman dengan orang kafir berarti ikut kafir, yang ada adalah hati-hati jika berteman dengan orang kafir karena nanti bisa diajak ikut jadi kafir, tetapi berteman dengan orang kafir juga berpotensi untuk mengajak mereka menjadi mualaf, dan mengapa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab begitu mudah mengizinkan pembunuhan Utsman bin Ma’mar hanya karena berkirim surat dengan orang yang tidak ikut ajarannya. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab mengirimkan balasan yang isinya “barang siapa tidak mengkafirkan orang kafir juga kafir, barang siapa yang tidak memusuhi orang kafir juga kafir, Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahab, para ulama beserta penduduk Huraimalah sudah kafir karena membela Utsman bin Ma’mar. tentu saja jawaban dari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab itu tidak benar, memang benar kita tidak boleh membenarkan orang kafir, namun makna kafir di sini adalah yang tidak ikut dirinya, sedangkan perkataannya jika tidak memusuhi orang kafir ikut kafir sama sekali tidak ada dasarnya, pada kondisi normal Umat Islam harus cinta damai, baru ketika terjadi perang wajib berjuang di jalan Allah, pada kafir asli saja tidak boleh asal memusuhi, karena kita dilarang untuk berperang tanpa sebab, apalagi memerangi muslim yang tidak ikut ajarannya. Ajaran Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab soal jika tidak mengkafirkan orang kafir (muslim yang tidak ikut ajarannya) itu kafir dan tidak memerangi orang kafir (muslim yang tidak ikut ajaranya) juga kafir ada di kitab kedua dan ketiga karangannya, yaitu Kasyafus Syubuhat dan Qawaidul Arba’ sedangkan ajarannya yang mengakafirkan muslim yang berbeda pendapat dengannya ada di Kitabut Tauhid karangannya.

Terjadi perang antara Emirat Dar’iyyah yang dikuasai oleh Bani Saud yang saat itu masih dipimpin oleh Muhammad bin Saud melawan Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahab di Huraymalah, Sadus, dan Uyaynah. Nyawa penduduk Uyaynah dihabisi, rumah-rumah mereka dihancurkan, ladang-ladang mereka dibakar, pepohonan di sana ditumbangkan, seluruh harta kekayaan kota itu dijarah, sedangkan para wanitanya dijadikan budak belian. Tidak cukup sampai di situ, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab melarang orang untuk membangun kembali kota itu dengan alasan Allah Subhanallahu Wata’ala akan mengirim jutaan belalang yang akan meluluhlantahkan kota itu beserta semua isinya.[1] dan kota itu dibiarkan selama 200 tahun dan sekarang menjadi zona Latihan militer Arab Saudi.[2]

Perilaku yang dilakukan oleh pasukan Emirat Dar’iyyah itu memiliki dasar fatwa yaitu “Merea semua adalah kafir, darah mereka halal. Begitu juga dengan Wanita-wanita mereka, segala harta miliki mereka halal untuk dijarah.[3] Hal ini juga dipertegas dengan fatwanya yang mengkafirkan penduduk Uyaynah dan Dar’iyyah.[4] Muhammad bin Abdul Wahab di dalam kitabnya yang berjudul Ad Durarus Saniyah berfatwa “Jika kalian (maksudnya para pengikutnya) berjihad bersama kami di jalan Allah dan meninggikan kalimat-Nya ( maksudnya menurut pemahaman Muhammad bin Abdul Wahab), maka kalian akan memperoleh keuntungan yang terbesar. Namun jika tidak kalian tidak akan memberikan mudharat sedikitpun kepada Allah.[5] “Sesungguhnya agama yang dianut penduduk Makkah (di masanya) sama dengan agama jahiliyah”.[6] “Sesungguhnya penduduk Al Ahsa (sekarang Al Hasa/Provinsi Timur Arab Saudi Al-Ahsa Governorate - Wikipedia )  di zamannya adalah para penyembah berhala”.[7] Muhammad bin Abdul Wahab juga menuduh suku Anizzah tidak mempercayai hari akhir “Mereka tidak mempercayai hari akhir”.[8] Penduduk Dhufair juga dituduh sebagai pengingkar hari kiama sebagai dalih untuk merampas harta mereka.[9]

 Fatwa  ini juga diikuti oleh Wahabi generasi awal, Syaikh Husen Ibnu Ghunnam, yang karyanya juga saya jadikan rujukan tentang kekejaman mereka sendiri  berkata di dalam penuturannya kondisi negeri-negeri mereka: “Mayoritas manusia di zamannya –yaitu di zaman Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab– adalah berlumuran dengan kotoran lagi bermandikan najis sampai mereka bergelimang dengan kotoran kemusyrikan dengan bergulirnya tahun… di mana mereka berpaling malah mengibadati para wali dan orang-orang saleh serta mereka melepaskan ikatan tauhid dan din ini, mereka bersungguh-sungguh dalam beristighatsah kepada para wali itu di dalam kondisi genting, bencana dan kejadian yang mencekam, dan mereka menghadapkan wajah kepada para wali itu di dalam pemenuhan berbagai kebutuhan dan penyelamatan dari berbagai bencana, baik para wali itu masih hidup maupun sudah meninggal dunia, dan bahkan banyak dari mereka meyakini manfaat dan madlarat di dalam benda yang mati… -kemudian beliau menuturkan bentuk-bentuk kemusyrikan di Nejed, Hijaz, ‘Irak, Syam, Mesir dan tempat lainnya–“. Selesai.[10]

Tidak hanya mengeluarkan fatwa tersebut Muhammad bin Abdul Wahab juga menyiapkan pasukannya, sebagaimana ditulis oleh Utsman bin Bisyr: “Kemudian Syaikh itu-yakni Muhammad bin Abdul Wahab-mengajak dan memerintahkan pasukan yang telah disiapkannya itu untuk berjihad. Mereka pun mematuhinya. Kelompok serdadu pertama menunggang tujuh kendaraan. Ketika mereka memacunya terlalu cepat, ada di antara mereka yang jatuh terpelanting dari pelananya, karena mereka belum terbiasa dengan hal itu. Kemudian mereka menyerang untuk melancarkan misinya, saya rasa, terhadap sebagian Bangsa Arab. Mereka pun Kembali dengan selamat serta membawa harta rampasan perang.[11] “Dia (Muhammad bin Abdul Wahab) yang menyiapkan para tantara, mengutus pasukan, menyurati penduduk-penduduk negeri dan menerima surat dari mereka, menerima para utusan dan para tamu yang dating kepadanya, dari luar maupun dalam daerah”.[12]

