Bendera, Lambang Negara, dan Peta Kerajaan Syiah Mutawakiliyah Yaman Utara
Kerajaan Mutawakiliyah Yaman Utara adalah penerus dari Kerajaan Syiah Zaidiyah sebelumnya, yaitu negara Zaidiyah Yaman yang pernah berdiri pada 1597-1628, sampai dicaplok oleh Provinsi Ustmani Yaman. sesuai dengan namanya kerajaan ini merupakan penganut Syiah Zaidiyah, Syiah yang mengikuti Imam Zaid, salah satu Imam Syiah yang paling awal, jauh sebelum Imam Ismail yang diikuti oleh Syiah Ismailiyah/Syiah Tuju Imam/Assasin dan imam-imam selanjutnya yang diikuti oleh Syiah Duabelas Imam. Syiah Zaidiyah dikenal sebagai Syiah yang paling dekat dengan Ahlussunah wal jamaah, mereka tidak melaknat, mengutuk, atau mengkafirkan tiga khalifah pertama dan keluarga nabi Muhammad shallalahu alaihi wassalam lainnya yang biasa dikutuk oleh Syiah Rafidhah, bahkan istilah Syiah Rafidhah sendiri berasal dari Imam Zaid sendiri, hal itu terjadi ketika kelompok syiah yang sangat fanatik memintanya untuk mengutuk para khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib, beliau menolak sehingga mereka kecewa, dan beliau menyebut mereka sebagai kaum Rafidhah, artinya kaum yang menolak sesuatu dengan terlalu keras. Ke-Syiahan Imam Zaid dan Syiah Zaidiyah hanya ada pada ajaran tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib di atas sahabat nabi yang lain, syiah zaidiyah juga tidak mengenal kawin kontrak, mazhab fiqih mereka tidak terkodifikasi dengan baik dan mirip mazhab Syafi'i . di bidang aqidah ada sebagian dari akidah mereka yang mirip dengan muktazilah . hal ini diakui oleh Kyai Haji Muhammad Faqih maskumambang . namun ada yang mengatakn bahwa Zaidiyah sekarang sudah seperti dua belas Imam karena pengaruh dari Iran , Wallahualam bishawab, situs Hidayatullah mengutip pernyataan yang dinisbatkan pada Kyai Haji Hasyim Asy'ari yang memperingatkan soal bahaya mereka, namun penulis blog ini belum memeriksanya dengan jelas, untuk buku Kyai Haji Muhammad Faqih Maskumambang penulis sudah baca, dan hal yang penulis katakan teradapat di salah satu catatan kaki.
Kaum Syiah Zaidiyah di Yaman sudah lama menjadi duri bagi kekuasaan Turki Ustmani, suku-suku Zaidiyah Yaman seperti Bakil dan Hasyid menganggap perlawanan mereka terhadap Turki Ustmani sebagai kemenangan dari Islam mereka yang mereka yakini sebagai Islam yang benar, sementara Turki Ustmani kadang menuduh mereka sebagai orang kafir, mereka melawan Turki Ustmani karena menolak mazhab Hanafi yang diterapkan oleh Turki Ustmani, perlu diketahui mazhab Hanafi adalah mazhab yang banyak menggunakna pendapat atau akal, dan sering mengikuti adat istiadat sebagai sumber hukum, di Afghanistan yang kolot mazhab Hanafi di sana sangat kolot seperti yang kita lihat pada kekuasaan Taliban (kecuali pada bagian musik haram yang merupakan pengaruh wahabi saat Taliban bersekolah di madrasah Deobandi Pakistan yang merupakan perkawinan Wahabi dan Deobandi ) namun di Turki yang pada dasarnya berdiri di bekas wilayah Byzantium , Mazhab Hanafi lebih longgar karena adat istiadat Turki sebagai suku nomaden memang lebih longgar dan egaliter ditambah lagi pengaruh Eropa yang sudah ada di Turki sejak sebelum Orang Turki masuk ke Anatolia dan Balkan, hal ini menyebabkan suku Syiah di Yaman tidak nyaman . Orang Syiah Zaidiyah di Yaman berkali-kali melawan, kadang berhasil, kadang gagal, namun biasanya Ustmaniyah mampu mengalahkan Zaidiyah di kota pesisir namun gagal mengalahkan mereka secara telak di pedalaman Yaman yang bergunung-gunung. Salah satu pemberontakan Zaidiyah yang pernah kita dengar (orang Indonesia) namun tidak kita sadari adalah pemberontakan Syiah Zaidiyah Yaman pada masa Salim II yang mengakibatkan sebagian besar armada bantuan Ustmani untuk Aceh harus dialihkan ke Yaman. biasanya kita hanya tahu adanya pengalihan sebagian armada bantuan untuk Aceh tanpa tahu sebabnya.
