Langsung ke konten utama

Babad Tanah Najd : EMIRAT MUAMMARIYAH/ MA'MARIYAH KEKUASAAN SINGKAT BANI MUAMMAR DI NAJD DI ANTARA EMIRAT DAR'IYYAH I&II

Emirat Muammariyah adalah Emirat yang sempat didirikan oleh Muhammad bin Misy'ari bin Muammar, atau singkatnya Ibnu Muammar penguasa Unaiyah yang juga turut mempertahankan Diriyah saat dikepung Pasukan Mesir, Ibnu Muammar adalah keturunan keluarga Muammar penguasa Uyaiynah dan anak Misy'ari bin Muammar penguasa Huraymila dan Uyaynah setelah Ustman bin Muammar dibunuh oleh Hamad bin Rasyid dan Ibrahim bin Zaid setelah Shalat Jum'at di tempat shalatnya pada Bulan Rajab 1263 hijriah( Tarikh An Najd Husayn ibn Ghannam) dengan alasan terlibat konspirasi dengan penguasa Tsamard Ibnu Suwaith dan Ibrahim bin Sulaiman yang dianggap murtad oleh Muhammad bin Abdul Wahab, peristiwa ini tercatat dalam Unwanul Majid fi tarikhun Najd karya Ibnu Bisyr,Muhammad bin Abdul Wahab awalnya datang ke Huraimila atau Huraymala setelah pulang dari Irak, namun penduduk di sana kurang bisa menerima kegiatan dakwahnya, tidak jauh dari Huraimila terdapat negeri Uyaynah,  Abdul Wahab bin Sulaiman bin Ali, ayah Muhammad bin Abdul Wahab sangat dihormati di sana karena kakek Muhammad bin Abdul Wahab Syaikh Sulaiman bin Ali memang ulama terpandang di Najd, Maka syaikh Muhammad bin Abdil Wahab pun berpindah ke negeri Uyainah. Dan gubernur Uyainah tatkala itu adalah Utsman bin Hamd bin Mu’ammar. Maka Utsmanpun menerima syaikh dengan baik dan memuliakannya. Syaikh pun menikah di Uyainah dengan Al-Jauharoh putri Abdullah bin Mu’ammar. Lalu syaikhpun menyampaikan kepada Utsman tentang apa yang ia dakwahkan tentang tauhid. Syaikh berusaha agar Utsman menolongnya dan syaikh berkata kepadanya, “Aku berharap jika engkau menegakkan laa ilaaha illaallah maka Allah akan menjadikanmu unggul, dan engkau akan menguasai Najd dan penduduk Arabnya”. Maka Utsmanpun membantu syaikh dalam dakwahnya. Syaikhpun terang-terangan dengan dakwah kepada Allah dan menegakkan amar ma’ruf nahi mungkaR ia mendukung dakwah Muhammad bin Abdul Wahab sampai Muhammad bin Abdul Wahab dan para pengikutnya merobohkan kubah makam sahabat nabi di sana, merusak tempat-tempat yang dikeramatkan, dan merajam seorang wanita yang sudah menikah dan mengaku berzina, setelah kejadian itu pemimpin Bani Khalid di al Ahsa mengancam Ustman bin Muammar, Ustman bin Muammar menyarankan Muhammad bin Abdul Wahab untuk pindah ke Dariyah tempat Muhammad bin Saud, Maka Utsmanpun memerintahkan seorang tentara berkuda yang namanya Al-Furaid Adz-Dzofiri dan juga pasukan berkuda, diantaranya adalah Thiwaalh Al-Hamrooni, lalu Utsman berkata kepada mereka, “Berangkatlah bersama lelaki ini (yaitu syaikh Muhammad bin Abidl Wahhab) dan pergilah bersamanya kemana saja ia mau”. Maka syaikh pun berangkat bersama pasukan berkuda hingga beliau sampai ke daerah Dir’iyah. meskipun demikian Ustman bin Muammar tetap mendukung dakwah dan peperangan Muhammad bin Abdul Wahab,sampai suatu ketika Ustman bin Muammar dan Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud hendak menyerang daerah Duruma/Daruma/Durma. Ustman bin Muammar memutuskan untuk tidak maju dan mundur, tidak dijelaskan mengapa demikian, yang jelas Ustman bin Muammar dan Abdul Aziz I berdebat karena itu, sebagian besar pasukan mereka adalah pasukan Huraimila, dan mereka setuju dengan Ustman bin Muammar, setelah pasukan mundur Abdul Aziz melaporkan Ustman bin Muammar kepada ayahnya Muhammad bin Saud dan Muhammad bin Abdul Wahab mertuanya, pada tahun 1163 Hijriyah ustman bin Muammar dibunuh di dalam masjid setelah selesai menunaikan shalat Jum'at dan tengah menunaikan shalat sunnah ba'da jum'at, justifikasinya adalah Ustman bin