Emirat Dar’iyyah saat sudah dipimpin Abdu; Aziz bin Muhammad bin Saud juga berperang melawan Emirat Riyadh yang pada saat itu dipimpin oleh Daham bin Dawwas Al Shalaan, ingat Kota Riyadh belum menjadi ibukota Arab Saudi, dan kemudian Dar’iyyah terserap ke dalam Riyadh modern seperti halnya Uyaynah, Sadus, dan Huraymalah. Pada tahun 1187 Hijriah Amir Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud membawa pasukan yang besar untuk menyerang Riyadh, mereka mendudukinya selama beberapa hari, menghancurkan banyak bangunan termasuk observatorium, Menara, dan membunuh banyak kaum muslimin di sana tanpa memandang kaum laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Mereka keluar dari Kota Riyadh dengan membawa harta rampasan perang dari penduduk untuk menutupi kebutuhan hidup para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab. Selain membunuh serta merampas kekayaan dan Wanita, mereka juga menghancurkan kuburan dan peninggalan-peninggalan bersejarah, melarang tawassul, isti’anah, istighatsah, meminta syafa’at, tabaruk, dan ziarah kubur. Mereka juga membakar buku-buku yang tidak sejalan dengan paham mereka, memvonis syirik, murtad, dan kafir bagi siapapun yang mengamalkan amalan-amalan yang tidak sesuai dengan ajaran Wahabi, meskipun sebenarnya tidak haram.[13]

Setelah menaklukan Riyadh Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud melancarkan serangan terhadap daerah Qashim, di dalam Unwanul Majid fi Tarikh An Najd karya Utsman bin Bisyr disebutkan: “Lalu mereka mengulangi penyergapan mereka terhadap penduduk Qashim. Ketika itu sinar matahari mulai meredup sebelum terbenam, kondisi sekitarnya pun mulai gelap-gulita, baik hamparan padang pasir di bagian utara Qashim maupun di selatannya. Tiba-tiba kaum muslimin (maksudnya Wahabi) menyerang mereka dengan trengginasnya. Pada saat mereka mendengar serbuan membabi-buta, mereka pun kocar-kacir, lari tunggang-langgang sampai orangtua lupa anaknya. Orang-orang Qashim yang kocar-kacir itu lebih mencari selamat sehingga meninggalkan harta benda mereka.  Pembantaian terus berlangsung dengan mencincang tengkuk mereka yang sebelumnya diarahkan ke dada-dada mereka. Kemudian pencincangan berpindah dari leher ke Pundak-pundak mereka, hingga akhirnya Orang Wahabi membunuhi mereka dengan cara sadis dan mengenaskan. Di situ satu Orang Wahabi membunuh dua puluh orang, dan kebanyakan dari yang mereka bunuh adalah penduduk Riyadh (yang sebelumnya sudah kabur saat Riyadh ditaklukan oleh Emirat Dar’iyyah).[1]

            Emirat Dar’iyyah kemudian melakukan ekspansi ke Hijaz, daerah barat Jazirah Arab yang di dalamnya ada dua Kota Suci Makkah dan Madinah yang masih dipegang oleh Dinasti Qatadah yang merupakan raja bawahan Turki Utsmani. Sama seperti orang-orang lain, Turki Utsmani yang merupakan kekhalifahan terakhir juga mereka sebut kafir dan musyrik. Ada yang membantah bahwa Arab Saudi dan kelompok Wahabi binaannya memberontak terhadap Turki Utsmani dan mereka mengatakan“Bahwa Nejed itu adalah wilayah tersendiri di luar kekuasaan Daulah ‘Utsmaniyyah, oleh sebab itu kekuasaan dakwah Syaikh di sana itu bukanlah sebagai sikap pembangkangan terhadapnya”.[2] Hal ini tidak benar karena ada beberapa fakta yang membantah hal itu dan terdapat beberapa fatwa dari Emirat Dar’iyyah yang mengkafirkan Turki Utsmani.

Dan pada hakikatnya sesungguhnya pernyataan ini adalah tidak benar, karena tiga hal:

Pertama: Bahwa penguasaan secara nama terhadap Nejed adalah berada di tangan Daulah ‘Utsmaniyyah, karena penguasaan itu ada di Hijaz, Yaman, Ahsa, Irak dan Syam, kharaj (upeti) para amir Nejed adalah datang kepada mereka dari sebagian wilayah-wilayah ini.[3]

Ke dua: Sesungguhnya andai kita menerima bahwa Nejed itu adalah wilayah yang berdiri sendiri, namun sesungguhnya dakwah Syaikh Muhammad telah masuk ke Hijaz, Yaman, Ahsa, kawasan teluk dan pinggiran Irak dan Syam, dan mereka menyerang Karbela dan mereka mengepung Damaskus, sedangkan semuanya tanpa diragukan lagi adalah berada di bahwa kekuasaan Daulah ‘Utsmaniyyah.

Ke tiga: Bahwa pernyataan aimmatud dakwah Wahabi adalah sepakat bahwa Daulah ‘Utsmaniyyah itu adalah Dar Harb (Negara Kafir Harbi) kecuali orang yang menyambut dakwah tauhid –sebagaimana yang akan datang penjelasannya insya Allah-.

Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menurut para pengikutnya adalah dakwah kepada tauhid yang murni dan perang terhadap syirik dan penganutnya, sedangkan di antara pelindung kemusyrikan di zaman itu adalah Daulah ‘Utsmaniyyah, sehingga dakwah ini pun mengumumkan perang terhadapnya. Dan berikut ini saya akan menuturkan ucapan-ucapan aimmatud dakwah dan para pengikutnya yang semuanya menjelaskan sikap mereka terhadap Daulah ‘Utsmaniyyah ini:

1. Al Imam Su’ud Ibnu ‘Abdil ‘Aziz bin Muhammad bin Saud (Wafat 1229 H)

Dan telah lalu saya nukilkan ucapannya tentang Daulah ‘Utsmaniyyah ini, dan di antara ucapannya juga di dalam surat yang beliau kirim kepada gubernur Baghdad: “Dan adapun ucapan kalian: ”Bagaimana dengan kebodohannya ini berani lancang membangkitkan fitnah dengan mengkafirkan kaum muslimin dan ahli kiblat serta memerangi kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir…” maka kami katakan: “Sungguh telah lalu bahwa kami tidak mengkafirkan dengan sebab dosa, namun kami hanyalah memerangi orang yang menyekutukan Allah dan menjadikan tandingan bagi-Nya yang mana dia memohon kepadanya seperti dia memohon kepada Allah, dia berkurban untuknya seperti dia berkurban untuk Allah, dia nadzar baginya seperti dia nadzar bagi Allah, dia takut kepadanya seperti dia takut kepada Allah, dia beristighatsah kepadanya di dalam kondisi susah dan di dalam memohon manfaat, dia berperang di dalam rangka melindungi berhala-berhala dan kubah-kubah yang dibangun di atas kuburan yang dijadikan berhala yang disembah selain Allah. Dan bila kalian memang benar di dalam klaim kalian bahwa kalian berada di atas millatul Islam dan mutaba’ah kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka hancurkanlah berhala-berhala itu semuanya dan ratakanlah dengan tanah serta taubatlah kalian kepada Allah dari semua syirik dan bid’ah-bid’ah itu…” terus beliau berkata: “Dan adapun bila kalian tetap berada di atas keadaan kalian ini dan kalian tidak taubat dari syirik yang kalian anut dan kalian tidak mau komitmen dengan dienullah yang mana Allah telah mengutus Rasul-Nya dengannya serta kalian tidak meninggalkan syirik, bid’ah-bid’ah dan khurafat-khurafat itu, maka kami akan senantiasa memerangi kalian sampai kalian kembali kepada agama Allah yang lurus”.[4]

 

2. Syaikh Sulaiman Ibnu ‘Abdillah Ibnu Muhammad Ibnu ‘Abdil Wahab  (Wafat 1233 H).

Sesungguhnya Turki tatkala menginvasi (menyerang balik, balasan atas serangan Emirat Dar’iyyah)negeri tauhid(emirate Dar’iyyah), maka Syaikh Sulaiman Ibnu ‘Abdillah  menulis kitab yang diberi judul –Ad Dalaail– yang menjelaskan kemurtaddan dan kekafiran orang yang membantu dan mendukung mereka walaupun dia itu tidak berada di atas ajaran mereka –di dalam syirik itu– dan di dalamnya beliau menuturkan lebih dari dua puluh dalil terhadap hal itu, serta beliau menjuluki pasukan yang menginvasi itu dengan julukan Junud Al Qubab Wasy Syirki (Pasukan Kubah dan Syirik).[5]

3. Syaikh Abdullathif Ibnu Abdirrahman Ibnu Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahab (Wafat 1289 H).

Di dalam suratnya kepada Syaikh Hamd Ibnu ‘Atiq rahimahullah perihal sikap Abdullah Ibnu Faishal Al Imam yang meminta bantuan saat itu kepada ‘Utsmaniyyin dalam melawan saudaranya Su’ud Ibnu Faishal di kala Su’ud ini mengalahkannya di dalam peperangan Jaudah kira-kira di tahun 1289 H, di mana beliau berkata di dalamnya: “Abdullah itu memiliki kepemimpinan dan bai’at yang syar’iy (sah) secara umum, kemudian nampak bagi saya setelah itu bahwa dia menyurati Daulah (‘Utsmaniyyah) yang kafir itu dan meminta bantuannya serta mendatangkannya ke negeri kaum muslimin, sehingga dia itu adalah seperti pribahasa:

Orang yang meminta perlindungan kepada ‘Amr saat tertimpa kesulitan

Adalah seperti orang yang meminta perlindungan api dari terik matahari

Maka saya menyatakan pengingkaran dan keberlepasan diri di hadapannya secara lisan dan saya berkata pedas kepadanya, dan bahwa hal ini adalah perobohan terhadap Ushulul Islam dan pencabutan terhadap akar-akarnya, serta ini dan itu, yang sekarang saya tidak ingat rincian ucapan saya itu, maka diapun menampakan taubat dan penyesalan serta memperbanyak istighfar. Dan saya menulis atas nama lisannya kepada gubernur Baghdad: Sesungguhnya Allah telah mencukupkan dan memberikan kemudahan, maka tunduklah dari kalangan penduduk Nejed dan kaum Badui yang dengannya tujuan sudah bisa tercapai insya Allah Ta’ala, dan kami tidak membutuhkan kepada pasukan Daulah (‘Utsmaniyyah), dan ucapan sejenis ini, dan dia (Abdullah) pun mengirimkan surat itu sesuai apa yang saya lihat serta dia berlepas diri dari apa yang telah terjadi… dan surat ini adalah panjang”.[6]

Dan beliau berkata di dalam surat yang lain kepada sebagian para pencari ilmu tentang masalah yang sama: “Dan adapun Al Imam Abdullah Ibnu Faishal, maka sesungguhnya saya telah menasehatinya dengan nasehat yang tegas sebagaimana yang telah lalu… dan saya ingatkan dia di dalam nasehat itu, dan mengingatkannya dengan ayat-ayat Allah dan hak-Nya, agar lebih mengedepankan keridloan Allah dan agar menjauhi musuh-musuh agama-Nya yaitu kalangan ahli ta’thil, ahli syirik dan penganut kekafiran yang nyata, dan diapun menampakkan taubat dan penyesalan…”.[7]

Dan berkata tentang masuknya orang-orang ‘Utsmaniyyin ke Jazirah (Arab) tahun 1289 H: “Barangsiapa telah mengetahui hal pokok ini –yaitu tauhid-, tentu dia mengetahui bahaya fitnah-fitnah yang terjadi di zaman sekarang ini dengan sebab kedatangan pasukan Turki, dan dia mengetahui bahwa fitnah ini bisa menghancurkan, merobohkan dan menghilangkan pondasi tauhid ini secara total, dan menyebabkan nampaknya kemusyrikan dan kekafiran yang nyata, serta meningginya bendera-bendera kekafiran yang diusungnya…”.[8]

Dan dalam hal ini beliau memiliki sya’ir:

Pimpinan kaum mendatangkan kaum Turki sebagai Negara

Untuk melakukan perbuatan orang yang angkuh terhadap millatul Islam

Mereka berjalan dengan ahli syirik dan pasrah terhadap mereka

Dan datang dengan mereka dari kalangan para pendusta dan tukang sihir

Dan jadilah kekuasaan bagi kaum Rafidlah dan kaum musyrikin

Dan berdirilah di atas mereka pasar-pasar kebejatan dan kemungkaran

Dan kembalilah berdirilah milik mereka untuk liwath dan pelacuran

Pondok-pondok yang disinggahi oleh setiap orang yang bejat

Berceceranlah ikatan agama dan terurai tali-talinya

Dan iapun disia-siakan di antara para pasukan durjana

Kalian berikan kesetiaan kepada penghuni neraka dengan kedunguan

Dan kalian orang yang paling pertama kafir terhadap agama Allah

Silahkan tanya kepada penduduk Ahsa, apakah kamu beriman

Kepada hal ini dan apa yang dimuat oleh lembaran-lembaran kebenaran[9]

