Mungkin Pembaca yang pernah kenal dengan angkatan "sepuh" atau mungkin malah masih terbilang angkatan "sepuh" mengenal kota Makkah sebagai "Negeri Makkah" alias kota Makkah sebagai negeri tersendiri dan bukan bagian dari Saudi Arabia, mungkin pembaca yang tidak tahu mengapa ada sebutan seperti itu perlu membaca tulisan ini, negara yang sekarang dikenal sebagai Arab Saudi adalah negara yang baru berdiri setelah Perang Dunia Pertama, sebelumnya Makkah memang merupakan negara yang berdiri sendiri dibawah kekuasaan Syarif Makkah, Syarif Makkah adalah Amir yang berkuasa dalam negara yang berbentuk Imarah atau Emirat, gelarnya adalah Amir, namun karena Amir Makkah ini keturunan Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib lantas disebut sebagai Syarif Makkah, Syarif adalah gelar untuk keturunan dari Hasan bin Ali, sedangkan untuk Husain bin Ali gelarnya adalah Sayyid, namun di Indonesia kedua gelar ini terutupi oleh gelar Habib, Habib adalah gelar dari Yaman untuk keturunan Ali bin Abi Thalib yang juga menjadi ulama, bukan semua keturunan Nabi Muhammad digelari Habib, misalnya ada keturunan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam yang berprofesi sebagai musisi Rock, maka gelarnya hanya Sayyid bukan Habib, karena salah kaprah itu sekarang sebagian besar keturunan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam dan Ali bin Abi Thalib disebut habib, selain di Indonesia sangat mudah untuk mendapatkan gelar sebagai ulama.
| Bendera Syarif Makkah https://en.wikipedia.org/wiki/Hashemites#/media/File:Hashmite_Banner.png |
Kembali lagi pada kerajaan Syarif Makkah di Hijaz, karena Amirnya juga bergelar Syarif, maka Syarif juga menjadi gelar untuk Amir Makkah dari dinasti ini. Dinasti ini disebut sebagai Dinasti Qatadah, atau Bani Qatadah. Nama ini diambil dari pendiri Dinastinya yaitu Qatadah bin Idris Al Hasani, Al Alawi , Al Yanbu'i. beliau merupakan seorang pengaut Syiah Zaidiyah, salah satu cabang tertua Syiah yang menisbatkan namanya kepada Imam Zaid bin Ali Zainal Abidin, dan juga merupakan Syiah yang paling dekat dengan Ahlussunah Wal Jamaah, pahamnya bukan Syiah Ghulat (ekstrem) yang mengkultuskan Ali apalagi sampai mempertuhan Ali, dan bukan pula Syiah Rafidhah ( artinya menolak dengan keras)yang melaknat tiga Khalifah pertama Khulafaur Rasyidin yaitu Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Ustman bin Affan Radhiyallahu Anhum, namun hanya mengutamakan Khalifah Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhum diatas semua sahabat, hanya itulah tingkat kesyiahan syiah Zaidiyah, beliau menguasai Makkah pada masa kekuasaan Dinasti Syiah Fathimiyah di Mesir, Dinasti Syiah yang menurut salafi adalah pelopor maulid nabi, namun tentu kita percaya bahwa maulid nabi bukan dari dinasti fathimiyah namun dari Muzzafat Gokbori Raja atau Amir Turkmen di Irak Utara yang sangat sholeh dan menganut Ahlussunah Wal Jamaah, Dinasti Fathimiyah yang juga dituduh sebagai keturunan Yahudi itu merupakan dinasti Syiah dari aliran Syiah yang berbeda yaitu Syiah Tuju Imam atau Syiah Ismailiyah, yang nanti salah satu cabangnya mendirikan Nizariyah atau Assasin, namun karena sama-sama syiah mereka bekerja sama, Makkah dikuasai oleh Dinasti Qatadah ini, sedangkan di Yaman ada kerajaan Syiah Zaidiyah lain yang dikenal dengan adanya Ratu Arwa Al Sulayhi atau Sayyidah Hurra dari Dinasti Sulayhi. Meskipun awalnya Dinasti Qatadah ini menganut Syiah namun mereka beralih menjadi Ahlussunah Waljamaah dan mazhab Syafi'i pada masa Ayyubiyah dan Mamalik, mereka yang tadinya ada di bawah naungan kekhalifahan Syiah(tidak diakui) Fathimiyah kemudian bernaung di bawah kekuasaan Ayyubiyah yang merupakan kesultanan di bawah kekhalifahan Abbasiyah. Mereka tetap memiliki otonomi dari masa Fathimiyah, Ayyubiyah dan Mamalik(sultan dibawah khilafah Abbasiyah) serta Ustmaniyah. Dinasti Qatadah mengalami kekalahan di Hijaz setelah sebelumnya bergabung dengan Inggris melawan Turki Ustmani pada revolusi Arab, sebuah rencana Inggris untuk memperlemah Turki Ustmani pada Perang Dunia Pertama, pada Perang Dunia Pertama, Syarif Makkah bersama Lawrence of Arabia bertempur melawan Turki Ustmani di Hijaz, Palestina, Jordania, dan Suriah, sementara Bani Saud atau yang sekarang menjadi Arab Saudi melawan Bani Rasyid atau Emirat Jabal Syammar yang berpusat di Ha'il Najd Utara juga dengan dukungan Inggris, keduanya berhasil, pasukan Turki Ustmani berhasil dikalahkan Inggris dengan bantuan Syarif Makkah Begitu juga Bani Rasyid berhasil dikalahkan oleh Bani Saud.