Muammar telah membahayakan umat Islam, memecah belah umat Islam,dan mendekati musuh dengan berkorespondensi dengan Ibnu Tsuwaith dan Ibrahim bin Mubarak penguasa Tsamard, Ayah Muhammad bin Muammar, Misy'ari/Musy'ari bin Muammar diangkat oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab sebagai pemimpin baru Uyaynah setelah tiga hari kematian saudaranya. Setelah itu    seluruh Huraimila/Huraymala difatwa murtad, padahal kakak kandung Muhammad bin Abdul Wahab, Sulaiman bin Abdul Wahab adalah hakim agama di suku tersebut, Muhammad bin Abdul Wahab juga meminta kakaknya untuk bertobat dari memecah belah umat dan menyebarkan syubhat kakaknya membantah fatwa murtad adiknya dengan mengirimkan surat yang isinya " aku tidak akan tinggal bersama mereka selama satu haripun bila aku menjumpai sedikitpun kemurtadan pada diri mereka", kakaknya membuat kitab untuk membantah adiknya. Muhammad bin Abdul Wahab menjawab dengan menyatakan seluruh Suku Huraimila/Huraymala adalah kafir murtad dan para ulamanya ulama yang musyrik, serta menulis kitab mufidul mustafid untuk membantah kitab dari kakandanya. Ustman dan Sulaiman dianggap salah karena tidak menunjukkan kebencian kepada orang musyrik, orang yang membenarkan, tidak mengkafirkan, atau tidak menunjukkan permusuhan kepada orang musyrik menurut Muhammad bin Abdul Wahab juga kafir, ada banyak versi mengenai pertentangan antara Muhammad dan Sulaiman bin Abdul Wahab, penentang Muhammad bin Abdul Wahab menuduh Muhammad bin Abdul Wahab memenjarkan kakaknya sementara pendukung Muhammad bin Abdul Wahab menyebut kakaknya telah bertaubat dan dinafkahi oleh adiknya, sungguh aneh mengapa ia harus dinafkahi. pemenjaraan itu terjadi setelah Emirat Dir'iyyah berhasil mengalahkan Uyaynah dan Huraymala, Uyaynah akhirnya hancur karena peperangan berkali-kali dengan Dir'iyyah dan wabah penyakit, tempat itu baru dibangun 200 tahun kemudian setelah berdirinya Arab Saudi modern, dan sekarang menjadi tempat pelatihan perwira militer Arab Saudi, Ustman bin Muammar dan keluarganya menjadi penghuni Sadus yang tidak jauh dari Huraimila, pasca kekalahan dua tempat itu Sulayman bin Abdul Wahab sempat terpaksa tinggal di gurun karena sudah tidak memiliki tempat, sebelum akhirnya tertangkap. 
pada peta di atas Tsarmard ditulis sebagai Tharmidah karena Tsa; ditulis menjadi Tha dalam transliterasi Arab-Inggris, pelafalan Bahasa Arab juga berbeda-beda seperti halnya Huraimila dan Huraymala, Abdil dengan Abdul, Muammar dengan Ma'mar, Saud dengan Su'ud. dan sebagainya, perbedaan pelafalan ini disebabkan oleh banyaknya logat Bahasa Arab. 

Emirat Dir'iyyah semakin meluas setelah berhasil mengalahkan Daham bin Dawwas penguasa Riyadh, pada awalnya Daham bin Dawwas dari keluarga Al Shalaan tidak memusuhi Emirat Dir'iyyah, ia menguasai Riyadh setelah penguasa Riyadh meninggal akibat diseruduk domba, saat itu Dir'iyyah bekerjasama dengan Daham bin Dawwas, Daham bin Dawwas aslinya adalah orang Manfuhah di sebelah selatan Riyadh, kota Riyahd sendiri belum ada , yang ada adalah Al Hajr , Miqrin, dan kampung-kampung yang lain, al Hajr adalah kampung yang paling utama dan tua, nama Al Hajr yang berarti batu ada hubungannya dengan pegununggan batu di sana yang berbentuk unik, Daham bin Dawwas menyatukan semua kampung-kampung itu dengan tembok keliling dan menjadikan kampung-kampung menjadi daerah kekuasaannya, mulai saat itulah dikenal nama Riyadh, Daham bin Dawwas yang sebelumnnya berasahabat dengan Dir'iyyah kini menjadi musuh terbesarnya di Najd, Dir'iyyah dan Riyadh terus menerus berperang selama hampir dua puluh tahun memperebutkan supremasi di Najd, sumber-sumber salafi menyebutkan Daham bin Dawwas sebagai pemimpin zalim yang