Kemarin banyak orang membicarakan mitos tahun kembar tahun 2020, pembicaraan itu berdasarkan pada mitos Jawa soal tahun kembar, banyak yang mengatakan bahwa di tahun kembar terjadi sesuatu yang besar, dan pada tahun lalu telah terjadi Pagebluk Corona, saya menemukan video milik kanal youtube Jagad Mandala tentang kejadian-kejadian di Tanah Jawa pada tahun-tahun kembar sebelumnya , saya baru saja juga melihat video di kanal youtube milik TV One yang menceritakan letusan Gunung Semeru pada 1818, saya jadi teringat petaka berdarah di 1818 namun di luar Kepulauan Nusantara. Petaka ini terjadi di Tanah Arab dan Istambul.
Jika pembaca sudah membaca kisah-kisah lain di blog ini pembaca sudah bisa menebak kisah apa yang saya maksud sebagai petaka di tahun kembar 1818. Yaitu tragedi yang memicu dendam antara Arab Saudi dan Turki Ustmani , yaitu serangan terhadap Dir'iyyah dan.....
Pemancungan Abdullah bin Saud Amir Emirat Dir'iyyah atau negara Saudi pertama beserta delapan belas orang saudaranya di Istambul . Situs-situs milik kelompok yang sepaham dengan Arab Saudi mengisahkan pemancungan dan serangan itu sebagai kekejian luar biasa dari Ibrahim Pasya anak Muhammad Ali Pasya, Ibrahim Pasya banyak membunuh orang-orang Arab yang tidak mau membantunya melawan Bani Saud, Kota Dir'iyyah "dirayah" oleh pasukan Mesir dan Albania pimpinan Muhammad Ali dan Ibrahim Pasya , situs-situs kelompok yang sepaham dengan Arab Saudi juga menyebutkan banyak anak-anak kecil dan wanita dari kelompok mereka dijual sebagai budak oleh pasukan Mesir meskipun mereka adalah muslim .
Pemancungan itupun dilakukan dengan cara yang menghina, mereka yang dipancung diarak dandihina-hina dulu, setelah dipancung jenazah mereka dipamerkan, salah satu situs kelompok ISIS ( blog tahun 2011 namun nanti pemiliknya Maman Abdurrahman gabung dengan ISIS) 😐 mengisahkan bahwa kepala orang-orang yang dipancung itu ditaruh di bawah ketiak jenazah masing-masing seolah mengempit barang sebagai penghinaan, tentu saya tidak langsung percaya pada blog "sableng" milik orang yang nantinya bergabung dengan ISIS . Namun tentu saja saling bunuh di antara umat Islam itu memprihatinkan apalagi jika sampai seperti itu. Versi kepala dibuat seolah dikempit di ketiak itu jarang saya temui , tapi cerita bahwa kepala para jenazah itu dibuang ke selat bosphorus sudah sering saya baca.
Penyerangan itu digambarkan dengan versi yang berbeda-beda , situs Secercah Faidah dari al-Qawa’id al-Arba’ (bagian 2) – Tauhidfirst! Yang sepaham dengan Arab Saudi menyenutkan bahwa Ibrahim Pasya mengkhianati perjanjian damai yang sudah dibuat sebelumnya saat Abdullah bin Saud melakuakn Rihlah atau perjalanan jauh , sementara buku karya Buya Hamka yang berjudul sejarah Umat Islam dari Pra kenabian sampai Islam di Nusantara menyebutkan bahwa Abdullah bin Saud tidak kunjung datang untuk menghadap Muhammad Ali Pasya di Mesir maupun Sultan Mahmud II di Istambul, padahal dalam perjanjian damai antara Abdullah bin Saud dan Tusun Pasya Abdullah harus segera menghadap ke Istambul dan Cairo. hal ini membuat Ibrahim Pasya dikirim oleh Muhammad Ali Pasya untuk menyerang Dir'iyyah yang dianggap ingkar janji. Perjanjian sebelumnya dibuat oleh Tusun Pasya dan Abdullah bin Saud 🤔 Tusun Pasya adalah anak Muhammad Ali Pasya dan kakak Ibrahim Pasya
https://books.google.co.id/books?id=WWjeDwAAQBAJ&pg=PA290&lpg=PA290&dq=daham+ibn+dawwas&source=bl&ots=jpfShgFGYp&sig=ACfU3U2gvAy51Uaqafjx8K6V8Toy6JtZRA&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwj_2a-1vPLzAhUV4XMBHTCYDqIQ6AF6BAgQEAI#v=onepage&q=daham%20ibn%20dawwas&f=fals
Link buku Buya Hamka di Google docs.
Saya tidak tahu manakah yang benar, apakah Abdullah bin Saud memang beritikad buruk tidak mau datang menghadap seperti di perjanjian damai , mungkin ia curiga jika menghadap akan mendapatkan masalah, atau dia memang terlambat menghadap seperti di buku buya hamka, situs tauhidfirst di atas menyatakan bahwa Turki Ustmani mengkhianati pernjanjian damai ketika Abdullah sedang melakukan Rihlah, namun tidak disebutkan itu rihlah ke mana, apakah rihlah dalam rangka menghadap pada Muhammad Ali Pasya di Mesir untuk selanjutnya menghadap kepada Sultan Mahmud II di Istambul atau Rihlah ke tempt lain karena memang melanggar janji, yang akan lebih menyedihkan adalah apabila serangan itu memang karena Abdullah bin Saud terlambat menghadap dan Mesir berprasangka buruk . Situasi seperti itu juga cukup sulit bagi Abdullah bin Saud karena kita tahu dalam sejarah pengkhianatan terhadap orang yang menghadap kerap terjadi , kita tahu Pangeran Mustafa anak Sultan Sulaiman dihukum mati meskipun datanf menghadap, jika tidak menghadap ia akan dicap sebagai pemberontak, tidak usah jauh-jauh di Jawa kita punya kisah Ki Ageng Mangir dan Perang Bubat . Jika Abdullah memang beritikad buruk apa tidak ada penyelesaian yang lebih baik🤔 .
Tentu saja Bani Saud bukan manusia suci, serangan mereka ke kekuasaan Ustmanilah penyebab serangan balik Ustmani dan hukuman pancung tetsebut
Komentar
Posting Komentar