Dan beliau memiliki sya’ir lainnya:

Tatkala nampak datang pasukan kesesatan seraya menghancurkan

Pilar petunjuk dan ajaran-ajaran yang penuh kebaikan

Kaum yang mabuk yang tidak sadar pula penyesalannya

Mereka kembali dengan membawa kerugian sepanjang zaman kehidupan

Kaum yang engkau lihat mereka berbondong menuju majelis

Yang di dalamnya penuh kebejatan dan segala kekafiran yang dekat

Bahkan di sana hukum kaum nashrani menjadi pemegang putusan

Dengan meninggalkan nash yang datang di dalam Al Qur’an

Maka lihatlah sungai-sungai kekafiran yang meluap-luap

Yang telah menghantam syari’at Allah Yang Maha Pemurah.[10]

4. Syaikh Hamd Ibnu ‘Atiq murid dari cucu Muhammad bin Abdul Wahab (Wafat 1301 H)

Sesungguhnya beliau rahimahullah tergolong ulama yang paling keras sikapnya terhadap Daulah ‘Utsmaniyyah ini, dan silahkan lihat surat-surat yang saling silih bergantian antara beliau dengan Syaikh Abdullathif Ibnu Abdurrahman Ibnu Hasan dalam jilid ke tujuh dari Ad Durar Assaniyyah, dan saya telah menuturkan sebagiannya. Tatkala pasukan Daulah ‘Utsmaniyyah yang kafir itu masuk ke Jazirah Arab(ingat menyerang balik Emirat Dar’iyyah), maka sebagian para pengkhianat dan orang-orang Badui yang sesat masuk ke dalam barisan mereka. Sebagaimana Syaikh Sulaiman Ibnu Abdullah menulis kitab Ad Dalaail tatkala orang-orang ‘Utsmaniyyah masuk ke Jazirah Arab di zamannya prihal hukum membantu mereka, maka Syaikh Hamd rahimahullah ta’ala menulis kitab yang beliau namai Sabilun Najah Wal Fikak Min Muwalatil Murtaddin Wal Atrak[11] perihal pengkafiran orang yang membantu pasukan yang dinamakan pasukan negara Islam ini…!!!

5. Syaikh Abdullah Ibnu Abdillathif Ibnu Abdirrahman Ibnu Hasan bin Muhammad bin Abdul wahab (Wafat 1339 H)

Beliau  ditanya tentang orang yang tidak mengkafirkan Daulah ‘Utsmaniyyah dan orang yang mengundang mereka datang menyerang kaum muslimin dan dia memilih perwalian kepada mereka dan bahwa wajib berjihad bersama mereka. Sedang orang yang lain adalah tidak berpendapat seperti itu, namun menurut dia bahwa Daulah ‘Utsmaniyyah ini dan orang yang mengundangnya adalah bughat dan tidak halal dari mereka kecuali apa yang halal dari bughat serta bahwa apa yang dighanimah dari orang-orang arab Badui yang bergabung dengan mereka adalah haram. Maka Syaikh menjawab: “Orang yang tidak mengetahui kekafiran daulah ini dan dia tidak membedakannya dengan bughat dari kalangan kaum muslimin, maka dia itu tidak mengetahui makna laa ilaaha illallaah. Kemudian bila beserta itu semua dia meyakini bahwa ini adalah daulah adalah kaum muslimin, maka dia itu lebih dasyat dan lebih parah, dan inilah keraguan prihal kekafiran orang yang telah kafir kepada Allah dan menyekutukan-Nya, sedangkan orang yang mengundang mereka dan membantu mereka terhadap kaum muslimin dengan bentuk bantuan apa saja, maka ia adalah kemurtaddan yang nyata…”[12]

6. Syaikh Sulaiman Ibnu Sahman (Wafat 1349 H).

Beliau berkata di dalam sya’irnya:

Apa yang dikatakan tentang Turki prihal sifat kekafiran mereka

Maka itu benar, mereka tergolong yang paling kafir di dalam semua ajaran

Permusuhan dan kejahatan mereka kepada kaum muslimin

Adalah melambung dalam kesesatan di atas semua agama

Barangsiapa tawalli kepada kaum kafir (Turki Utsmani kafir menurut mereka)

maka dia seperti mereka

Dan tak diragukan pengkafirannya menurut orang yang memahami

Dan siapa yang kadang muwalah dan cenderung kepada mereka

Maka tak diragukan kefasiqannya sedang dia dalam ketakutan.[1]

7. Syaikh Abdullah Ibnu Muhammad Ibnu Sulaim  (Wafat 1351 H).

Beliau  duduk di sore hari (di pojok Mesjid Jami) menunggu shalat Maghrib, sedangkan di shaf terdepan ada orang-orang yang tidak mengetahui keberadaan dan kehadiran Syaikh di sana, maka salah seorang dari mereka berbicara kepada kawannya seraya berkata: “Telah sampai berita kepada kami bahwa Daulah ‘Utsmaniyyah telah jaya dan panji-panjinya telah menang…”, dan diapun mulai memuji daulah itu. Kemudian tatkala Syaikh telah selesai melaksanakan shalat dengan orang-orang, maka beliau memberikan wejangan dengan wejangan yang menyentuh, dan beliau mencela ‘Utsmaniyyin dan mencela orang yang mencintai dan memuji mereka: Wajib atas orang yang telah mengatakan ucapan itu untuk bertaubat dan menyesal, dan dien macam apa bagi orang yang mencintai orang-orang kafir dan dia senang dengan kejayaan dan kemajuan mereka?! Dan bila orang muslim tidak menisbatkan dirinya kepada kaum muslimin maka kepada siapa dia menisbatkan dirinya?”[2] ]

8. Syaikh Husen Ibnu ‘Ali Ibnu Nafisah[[3]] berkata di dalam sya’irnya:

Hai Negara Turki semoga tidak kembali kejayaan kalian

Atas kami dan semoga kalian tidak kembali di negeri kami

Kalian berkuasa, terus kalian malah menyelisihi jalan Nabi kami

Dan kalian legalkan segala kemungkaran dan minuman khamr

Kalian jadikan syi’ar kaum musyrikin sebagai syi’ar kalian

Maka kalian lebih cepat menuju kemusyrikan daripada mereka

Kalian jadikan ajaran nashrani sebagai acuan

Maka kotoran di atas kotoran besar kalian memikulnya

Enyahlah kalian, binasalah kalian dan rugilah kalian

Dan juga orang yang bergabung dan bersanding dengan kalian.[[4]]