pernah menjahit mulut seorang wanita dan memaksa seorang pria memakan potongan daging pahanya sendiri, namun seperti apa aslinya Allah subhanallahu wataala lah yang lebih tahu, Daham bin Dawwas pastinya adalah lawan yang berat, ia sangat cakap, hal ini dapat dilihat dari caranya membuat Kota Riyadh dengan cara menyatukan kampung-kampung di sana , dan kemampuannya melawan Diriyyah selama hampir dua dekade meskipun Dir'iyyah didukung sekutu-sekutu dari berbagai kota dan suku, pada akhrinya Daham bin Dawwas kalah oleh Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud dan terpaksa meninggalkan Riyadh, Muhammad bin Saud sudah tua ketika itu sehingga kepemimpinan pasukan diserahkan kepada anak sulungnya Abdul Aziz. ekspansi Emirat Dir'iyyah dilakukan dengan menaklukan lawan-lawan yang lebih lemah dahulu, Qasim, Buraydah, Al Kharj, Qathif, dan Al Ahsa tunduk kepada Emirat Dir'iyyah, Bahrain dan Oman dipaksa membayar upeti, Abdul Aziz juga menyerang Karbala sebagai pembalasan karena ada kabilah sekutu Emirat Dir'iyyah yang dirampok oleh kabilah Arab lain yang menganut Syi'ah, menurut versi Saudi 2000 Syi'ah tewas dalam penyerbuan tersebut, menurut versi Syi'ah dan barat korbannya lebih besar , Abdul Aziz kemudian dibunuh oleh seorang Syi'ah dari Persia yang dendam, orang tersebut dendam karena anaknya tewas dalam penyerbuan ke Karbala, dia nekat masuk sendirian ke Jazirah Arab dengan menunggangi seekor Unta, ia bertaqiyah dan saat kesempatan tiba ia menusuk Abdul Aziz dengan khanjar atau belati Arab saat shalat Ashar, kematian Abdul Aziz ini dalam versi wikipedia Bahasa inggris juga menyebutkan bahwa berita ini sampai ke pemerintah Inggris di India. 

Abdul Aziz digantikan oleh anaknya yaitu Saud Al Kabir I, lengkapnya Saud bin Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud, cukup banyak orang yang memiliki nama Saud di keluarga kerajaan Arab Saudi, karena memang sudah menjadi tradisi Orang Arab secara umum untuk menamai anaknya sesuai dengan nama leluhurnya, ada tiga orang Saud yang diberi gelar Al Kabir, jika dihitung dengan Saud ayahnya Muhammad bin Saud, dan Raja Saud kakak Raja Faisal Kerajaan Arab Saudi modern sudah ada lima orang keluarga Arab Saudi yang bernama Saud, belum lagi dengan Saud-Saud yang tidak terkenal, begitu juga Abdul Aziz, Faishal, Muhammad, Turki, Abdurrahman , Khalid, dan lain-lain,  tampaknya cuma sedikit yang bernama unik seperti Raja Salman di era kita dan Tsunayyan serta Misy'ari di masa lalu. Saud al Kabir menaklukan Makkah, Madinah, dan Thaif dari Kesyarifan Makkah, Dinasti keturunan Nabi Muhammad di Hijaz , Dinasti ini keturunan Syarif Qatadah, Dinasti ini masih bernaung di bawah Turki Ustmani, Makkah berhasil ditaklukan dengan kejam meskipun tidak berdarah-darah, Makkah dikepung hingga kelaparan dan banyak penduduknya meninggal , jamaah haji dari luar hijaz sempat dilarang masuk pada tahun itu karena Saud al Kabir khawatir nantinya mereka akan bekerjasama dengan pemimpin Makkah Syarif Ghalib bin Al Mus'aid , sebelum menaklukan Makkah mereka sudah menyerang Suriah dan Irak ,  akibatnya Sultan Mahmud II DI Istambul menjadi Murka, beliau memerintahkan serangan dari Baghdad, namun gagal, militer Turki Ustmani sedang lemah karena Mahmud II baru saja membubarkan Janisari dengan maksud melakukan reformasi militer, Mesir yang saat itu dipimpin oleh Khedive(gubernur otonom) Muhammad Ali Pasya  mendapatkan tugas untuk merebut kembali Makkah dan Madinah serta bagian Hijaz yang lain serta mengalahkan Emirat Dir'iyyah , pasukan Mesir pada saat itu menjadi lebih kuat karena sebagian perwira Napoleon tertinggal di Mesir . Mesir juga meminta bantuan pada negara barat yang lain untuk melatih pasukannya. 