| Husain bin Ali Syarif Makkah yang bersekutu dengan Inggris. |
Tentu Turki Ustmani tidak berperang untuk Jerman namun untuk keuntungannya juga, namun cara yang dipilih oleh para Pemimpin Turki Muda yaitu Ismail Enver(Arab:Anwar), Jemal Pasya, dan Talaat Pasya kurang tepat. Syarif Makkah mungkin benar bahwa Turki Ustmani sudah terlalu liberal sejak masa Tanzimat, namun juga memilih cara yang salah, yaitu dengan berpihak pada Inggris, mengapa Syarif Makkah berpikir Inggris dapat dipercaya sudah menjadi pertanyaan yang besar, dan akhirnya Inggis mengkhianati Syarif Makkah, kita tentu wajib menghormati beliau sebagai keturunan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam, namun kita boleh untuk tidak sepakat dengan politik beliau, untuk bersekutu dengan Inggris saya berkhusnudzon bahwa beliau telah ditipu oleh Inggris dan tidak tahu bahwa ikut sertanya Turki Ustmani dalam Perang Dunia Pertama masih ada hubungannya dengan kepentingan Umat Islam meskipun itu memang bukan keputusan yang bijaksana. Di zaman itu informasi belum sebagus sekarang, bisa jadi memang orang-orang Turki terutama dari kalangan Turki Muda agak mengesampingkan Orang Arab, sebelumnya Ustmani memang kurang perhatian pada Tanah Arab( Jazirah Arab, Mesir, Syam, dan IRAK) namun nasionalisme Turki ala TURKI MUDA membuat hal itu semakin parah, mungkin itulah keadaan yang menutupi mata beliau sehingga beliau berpihak kepada Inggris, sebagaimana Husain bin Ali bin Abi Thalib pernah tertipu oleh penduduk Kufah yang berakhir pada tragedi Karbala.
Inilah tragedi Syarif Makkah, Inggris berjanji akan mengangkat Syarif Makkah sebagai Raja seluruh Tanah Arab yaitu Jazirah Arab, Syam, dan Irak, Mesir dikecualikan karena merupakan kekuasaan Inggris dengan Kerajaan Muhammad Ali Pasya berkuasa di sana, Jika Turki Ustmani berhasil dikalahkan, namun diam-diam Inggris menyusun perjanjian rahasia dengan Perancis yaitu perjanjian Sykes-Picot yang isinya memberikan Suriah dan Lebanon untuk Perancis, Transjordan(sekarang Jordania)dan Irak untuk Inggris, sebenarnya Palestina juga milik Inggris dalam perjanjian itu namun diserahkan oleh Inggris kepada Yahudi pada perjanjian lain yang terpisah antara Inggris dengan wakil Zionis. Pasukan Turki Ustmani sebenarnya memiliki performa yang tidak terlalu buruk pada Perang Dunia Pertama, mereka memang gagal menyerang Mesir dan Terusan Suez untuk memutus suplai Inggris dari jajahannya di India, gagal mencegah pendaratan Inggris di Basrah, dan membiarkan banyak pasukan Ustmani mati membeku di Sarikamish Armenia saat Perang Melawan Kerajaan Rusia, Turki Ustmani saat itu memang lemah di angkatan laut dan udara, serangan ke Mesir dan Terusan Suez gagal karena serangan mereka berhasil dideteksi oleh pesawat mata-mata Inggris, mereka juga tidak bisa mencegah pendaratan Inggris di Basrah, untuk pasukan yang mati kedinginan di Sarikamish itu adalah kesalah Enver . Meskipun demikian Turki Ustmani berhasil mempertahankan Kota Gaza dari dua serangan Inggris dari Mesir, Turki yang tidak memiliki tank, berhasil mengalahkan tank Inggris dengan artileri, Tank di tempat terbuka dapat dikalahkan karena bukan digunakan untuk menyerang parit seperti di Eropa Barat, Pasukan Inggris yang mendarat di Basrah memang tidak bisa dicegah mendarat, namun mereka berhasil dikepung dan dihancurkan di Kutt Al Amara, dekat Ctesiphon bekas ibukota Persia yang dikenal Orang Arab sebagai Al Madain(kota-kota,banyak kota, atau metropolitan) selatan Baghdad, kekalahan di Kutt Al Amaraa merupakan kekalahan paling memalukan bagi Inggris dalam Perang Dunia Pertama. Pada Perang Galipoli, Mustafa Kamal Attaturk berhasil memukul Inggris,beserta Selandia Baru dan Australia yang merupakan bawahan Inggris, Inggris yang menganggap enteng Turki Ustmani berencana untuk menyerang langsung Istambul dengan angkatan lautnya, namun rupanya di Selat Dardanella, kapal-kapal mereka ditembaki oleh meriam pinggri pantai dan terkena ranjau laut, pasukan mereka terpaksa didaratkan untuk membersihkan benteng-benteng itu, namun gagal. di Armenia, meskipun serangan Enver Pasya gagal total di Sarikamish karena tidak membawa baju dingin, serangan balik Rusia ke Anatolia Timur juga berhasil dipatahkan oleh Turki Ustmani, apalagi di akhir Perang Dunia Pertama Rusia mengalami revolusi Bolshevik sehingga harus menarik diri dari perang, sayangnya offensif Turki ke Mesir dan Armenia gagal karena kurang sabar dan berhati-hati,
Komentar
Posting Komentar