9. Syaikh Abdurrahman Ibnu Abdillathif Ibnu Abdillah Ibnu Abdillathif Alu Asy Syaikh[5]  berkata “Dan sudah maklum bahwa Daulah Turkiyyah[[6]] itu adalah negara watsaniyyah (paganisme) yang menganut syirik  dan bid’ah-bid’ah, serta mereka melindunginya”.[[7]]

Jelaslah dari uraian yang lalu bahwa aimmah(pemimpin) dakwah itu(dakwah Wahabi) memandang kekafiran Daulah ‘Utsmaniyyah dan bahwa ia adalah Darul Harbi. Dan ini adalah nampak jelas –yaitu kekafiran Daulah ‘Utsmaniyyah– dan saya tidak meyakini seorangpun yang membaca atau mendengar apa yang mereka anut berupa kemusyrikan atau dia membaca apa yang dikatakan oleh para aimmah dakwah dalam sikapnya terhadap daulah ini, dan masih tersisa di dalam dirinya keraguan terhadap status Daulah ‘Utsmaniyyah ini. Dan kalau dia masih ragu terhadap vonis ini maka dia tidak terlepas dari salah satu dari tiga hal:

  1. Dia menuduh bodoh aimmah(pemimpin ) dakwah(dakwah wahabi ).
  2. Tauhid(versi wahabi) baginya adalah nomor dua.
  3. Atau dia itu orang yang mengingkari realita yang dia ketahui.

Begitulah fatwa-fatwa Wahabi yang mengkafirkan Turki Utsmani. Kami memohon kepada Allah keikhlasan, mutaba’ah, ilmu dan amal. Dan semoga shalawat dan salam Allah limpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya serta para sahabatanya. Ad Daulah Al ‘Utsmaniyyah 1/20 dan ‘Unwanul Majdi 1/97 dan yang sesudahnya.

Mereka masuk ke Hijaz lewat Kota Thaif yang ada di sebelah selatan Makkah, karena memang di gurun pasir hanya ada jalur-jalur tertentu dan jalur untuk Hijaz dari dan ke Najid di zaman dulu salah satunya adalah melalui Thaif, jalur-jalur ini ada karena orang harus melewati daerah yang ada sumber airnya, tidak bisa sembarangan pergi ke arah yang dituju. Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan menuturkan “Ketika memasuki Thaif, Wahabi melakukan pembunuhan secara menyeluruh, termasuk tua renta, kanak-kanak, tokoh masyarakat dan pemimpinnya, membunuh golongan syarif (ahli bait), dan rakyat biasa. Mereka menyembelih hidup-hidup bayi-bayi yang masih ada di pangkuan ibunya, membunuh Umat Islam di dalam rumah-rumah dan kedai-kedai kecil. Apabila mereka mendapati satu rumah jamaah Umat Islam mengadakan pengajian Al Qur’an, maka mereka bersegera untuk membunuhnya sehingga tiada lagi yang tinggal di kalangan mereka. Kemudian mereka masuk ke masjid-masjid. Di situ mereka membunuhi orang-orang yang sedang rukuk atau sujud, merampas uang dan harta mereka. Mereka merampas harta Umat Islam, lalu mereka membagikannya di antara mereka seperti membagikan ghanimah dari harta orang-orang Kafir.[8]

            Setelah menaklukan Thaif, mereka menaklukan Makkah di Tahun 1803-1804 Masehi atau 1218-1219 Hijriah, tetapi Utsman bin Bisyr penulis Unwan Al Majid Fi Tarikh An Najd yang juga seorang Wahabi mengatakan di dalam kitabnya bahwa kejadian itu terjadi pada 1220 Hijriah, anggap saja kita ambil titik tengah, Wahabi sudah berkali-kali menyerang Makkah namun tidak berhasil seperti kata Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan di dalam Kitabnya Addurarus Saniyah Fii Arraddu ‘Ala Wahabiyah namun baru benar-benar bisa menaklukan Kota Makkah pada tahun 1220 Hijriah atau 1805 Masehi.

Pada bulab Muharram 1220 Hijirah, bertepatan dengan 1805 Masehi, Wahabi membantai ribuan jamaah haji yang baru saja menunaikan ibadah Haji.  Kota Makkah dikepung sampai kelaparan sehingga banyak penduduknya yang meninggal, meskipun bukan pembantaian secara langsung namun Tindakan dari Amir Dar’iyyah, Saud Al Kabir bin Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud itu menyebabkan kematian banyak orang. Mereka juga menjual daging-daging keledai, daging anjing, dan bangkai kepada Umat Islam yang mereka kepung sampai kelaparan di Makkah dengan harga yang sangat tinggi.[9] Setelah menguasai Kota Makkah, pada akhir bulan Dzulqa’dah mereka juga menaklukan Kota Madinah, di sana mereka mengambil semua benda yang ada di rumah(sekarang makam) Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, termasuk lampu dan tempat air yang terbuat dari emas dan perak yang dihiasi permata dan zamrud yang tidak ternilai harganya. Di sana mereka melakukan beberapa perbuatan sadis dan keji, sehingga para ulama melarikan diri. Kemudian mereka menghancurkan semua kubah di pemakaman Baqi. Mereka juga memecahkan lampu-lampu Kota Madinah. Kota Madinah akhirnya ditinggalkan dalam kondisi sepi selama beberapa hari, tanpa azan, iqamah, dan shalat.[10]

Arab Saudi modern baru dapat menguasai dua kota suci[11] setelah Turki Utsmani hancur pasca Perang Dunia Pertama. Pada awalnya Turki Utsmani berhasil menahan serangan Inggris di Gaza, Galipoli, dan Kutt al Amara di Irak dekat reruntuhan ibukota Persia al Madain dan Baghdad, Inggris yang gagal menaklukan Turki Utsmani pada tiga pertempuran tersebut akhirnya menghasut Syarif Makkah Raja Hijaz penguasa dua kota suci sebelum Arab Saudi untuk memimpin pemberontakan Arab melawan Turki Utsmani, keadaan menjadi berbalik setelah pemberontakan Arab dan Turki Utsmani mulai terdesak.  Arab Saudi biasanya dianggap tidak ikut memberontak, namun anggapan itu salah, meskipun tidak berhadapan langsung dengan Turki Utsmani seperti Raja Hijaz, Arab Saudi berhadap dengan Bani Rasyid[12], suku Arab yang masih setia pada Turki Utsmani di Najd bagian utara, yaitu di Ha’il.[13] Arab Saudi memiliki perjanjian dengan Inggris yaitu Perjanjian Darin pada tahun 1915 M yang intinya Arab Saudi akan didukung oleh Inggris selama tidak menganggu ambisi Inggris untuk menjajah Irak dan Syam Raya.[14]