Pasukan Mesir yang dipimpin oleh anak Muhammad Ali, Tusun Pasya  dan juga dilatih oleh Ahmad Bonaparte seorang mualaf dari tentara Napoleon asal Skotlandia, yang tertinggal di Mesir berhasil mengalahkan pasukan Gubernur Saudi di Hijaz, Gubernur Saudi itu kemudian digantikan oleh istrinya yang dijuluki tentara Mesir sebagai Ghalliyah al Wahabiyah atau Ghalliyah si wanita Wahabi. Ghaliyah pada akhirnya juga terbunuh, Abdullah bin Saud pada awalnya mampu menahan pasukan Mesir di Hijaz sampai seolah-olah pasukan itu ada di dalam posisi bertahan, namun pada akhirnya tentara Albania Mesir kemudian menerobos gurun Najd dengan cara berpindah dari satu oasis ke oasis yang lain sambil melawan pasukan Saudi di sepanjang jalan, sampi akhirinya Kota Diriyah dikepung, pada saat itu kepemimpinan Bani Saud sudah berpindah ke amirnya yang  ke empat Abdullah bin Al Saud, Tusun Pasya anak Muhammad Ali digantikan oleh saudaranya, Ibrahim Pasya karena dianggap terlalu lunak, Tusun Pasya meninggal dunia saat kembali ke Mesir karena Demam ,Abdullah mencoba untuk berunding tetapi ditolak karena pasukan Mesir dan Albania sudah hampir menang,ada beberapa orang yang ia utus untuk berunding , salah satunya Muhammad bin Misy'ari bin Muammar, perundingan berlangsung alot,  akhirnya ia menyerah dengan syarat-syarat yang sangat memberatkan seperti benteng kota Diriyah harus dirobohkan, Abdullah dan beberapa orang anggota keluarga Al Saud yang laki-laki dan beberapa anggota keluarga Alu Syaikh, keturunan Muhammad bin Abdul Wahab dibawa ke Kairo sebagai tahanan, ada yang dipenjara, ada yang dibawa ke Istambul termasuk Amir Abdullah untuk diadili, dan dari keluarga Alu Syaikh ada yang sekolah di Al Azhar sekaligus menjelaskan gerakan dakwah yang dibawa oleh kakeknya Muhammad bin Abdul Wahab, Abdurrahman bin Abdillah bin Muhammad bin Abdil Wahab,  di sana ia sempat menulis kitab penjelas atau Syarah terhadap Kitabut Tauhid karya kakeknya. adik-adik Abdullah bin Saud dihukum mati langsung di Istambul kecuali adiknya yang paling kecil, yaitu Khalid bin Saud, Khalid masih terlalu kecil, karena itulah ia tidak dibunuh namun dididik oleh Muhammad Ali Pasya, nantinya Khalid akan dikembalikan ke Najd untuk memerinah Emirat Najd dibawah Muhammad Ali Pasya, Abdullah dan beberap a saudaranya, sepupu-sepupunya dihukum pancung di Istambul dekat Aya Sofia setelah mendapatkan penghinaan selama empat hari, ia dipaksa mendengarkan musik sebagai penghinaan terakhir, sumber pro Saudi menyebutkan bahwa Abdullah bin Saud menerima hukuman mati sebegai kesatria dan gentlemen dan sempat tersenyum sebelum dipancung, kepalanya dibuang ke Laut Selat Bosphorus, memang kekuasaan itu kejam, sesama muslim saling membunuh karena berebut pengaruh, sesuatu yang tidak boleh kita ulangi di masa depan, namun sayangnya tampaknya hal ini akan terus berulang, 

Dir'iyyah sudah hancur akibat serangan, pengepungan, dan dihancurkan oleh pasukan Mesir Albania setelah perang usai agar Emirat Dir'iyyah tidak bisa bangkit lagi, Muhammad bin Muammar menjadi pemimpin sementara di Dir'iyyah yang hancur ketika pasukan Mesir mundur, Ia mencoba menyatukan kembali Najd dengan dua buah meriam dari Diriyah yang ia sembunyikan dari pasukan Mesir dengan cara dikubur, sepeninggal pasukan Mesir Najd kembali kacau karena Bani Saud yang dominan terguling, beberapa elemen yang anti Diriyah kembali dan ada beberapa yang berhasil, di Buraidah, Rasyid bin Sulaiman al Hujailan membunuh Abdullah bin Hujailan bin Hamad yang masih berkerabat sebagai pembalasan atas kematian ayahnya yang dibunuh oleh Hujailan bin Hamad pada kampanye Sa'adun bin Urayr di Buraidah pada tahun 1196, sedangkan keluarga al Rasyid dan al Hamad kembali terjadi hingga pemimpin keluarga al hamad,  ibrahim bin Nasser al Zir al Hamad dibunuh oleh Nasser bin Muhammad bin Nasser al Rasyid, seluruh keluarga al Hamad terpaksa melarikan diri dari Huraimila, daerah-daerah seperti Al Kharj, Al Ahsan, dan Sudair kembali ke kebiasaan lama seperti saat Najd belum disatukan oleh Bani Saud, yaitu saling merampok, mejarah, dan memblokir jalan sehingga perdagangan di Najd macet, terjadi juga perampasan harta oleh oknum pasukan Mesir. Bani Khalid yang merupakan musuh Bani Saud pada Emirat Diriyah pertama juga bangkit di Qathif dan al Ahsa, mereka mengangkat anggota keluarga al Urayr sebagai pemimpin di sana, namun kekuasaan mereka tidak sekuat saat sebelum kekuasaan Bani Saud, suku Ajman, Mutayr, Subay', dan Dawasir menganggu gurun tempat tinggal mereka.  