Orang Syiah Zaidiyah di Yaman memiliki pemimpin mereka sendiri yang disebut sebagai Imam , mereka meskipun sangat dihormati oleh warga Syiah Zaidiyah di Yaman namun Ustmaniyah tidak pernah mengakui kekuasaan para imam Syiah Zaidiyah di Yaman sejak mereka masuk ke sana . Kerajaan Syiah Mutawakiliyah muncul pada tahun 1900an seiring dengan melemahnya kekuasaan Turki Ustmani . Munculnya kekuatan politik Zaidiyah sudah terlihat pada masa kekuasaan Muhammad Yahya Hamidudin atau Hamid Ad-Din dalam ejaan Inggris , meskipun belum mampu meraih kemerdekaan dari Turki Ustmani namun Imam Hamidudin sudah berhasil mengepung dan merebut benteng-benteng di sekitar San'a (seharusnya Shan'a, sesuai dengan pedoman transliterasi Arab ke Indonesia, namun San'a lebih populer atau lebih dikenal karena merupakan transliterasi Inggris ) seperti Hajjah, Yarim, dan Dhamar, bahkan kemudian mengepung kota San'a sendiri pada 1892. Keberhasilan Syiah Zaidiyah sudah merusak prestise dari Turki Ustmani yang memang sudah tidak populer di Yaman karena banyaknya maladministrasi(salah urus) pemerintahan, dan banyaknya suap, pemerasan, dan korupsi oleh oknum pejabat Turki Ustmani. , pasukan bantuan Ustmani tidak bisa mengubah keadaan, meskipun San'a bisa bertahan, mereka sudah kehilangan inisitif, taktik gerilya dari kalangan suku Zaidiyah sudah membuat pasukan Ustmani kelelahan . Sultan Abdul Hamid II sampai mengirimkan surat secara pribadi kepada Imam Muhammad Yahya Hamidudin untuk menyerah, mendapatkan gaji dan jabatan di Turki Ustmani pada 1891 dan 1896 , namun ia menolak karena perjuangannya bukanlah untuk jabatan namun untuk agama, karena di Yaman ada banyak prostitusi dan peredaran minuman keras oleh oknum pejabat Turki, meskipun Sultan Abdul Hamid II adalah sosok yang sholeh namun tidak dapat dipungkiri bahwa Turki Ustmani sudah mengalami masa Tanzimat atau pembaratan pada masa Sultan Mahmud II di tahun 1800an, hukum syariah sudah banyak yang digantikan dengan hukum Qanun , hukum Qanun di Turki bukan hukum Syariah, namun hukum yang dibuat untuk mengatur hal-hal yang belum diatur oleh Syariat Islam . namun di Indonesia di provinsi Aceh malah digunakan untuk menegakkan syariat, kembali lagi pada Turki ustmani, karena tanzimat syariah agak terpinggirkan dan Qanun jadi lebih dominan. perang kembali meletus pada 1898, kali ini Hamidudin meminta sultan Lahej untuk menyampaikan pesannya pada protektorat Inggris di Aden, Yaman Selatan namun tidak mendapatkan respon(aneh juga mau melawan Turki Ustmani yang terpengaruh barat karena Tanzimat, malah minta tolong Inggris, untung tidak direspon, jika direspon bisa seperti Syarif Makkah di Perang Dunia Pertama) , selama berkuasa Imam Muhammad bin Yahya Hamidudin menghapuskan hukum adat suku di Yaman Utara dan mengorganisir Gaji untuk tokoh agama serta sumbangan untuk anak yatim, janda, dan orang miskin. beliau wafat pada 1904, mewariskan kekuasaannya sebagai Imam Syiah Zaidiyah di Yaman pada anaknya Yahya bin Muhammad bin Yahya Hamidudin al Qasimi (Orang Arab banyak yang namanya sama, jangan bingung)\yang bisa mengusir pasukan Turki pada 1918 dan mendirikan Kerajaan Syiah Zaidiyah Mutawakiliyah .
Perintah pertamanya adalah melarang orang untuk memasuki San'a dean an aa
https://en.wikipedia.org/wiki/Hashid 30 Mei 2022
https://en.wikipedia.org/wiki/Bakil 30 Mei 2022
https://en.wikipedia.org/wiki/Al-Mansur_al-Qasim 30 Mei 2022 menyebutkan bahwa tokoh ini membuat buku tentang perbedaan akidah Syiah Zaidiyah dengan Muktazilah dan Syiah-Syiah yang lain.
https://en.wikipedia.org/wiki/Muhammad_bin_Yahya_Hamid_ad-Din 30 Mei 2022 https://en.wikipedia.org/wiki/Treaty_of_Daan 30 Mei 2022
https://en.wikipedia.org/wiki/Alwaziri_coup 30 Mei 2022
https://en.wikipedia.org/wiki/Ahmed_Izzet_Pasha, Ahmad Izzat Furgac Orang Albania yang menjadi gubernur Yaman yang menandatangi perjanjian Daan , juga panglima dalam Perang Dunia Pertama 30 Mei 2022
https://en.wikipedia.org/wiki/Izzet_Ahmed_Pasha Perdana menteri Turki Ustmani pada tahun 1845
Komentar
Posting Komentar