Sedangkan untuk Syarif Makkah, Inggris berjanji akan mendukung Syarif Makkah menjadi raja seluruh Arab tetapi Inggris secara diam-diam sudah membuat perjanjian dengan Perancis yang disebut sebagai perjanjian Sykes-Picot yang membagi-bagi Timur Tengah menjadi miliki Perancis dan Inggris, Suriah dan Lebanon menjadi milik Perancis, Irak, Kuwait, dan Jordania menjadi milik Inggris, sedangkan Palestina diberikan kepada Orang Yahudi lewat Deklarasi Balfour untuk dijadikan Negara Israel.  Syarif Makkah akhirnya sadar bahwa ia ditipu oleh Inggris, anaknya memberontak melawan Inggris di Damaskus ketika sadar telah ditipu namun kalah karena kekuatannya sangat jauh dari Inggris.  Inggris yang mulai terganggu oleh perlawanan Syarif Makkah kemudian mendukung Arab Saudi yang saat itu masih hanya menguasai Najd untuk menyerang Hijaz. Arab Saudi juga menghancurkan pasukan Badui Al Ikhwan[15] (berbeda dari Ikhwanul Muslimin di Mesir) yang selama ini mendukung ekspansinya, sebab pemimpin Al Ikhwan ngotot ingin menyerang Irak yang saat itu dikuasai oleh Inggris. Tentu saja Ibnu Saud tidak mau melawan Inggris karena terikat Perjanjian Darin.[16]

Arab Saudi akhirnya bisa menguasai Makkah[17] dan Madinah beserta seluruh Hijaz, Dinasti Syarif Makkah kemudian menjadi penguasa Yordania sampai sekarang. Baru setelah Syarif Makkah diusir dari Makkah inilah Arab Saudi bisa menerapkan ajaran Wahabi di dua Kota Suci,[18] Arab Saudi menggunakan kekuasaannya untuk membuat masjid-masjid dan madrasah-madrasah di kedua kota suci hanya mengajarkan ajaran Wahabi. Yang artinya Makkah dan Madinah menjadi Wahabi bukan dengan perdebatan ilmiah tetapi karena paksaan kekuasaan. Jadi sungguh aneh jika Orang Wahabi mengatakan bahwa Makkah dan Madinah senantiasa dijaga oleh Allah SWT dari ajaran non-Wahabi(bid’ah) menurut mereka karena kenyataannya selama ratusan tahun Makkah dan Madinah tidak berpaham Wahabi.Ini sangat ironis jika dibandingkan dengan reaksi mereka ketika pengajian mereka dibubarkan.

Selain klaim bahwa Makkah dan Madinah itu identik dengan salafi dan Wahabi salah secara historis karena kenyataannya Wahabi baru mengusai dua Kota Suci itu pada tahun 1920an. Klaim bahwa Makkah dan Madinah dijaga Allah SWT dari non-Wahabi sekarang juga salah, karena di dalam Kota Madinah terdapat suatu komunitas Syiah yang Bernama Nakhawilah. Nakhawila (bahasa Arab: النخاولة) adalah komunitas pribumi Syiah Dua Belas Hijazi yang secara tradisional tinggal di dan sekitar kota Madinah di Arab Saudi, berjumlah sekitar 32.000 — meskipun tidak ada angka resmi atau tertentu yang tersedia. Di Arab Saudi modern, Nakhawila secara resmi dikenal sebagai al-nakhliyūn atau al-nakhliya (tunggal: nakhli)Asal usul nama Nakhawila (tunggal: nakhwali) itu tidak jelas[19] namun, kemungkinan besar berasal dari kata Arab nakhl, nakhla atau nakhil (kurma) karena komunitas Nakhawila dikatakan telah bekerja di kebun kurma di sekitar Madinah.[20] Selama beberapa dekade, komunitas Nakhawila di Madinah dipimpin oleh Sheikh Muhammad Ali al-Amri, seorang ahli hukum Syiah yang belajar di Najaf di bawah bimbingan beberapa ulama terkemuka, hingga kematiannya pada 24 Januari 2011. Putra Al-Amri, Hasyim, melanjutkan posisi memimpin doa ayahnya (Imam) di masjid Syiah pertama Madinah, yang terletak di pertanian ayahnya. Kata ini diyakini pertama kali digunakan selama pemerintahan Ottoman di Hijaz dan pertama kali dicatat oleh Abu Salim al-Ayyashi selama tinggal 1662-63 di Madinah.[21] Asal-usul kelompok Syiah ini juga tidak jelas.Selama pertengahan 1970-an, Nakhawila terlibat dalam gangguan komunal yang serius di Madinah[22] namun Sebagian besar anggota komunitas Nakhawila mengklaim keturunan dari suku-suku Arab Madinah asli seperti Khazraj atau Hasyimit, sementara yang lain diklaim sebagai keturunan budak Afrika kulit hitam yang dikatakan telah dibebaskan oleh Hasan ibn Ali dan diperintahkan untuk bekerja di ladangnya. Kepercayaan lain termasuk bahwa mereka adalah keturunan budak Afrika, bahwa mereka berasal dari Arab timur, Iran.[23] atau berasal dari antara sisa-sisa Syiah Mesir pasca-Fatimiyah.[24] Selama tinggal di Madinah, Abu Salim al-Ayyashi menggambarkan kebiasaan Nakhawila yang unik di mana "hampir setiap hari Kamis" mereka akan mengunjungi tempat suci Imam Syiah Ismail ibn Jafar dan terlibat dalam berbagai kegiatan, seperti pesta, sunat anak laki-laki dan ziyarah.[25] Peziarah Syiah seperti itu sering menggunakan rumah Nakhawila untuk tinggal dan melakukan ritual Syiah, seperti berkabung para Imam, di luar pandangan (pengawasan) Sunni di kota.[26] Setelah jatuhnya Madinah selama penaklukan Saudi atas Hijaz, Nakhawila menghancurkan makam pemakaman Al-Baqi atas perintah qadi (hakim) Wahhabi, Ibn Bulayhid.[27]



[1] Diwan Ibnu Sahman hal 191.