Pajak diberlakukan dan terjadi kekeringan yang berakibat pada kelapran.  kekacauan itu hendak ditanggani oleh Ibnu Muammar yang ingin menguasai Najd untuk dirinya sendiri. Ibnu Muammar yang sebelumnya mempertahankan Diriyah pindah ke Sadus. tempat tinggal anka-anak saudaranya, ibrahim, kepindahan itu dilakukan karena merasa usahanya beresiko. kemudian ia pergi ke Riyadh menemui orang-orang Diriyah yang mengungsi, orang-orang desanya, dan orang-orang Riyadh yang setuju dengannya untuk memperbaiki Diriyah. Ia memasang bendera di depan pintu rumahnya, sehingga orang-orang mendatangi rumahnya, termasuk perempuan dan anak-anak, dari situ ia mengajak mereka pergi ke Diriyah untuk mengolah tanahnya, ia kemudian tinggal di sana dan memberikan bantuan untuk orang-orang yang pindah ke sana dengan kekayaannya. sebelumnya orang asing bernama Sadlier pernah melewati Diriyah sebelum dibangun kembali oleh Ibnu Muammar pada tahun 1819 Masehi atau 1234 Hijriyah, ia melaporkan bahwa di sana hanya ada reruntuhan dan sama sekali tidak ada manusia, Sadlier mengatakan pekerjaan  merevitalisasi Diriyah oleh Ibnu Muammar sangat berat atau tidak mungkin, tapi entah bagaimana caranya Ibnu Muammar berhasil memperbaiki rumah-rumah, tembok kota, dan kastil yang sebelumnya dihancurkan oleh pasukan Muhammad Ali Pasya . Dokumen Turki Ustmani menunjukkan bahwa Ibnu Muammar mulai membangun kastil-kastil di Diriyah dan Muhammad Ali Pasya menunjukkan kekhawatirannya pada gerakan Ibnu Muammar dengan meminta bantuan pada Turki Ustmani untuk menekannya, Turki dan Muhammad Ali tampak tidak suka ada kekuatan regional baru di dekatnya. 

Ibnu Muammar berhasil membangun kembali Diriyah dan mengisi kembali penduduknya yang sempat kosong, Diriyah sudah memiliki 1200 prajurit, ketika keadaan sudah stabil ia melanjutkan langkahnya untuk menjadi penguasa seluruh Najd, ia mengirimkan para utusannya kepada penguasa negara-negara kecil atau negara suku di Najd. ia berhasil mengirimkan utusan pada daerah Manfuhah dan mendapatkan pengakuan dari orang-orang di sana, keberhasilan awalnya membuat pengusasa-penguasa negara kesukuan kecil di dekatnya ketakutan pada pengaruh dan perluasan kekuasaannya , Al Kharj, Riyadh, dan Huraimilah mengirimkan utusan ke pemimpin Al Ahsa Muhammad bin Urayr , untuk memberitahunya bahwa jika sudah kuat Ibnu Muammar akan menyerang al Ahsa, mereka membujuk Ibnu Urayr untuk menyerang Diriyah dahulu sebelum Ibnu Muammar menjadi kuat, merespon para utusan itu Muhammad bin Urayr mengirimkan utusan pada Ibrahim bin Muhammad Ali Pasya di Jeddah untuk memberitahukan adanya gerakan dari Ibnu Muammar dan rencana Ibnu Muammar untuk menyerang Al Ahsa, Ibrahim memberitahu ayahnya di Mesir dan Ayahnya memberitahu Sultan di Istambul, Turki Ustmani kemudian memerintahkan serangan untuk menekan Ibnu Muammar, perintah itu ditanggapi oleh ekspedisi ke Najd dibawah pimpinan Majid bin Urayr pada tahun 1235 Hijriah, Riyadh, al Kharj, dan Huraimilah bergabung dengan pasukan Al Ahsa, mereka bentrok dengan pasukan Ibnu Muammar dekat Manfuhah saat mereka akan menyerang daerah itu yang bersekutu dengan Ibnu Muammar, perang tersebut berakhir dengan perdamaian, sebuah dokumen Turki Ustmani menyebutkan bahwa Majid bin Urayr menjarah Aqra dan membunuh tiga puluh orang di sana, menyerang sebuah konvoi dari Riyadh ke Diriyah, dan membunuhi orang-orang Diriyah, dokumen itu juga mengindikasikan kepemilikan dua buah meriam oleh Ibnu Muammar yang ia gunakan untuk melawan Majid bin Urayr. dokumen Turki menyebutkan adanya konflik tapi ada perbedaan  mengenai detail konflik ini, Faisal ibnu Duwash menyebutkan konflik antara Ibnu Muammar dengan Majid, sedangkan Ibnu Bisyr pengarang Unwanul Majid fii Tarikhun Najd tidak menyebutkan adanya konfrontasi sama sekali, ia menyebutkan Ibnu Muammar menipu Majid dengan sejumlah korespondensi dan pemberian hadiah, sebuah dokumen mengindikasikan bahwa Ibnu Urayr dihadiahi dua buah perisai oleh Ibnu Muammar dan mengatakan bahwa Orang Diriyah ada di bawah kekuasaannya, maaf teks inggrisnya sulit saya pahami, ia mengancam Ibnu Urayr dan tidak mau menemuinya, ini sepertinya karena teks inggrsinya tidak memberikan penjelasan secara gamblang apa maksudnya, apakah artinya Majid ditipu dengan hadiah dan setelah mundur ibnu Muammar tidak mau menemui Muhammad bin Urayr dan mengancamnya , saya tidak tahu. agak sulit mencerna Ibnu Muammar memberikan hadiah tapi mengancam dan tidak mau menemui.
 
Pada akhirnya ekspedisi Majid gagal karena kekeringan, dan ia juga membuat suku-suku pendukung ekspedisi itu kecewa, justru sebaliknya Ibnu Muammar menjadi terkenal. negeri-negeri Najd seperti Al Arid, Washm, Sudair, dan mahmal atau muhammal malah mendukung Ibnu Muammar, Ibnu Muammar memanfaatkan kondisi itu untuk memperbaiki perekonomian dengan mendorong perdagangan antara provinsi-provinsi Najd dengan Diriyah, ia memerintahkan negeri-negeri Najd itu untuk mengirimkan persediaan barang ke Diriyah dan menekankan kepada mereka pentingnya barang-barang tersebut, konvoi perdagangan dari dan ke negeri-negeri Najd tersebut kembali diaktivkan oleh Ibnu Muammar, sehingga bahan-bahan makanan mudah didapatkan di Diriyah dengan harga yang normal, keberhasilan itu meningkatkan popularitasnya dan membuatnya mampu mengendalikan negeri-negeri tersebut, ia mendapatkan banyak pengikut dari daerah-daerah Najd itu. sementara itu Turki bin Abdullah al Saud dan saudaranya Zaid, datang ke Diriyah untuk membantu Ibnu Muammar, sampai di sini semua masih baik-baik saja, dokumen yang tadi menyebutkan bahwa Turki datang bersama anaknya , dan saudara Zaid dan Umar bin Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud , Turki datang dengan membawa seratus orang dari selatan, sementara Umar membawa konvoi makanan, pada saat yang bersamaan ada juga utusan dari Turki yang datang atas permintaan Ibnu Muammar. Huraymila masih melawan kekuasaan Ibnu Muammar seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, pemimpin Huraymila saat itu adalah Hamad bin Mubarak bin Abdurrahman al Rasyid, seperti yang sudah diceritakan di atas, pemimpin Bani Hamad melarikan diri ke Diriyah karena pemimpin sebelumnya tewas di tangan pemimpin Bani Rasyid. Ibnu Muammar mengirimkan pasukan yang dipimpin oleh anaknya, yaitu Misyari dan Zaid bin Abdullah bin Muhamnmad bin Saud(namanya pada sama, bikin bingung ), ia juga mengerahkan pasukan dari Mahmal dan Sudair, keluarga al Rasyid menyerah kepada Misyari bin Muhammad bin Muammar, dan juga meminta perlindungan keamanan, Misyari menjamin keamanan darah mereka dan mengajak mereka untuk menghadap kepada Ibnu Muammar di Diriyah, setelah itu Ibnu Muammar mengangkat Ibnu Hamad sebagai gubernur Huraimila, keberhasilan itu membuat seluruh komunitas Orang Najd menyatakan setia kepada Ibnu Muammar baik melalui utusan ataupun surat. 
 
Keberhasilan tersebut membuat Ibnu Muammar menjadi orang pertama yang berhasil menyatukan Najd setelah keruntuhan Emirat Diriyah pertama, sementara itu Misy'ari bin Saud bin Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud( biar ngak bingung dikasih lengkap) muncul di Najd utara setelah berhasil melarikan diri pasukan Ibrahim Pasya di desa Hamrah dekat Yanbu, ketika ia dan para saudaranya akan dibawa ke Mesir, ada sebuah dokumen Ustmani yang menceritakan hubungan antara Muhammad bin Muammar dan Misy'ari, Misy'ari sudah tinggal di Jabal Syammar setelah melarikan diri sampai diajak pindah ke Diriyah oleh utusan Ibnu Muamamar, ia dihormati oleh keluarga penguasa Kota Qassim saat melewatinya, dan ia menerima Saleh bin Daghathir sebagai utusan dari Diriyah saat singgah di Buraidah, masalah mulai muncul saat Misy'ari bin Saud sampai di Al Wasyum pada sepuluh Dhulqakdah 1235 Hijriah, ia mengadakan pawai militer bersama orang-orang dari Al Qassim, Al Zulfi, Tsamard, dan orang-orang lain dari Diriyah, ia mengklaim memiliki hak untuk memerintah di Diriyah sebagai keturunan Muhammad bin Saud, tentu saja Ibnu Muammar tidak suka karena ia merasa telah mendirikan keamiran baru setelah Emirat Diriyah pertama runtuh, namun Ibnu Muammar memilih untuk mengalah demi kebaikan bersama dan mengundurkan diri serta membai'at Misy'ari bin Saud sebagai pemimpin atau Imam. Dokumen Turki, surat yang ditulis oleh Faisal al Duwash kepada Ibrahim Pasya, menunjukkan bahwa Ibnu Muammar, Turki bin Abdullah, dan Misy'ari  bekerjasama untuk mengadakan ekspedisi militer ke negeri-negeri di dekat Najd setelah sebagian besar negeri-negeri Najd terutama di Najd selatan membaiat Misy'ari bin Saud, Misy'ari ingin menyatukan Najd, menyelesaikan apa yang telah dirintis oleh Ibnu Muammar. Misy'ari memimpin pasukan gabungan al- Arid, al Mahmal, Sudair, Wasyum, dan Wadi Siba'i ke sekeliling Najd bekas kekuasaan Emirat Diriyah  lalu kembali ke Diriyah .