[2] Tadzkirah Ulin Nuha 3/275.

[3] Termasuk orang yang sejaman dengan Syaikh Sulaiman Ibnu Sahman

[4]  Tadzkirah Ulin Nuha 2/149, dan ada di dalam sya’ir Shalih Ibnu Sullam yang di dalamnya ada bela sungkawa terhadap Syaikh Sulaiman Ibnu Sahman:

Di dalamnya saya jelaskan status Hukum Turki dan kekafiran mereka

Juga hukum tawalliy dan muwalah kepada negara-negara itu

Tadzkirah Ulin Nuha 3/254.

[5] Alu Asy Syaikh adalah nama keluarga atau marga untuk keturunan Muhammad bin Abdul Wahab. Meskipun Muhammad bin Abdul Wahab pada dasarnya bermarga Attamimi namun keturunannya memiliki marga tersendiri yaitu Alu Asy Syaikh atau Alu Syaikh yang artinya keturuan dari sang syaikh. Yang dimaksud sang syaikh adalah Muhammad bin Abdul Wahab.

[6] Sebagian ulama dakwah tauhid (maksudnya Wahabi)berkata: “Maka siapa yang tidak mengkafirkan para pelaku syirik dari kalangan negara Turki dan ‘Ubbadul Qubur(artinya penyembah kuburan, tuduhan dari Wahabi kepada non Wahabi) seperti penduduk Makkah(lihat dulu di zaman itu Makkah tidak dipegang oleh Wahabi) dan yang lainnya yang beribadah kepada orang-orang shaleh, dia berpaling dari Tauhidullah kepada syirik dan dia merubah Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dengan bid’ah, maka dia kafir seperti mereka meskipun membenci ajaran mereka, tidak menyukai mereka dan mencintai Islam dan kaum muslimin, karena orang yang tidak mengkafirkan para pelaku syirik adalah tidak membenarkan Al Qur’an, sebab Al Qur’an telah mengkafirkan para pelaku syirik dan memerintahkan untuk mengkafirkan mereka, memusuhinya dan memeranginya” [Ad Durar As Saniyyah : 9/291] (pent).

[7] Ulama Najd karyanya hal 56.

[8]  Ahmad bin Zaini Dahlan. Umara al Balad al Haram, ad Darul Muttahidan Lin Nasyr. Halaman 297-298.

[9] Utsman bin Bisyr. Unwan Al Majid Fi Tarikh An Najd.jilid 1 halaman 135-137.

[10] Utsman bin Bisyr.  Unwan Al Majid Fi Tarikh An Najd,jilid 1 Halaman 135.

[19] Werner Ende (Nov 1997). "The Nakhāwila, a Shite Community in Medina Past and Present". Die Welt des Islams. Brill. 37 (3): 316–18

[20] Maréchal, Brigitte; Zemni, Sami, eds. (2013). The Dynamics of Sunni-Shia Relationships: Doctrine, Transnationalism, Intellectuals and the Media. Hurst Publishers. p. 283. ISBN 9781849042178.

[21] Werner Ende (Nov 1997). "The Nakhāwila, a Shite Community in Medina Past and Present". Die Welt des Islams. Brill. 37 (3): 293.

[22] Hamilton Alexander Rosskeen Gibb (1954). The Encyclopaedia of Islam. Brill Archive. p. 999

[23] Werner Ende (Nov 1997). "The Nakhāwila, a Shite Community in Medina Past and Present". Die Welt des Islams. Brill. 37 (3): 273.

[24] Werner Ende (Nov 1997). "The Nakhāwila, a Shite Community in Medina Past and Present". Die Welt des Islams. Brill. 37 (3): 273.

[25] Werner Ende (Nov 1997). "The Nakhāwila, a Shite Community in Medina Past and Present". Die Welt des Islams. Brill. 37 (3): 294.

[26]  Werner Ende (Nov 1997). "The Nakhāwila, a Shite Community in Medina Past and Present". Die Welt des Islams. Brill. 37 (3): 330.

[27] Werner Ende (Nov 1997). "The Nakhāwila, a Shite Community in Medina Past and Present". Die Welt des Islams. Brill. 37 (3): 318.



[1] Utsman bin Bisyr.Unwanul Majid fi Tarikh An Najd. Jilid 1, halaman 119.

[2] Da-aawa Al Munawi-iin 233-240.

[3] Ad Daulah Al ‘Utsmaniyyah 1/20 dan ‘Unwanul Majdi 1/97 dan yang sesudahnya

[4] Ad Durar Assaniyyah 7/397.

[5] Ad Durar Assaniyyah 7/57-69.

[6] Ad Durar Assaniyyah 7/184, Tadzkirah Ulin Nuha Wal ‘Irfan tentang kejadian tahun 1289 H dari jilid pertama.

[7] Majmu’atur Rasaail 2/69.

[8] Ad Durar Assaniyyah 8/242. Ad Durar Assaniyyah 7/148-152.

[9]  Ad Durar Assaniyyah 7/187-191, (Tadzkirah Ulin Nuha) 1/198-202, dan beliau secara khususkan sebutkan Ahsa karena ‘Utsmaniyyin setelah Imam Abdullah meminta pertolongan mereka, mereka masuk ke Ahsa dan menguasainya terlebih dahulu. Dan lihat rincian hal itu di dalam kejadian-kejadian tahun 1289 H dari kitab Tadzkirah Ulin Nuha 1/197, dari ucapannya (Penuturan apa yang terjadi dan apa yang muncul dari sebab kedatangan pasukan ‘Utsmaniyyah dan bala tentara Turki).

[10] Ad Durar 192-194, Tadzkirah 1/203-206, dan yang sangat aneh bahwa ini adalah sifat pasukan ‘Utsmaniyyah tahun 1289 H, sedangkan di dalam Tarikh Al Jibritiy juga ada sifat yang sama bagi pasukan yang masuk ke Jazirah kira-kira tahun 1226 H, di mana dia berkata di dalam Tarikh-nya 3/341: (Dan telah berkata kepada saya sebagian pimpinan mereka dari kalangan yang mengklaim kesalihan dan sikap wara’: Dari mana kita akan mendapatkan kemenangan sedangkan mayoritas pasukan kami adalah berada di luar millah dan di tengah mereka ada orang yang tidak menganut agama apapun, juga menyertai kami kotak-kotak minuman keras, di tengah kami tidak didengar ‘adzan, dan tidak ditegakkan di dalamnya satu kewajiban shalatpun, serta tidak terlintas di benak mereka syi’ar-syi’ar agama ini………) selesai.