Location of Diriyah (Imamate)
Muhammad bin Muammar pada akhirnya mengalami nasib yang tragis karena perebutan tahta, masa kekuasaan Ibnu Muammar yang pertama,selama antara tiga sampai tujuh bulan sudah diisi dengan membagun kembali kekuasaan dan persatuan di Najd, sekarang ia harus memberikannya pada Misy'ari, Ibnu Muammar kembali menginginkan kekuasaaannya setelah sebuah kampanye militer di  Kharj,ia memulai langkahnya ke kekuasaan dengan pindah dari Diriyah ke Sadous, tempat yang dulu  pernah menjadi tempatnya mengungsi setelah Diriyah dihancurkan pasukan mesir,  di sana ia berpura-pura sakit tetapi mengirimkan utusan ke negeri-negeri Najd yang setia kepadanya untuk meminta baiat, setelah mendapatkan dukungan ia mendatangi Diriyah dan menangkap Misy'ari bin Saud serta mengumumkan kekuasaannya lagi, Misy'ari bin Saud dikirim ke Sadous untuk dipenjarakan di sana, sedangkan anak Ibnu Muammar yang juga bernama Misy'ari diangkat menjadi pemimpin Diriyah(banyak nama yang sama kan), Ibnu Muammar kemudian mendatangi Riyadh , setelah Riyadh takluk, ia kembali ke Diriyah untuk memerintah dari sana sedangkan anaknya, Misy'ari bin Muhammad bin Muammar gantian menjadi pemimpin Riyadh . pada waktu yang hampir bersamaan, sebuah pasukan Turki Ustmani pimpinan Abush Agha menyerang Unaziah dan kemudian menyerang Qasim untuk menangkap Misy'ari bin Saud di Diriyah dan menghentikan pergerakannya, Ibnu Muammar menyatakan bahwa dirinya adalah bawahan Sultan Turki, atau ia bersedia tunduk pada Turki Ustmani serta ia sudah menangkap Misy'ari bin Saud serta akan menyerahkannya, sebagai balasan Abush Agha mengakui kekuasaannya, sepertinya Ibnu Muammar hanya ingin menghindari bentrokan dengan pasukan Turki Ustmani yang lebih kuat, sehingga ia memutuskan untuk memberikan pengakuan nominal kepada Turki Ustmani sampai ia memiliki kekuatan yang kuat dan sudah membereskan musuh-musuhnya, sebenarnya ia bisa merebut kekuasaan dengan mudah karena orang-orang Najd takut konflik akan membuat pasukan Turki datang lagi dan menguasai Najd secara langsung. kekuasaan Misy'ari bin Saud berhenti pada Sya'ban atau Ramadhan 1235 hijriah.

urki bin Abdullah tidak bisa menerima kudeta oleh bekas sekutunya yang juga masih kerabatnya itu dan memutuskan untuk pindah ke al Ha'ir. ia pindah karena di al Hayer ada saudara-saudara iparnya, yang juga paman dari anaknya yaitu Faisal, keluarga iparnya adalah faqih atau ulama fiqihnya Suku Tamim, Ibnu Muammar juga keturunan Tamim, sama seperti Muhammad bin Abdul Wahab, leluhurnya membeli Huraimila dan Unaziah dari  Suku Yazid, sisa suku Hanifahnya Musailamah al kazdab pada abad 15. karena itu di Al Hayer juga ada pertananian, properti, dan istana milik keluarga Muammar, merespon perlawanan Turki bin Abdullah, Ibnu Muammar mengirimkan seratus pasukan berkuda ke Al Hayer dibawah komando anaknya Misy'ari penguasa Riyadh . mereka dikirim secara diam-diam lewat Darma atau Durmaa atau Duruma, dan ia juga mengirimkan mata-mata untuk menyampaikan pesan rahasia kepada pengikutnya di Duruma, pesan itu disimpan di sebuah buku, namun Turki bin Abdullah  berhasil menangkap orang itu, dan mengetahui pasukan Muammar di istana Duruma, akibatnya malah pasukan itu yang mendapatkan serangan mendadak, pasukan itu kocar-kacir, mereka sudah lelah, ada yang membelot ke Turki bin Abdullah, Misy'ari bin Muhammad bin Muammar kembali ke Diriyah hanya ditemani oleh dua orang penunggang kuda, Turki bin Abdullah datang ke Duruma/Darma/Durma dan mengumpulkan pasukannya di sana, banyak orang dari Sabi' dan daerah lain mendukungnya, kemudian ia mengepung Ibnu Muammar di Diriyah, Ibnu Muammar ingin mempertahankan diri namun penduduk Diriyah tidak mau mendukungnya sehingga ia dan para anak buahnya ditangkap, itu pada lima rabiul awal 