 

[11]  Kitab ini masyhur dengan nama Sabilun Najah Wal Fikak Min Muwalatil Murtaddin Wa Ahlil Isyrak sebagai pengganti Sabilun Najah Wal Fikak Min Muwalatil Murtaddin Wal Atrak, namun yang benar wallahu a’lam adalah apa yang saya sebutkan karena beberapa sebab:

1.       Bahwa naskah asli adalah dengan judul ini, dan ia itu ada di zaman Syaikh. Lihat Sabilun Najah dengan tahqiq Al Furayyan hal 12.

2.       2. Bahwa Syaikh sendiri menyebutkan nama ini di dalam khutbah kitabnya. Sabilun Najah hal 24.

3.       3. Bahwa waktu penyusunan mengisyaratkan kepada penamaan ini, seperti ucapannya hal 35: (Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim) (Al Maidah: 51), dan begitu juga orang yang tawalli kepada orang-orang Turki maka dia itu Turki juga) Wallahu a’lam.

[12] Ad Durarus Saniyah



[1] Utsman bin Bisyr. Unwanul Majid fi Tarikh An Njad. Jilid 1. Halaman 23 dan Ibrahim bin Ghunnam.Tarikh An Najd. Jilid 2. Halaman 57.

[2] Wikipedia Bahasa Inggris Tentang Uyaynah. Uyayna - Wikipedia

[3] Tarikh Mamlakah

[4] Muhammad bin Abdul Wahab, dkk. Ad Durarus Saniyah.Jilid 8. Halaman. 57.

[5] Muhammad bin Abdul Wahab, dkk. Ad Durarus Saniyah.Jilid 8. Halaman.57.

[7] Muhammad bin Abdul Wahab, dkk. Ad Durarus Saniyah.Jilid 10 Halaman. 113.

[9] Muhammad bin Abdul Wahab, dkk. Ad Durarus Saniyah.Jilid 10 Halaman. 113.

[10]Husain bin Ghunnam. Raudlatul Afkar hal 5 dan sesudahnya.

[11] Utsman bin Bisyr. Unwanul Majid fi Tarikh An Njad. Jilid 1. Halaman 14-15.

[12] Utsman bin Bisyr. Unwanul Majid fi Tarikh An Njad. Jilid 1. Halaman.91.



[1] Utsman bin Bisyr.Unwanul Majid fi Tarikh An Najd.jilid 1. Halaman.12.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Abad kemunduran yang memprihatinkan Turki Ustmani, Mesir, dan Arab Saudi : pesan lintas zaman dari kejadian di masa lalu sebagai pelajaran untuk orang sekarang

Pada abad 18 Umat Islam mengalami kemunduran,Turki Ustmani sudah bukan lagi kekuatsn besar yang diperhitungkan, militernya sudah ketinggalan zaman karena adanya oknum-oknum yang menolak modernisasi, alasannya adalah menolak teknologi kafir. orang zaman itu tidsk bisa membedakan budaya dan teknologi ketika ada rencana modernisasi senjata mereka menolak dengan alasan teknologi kafir , bEgitu juga ketika muncul teknologi mesin cetak, mereka menolak dengsn alasan itu teknologi kafir dan berbahaya, padahal alasan itu dikrluarkan karena para tukang tulis buku(maaf Bahasa saya terlalu kasar) menolak mesin cetak karena jika ada mesin cetsk merekq akan kalah bersaing, merrkw itu prang terpelajar dan termasuk sedikit orsng yang biss menulis dengan baik , namun karena menolak teknologi akibat kepentingan pribadi yang bersifst singskt saya sebut mereka sebagai tukang tulis buku, tentuc saja ada yang tidak setuju seperti channrl al muqadimah. tspi biarlah saya ada dsn yang tidak setuju ada , saya t...

Andranik Ozanian dan kawan kawan: tokoh-kokoh pemberontak Armenia yang menjadi salah satu antagonis dalam Payithat Abdul Hamid II

saya memang cukup mengagumi Turki Utsmani sebagai kerajaan Islam yang besar, namun saya tidak menutup mata kalau ada cela atau aib pada Turki Utsmani, begitu juga dengan kerajaan-kerajaan Islam lainnya, karena kerajaan dan raja Islam seperti Amir, Sultan, bahkan Khalifah itu tidak ma'sum atau dijaga oleh Allah Subhanallahu Wata'ala dari dosa, bahkan khulafaur Rasyidin juga tidak ma'sum, yang ma'sum adalah rasulullah shalallahu alaihi wassalam.pengetahuan saya akan cela atau aib yang ada pada kerajaan-kerajaan Islam bukanlah sesuatu yang membuat saya ragu terhadap ajaran Islam karena kerajaan Islam sebagai mana yang saya sebutkan sebelumnya tidak ma'sum dan bisa memiliki kesalahan, yang salah adalah raja dan pemerintahannya bukan Islamnya. apabila saya menceritakan tentang aib tesebut juga bukan untuk melemahkan semangat beragama namun untuk mengingatkan kalau orang di zaman dahulu pernah berbuat salah dan jangan sampai kita mengulangi kesalahn itu, jika anda hanya ...

Pengepungan Acre Pada Perang Salib Ketiga: Sejarah Asli Kampanye Age of Empire II : The Lion and Demon

Para pengguna internet yang sudah punya komputer sejak tahun 1990an mungkin sudah tidak asing lagi dengan permainan strategi Age Of Empire II terutama seri pertamanya Age of Kings, yang mana di dalam permainan itu terdapat mode ( campaign )kampanye,skenario yang berdasarkan pada sejarah asli. Salah satu skenario kampanye yang ada adalah skenario Saladin atau Shalahudin Al Ayyubi. Skenario itu terdiri atas enam bagian dan yang terakhir adalah The Lion and Demon yang berarti "Sang Singa dan Sang Setan". Skenario itu didasarkan pada pengepungan Kota Acre, sebuah kota pelabuhan di Palestina oleh pasukan Salib gabungan dari pasukan Salib Inggris yang dipimpin oleh Richard the Lion Heart dan Pasukan Salib Perancis yang dipimpin oleh Louis Augustus. https://youtu.be/f2VDzjcIocY?si=TFMq-4u-pxN03yxu Pada skenario ini pemain diharuskan untuk membagun sebuah wonder (keajaiban dunia) dan mempertahankannya agar jangan sampai hancur sampai waktu timer wonder habis, pemenang akan menang a...