1236 Hijriah, kemudian Turki bin Abdullah menyerang Riyadh, di sana ia berhasil menangkap anak Ibnu Muammar yang sebelumnya gagal menyerangnya, Misy'ari, yang juga penguasa Riyadh, ia kemudina meminta Ibnu Muammar untuk membebaskan Misy'ari bin Saud yang ditahan di Sadous, Ibnu Muammar mengirim surat  kepada Ibrahim, keponakannya di Sadous untuk membebaskan Misy'ari bin Saud, tapi Ibrahim tidak bisa melakukan itu karena pasukan Turki dibawah Abush Agha dan Faisal Al Duwash, kepala Suku Mutair/ Mutayr yang pro Turki Ustmani dan Mesir  sedang menuju ke sana untuk menerima Misy'ari bin Saud seperti yang sudah dijanjikan oleh Ibnu Muammar sebelumnya , karena tidak bisa membebaskan Misy'ari bin Saud, Muhammad bin Muammar dan Misy'ari bin Muhammad bin Muammar dieksekusi oleh Turki bin Abdullah al Saud pada bulan itu juga,setelah Misy'ari bin Saud diserahkan kepada Abush Agha dan Faisal al Duwash. Kekuasaan kedua Muhammad bin Muammar atau Ibnu Muammar berlangsung selama tujuh bulan dari sya'ban samapi rebiul awal 1236 Hijriyah, setelah itu keluarga Muammar tidak memiliki peran apa-apa di Najd, sebuah akhir tragis bagi seorang Ibnu Muammar,Misy'ari bin Saud dipenjarkan oleh pasukan Turki Ustmani hingga meninggal dunia pada 1820 Masehi, Kota Dir'iyyah dibumi hanguskan untuk kedua kalinya sebagai balasan atas kematian Ibnu Muammar, selanjutnya Bani Saud akan beribukota di Riyadh, Turki bin Abdullah mampu meloloskan diri ,  melancarkan peperangan gerilya melawan pasukan Turki di Najd karena lebih memahami gurun Najd, pada saat yang hampir bersamaan, Muhammad Ali Pasya membangkang kepada Turki ustmani, ia telah berhasil merebut Syam namun ia dikalahkan oleh Inggris karena Inggris ingin mempertahankan Turki Ustmani, supaya Rusia tidak terlalu kuat,   pasukan Turki/Mesir akhirnya mundur dari Najd pada tahun 1840 sebagai konsekuensi dari Konvensi London . 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Abad kemunduran yang memprihatinkan Turki Ustmani, Mesir, dan Arab Saudi : pesan lintas zaman dari kejadian di masa lalu sebagai pelajaran untuk orang sekarang

Pada abad 18 Umat Islam mengalami kemunduran,Turki Ustmani sudah bukan lagi kekuatsn besar yang diperhitungkan, militernya sudah ketinggalan zaman karena adanya oknum-oknum yang menolak modernisasi, alasannya adalah menolak teknologi kafir. orang zaman itu tidsk bisa membedakan budaya dan teknologi ketika ada rencana modernisasi senjata mereka menolak dengan alasan teknologi kafir , bEgitu juga ketika muncul teknologi mesin cetak, mereka menolak dengsn alasan itu teknologi kafir dan berbahaya, padahal alasan itu dikrluarkan karena para tukang tulis buku(maaf Bahasa saya terlalu kasar) menolak mesin cetak karena jika ada mesin cetsk merekq akan kalah bersaing, merrkw itu prang terpelajar dan termasuk sedikit orsng yang biss menulis dengan baik , namun karena menolak teknologi akibat kepentingan pribadi yang bersifst singskt saya sebut mereka sebagai tukang tulis buku, tentuc saja ada yang tidak setuju seperti channrl al muqadimah. tspi biarlah saya ada dsn yang tidak setuju ada , saya t...

Andranik Ozanian dan kawan kawan: tokoh-kokoh pemberontak Armenia yang menjadi salah satu antagonis dalam Payithat Abdul Hamid II

saya memang cukup mengagumi Turki Utsmani sebagai kerajaan Islam yang besar, namun saya tidak menutup mata kalau ada cela atau aib pada Turki Utsmani, begitu juga dengan kerajaan-kerajaan Islam lainnya, karena kerajaan dan raja Islam seperti Amir, Sultan, bahkan Khalifah itu tidak ma'sum atau dijaga oleh Allah Subhanallahu Wata'ala dari dosa, bahkan khulafaur Rasyidin juga tidak ma'sum, yang ma'sum adalah rasulullah shalallahu alaihi wassalam.pengetahuan saya akan cela atau aib yang ada pada kerajaan-kerajaan Islam bukanlah sesuatu yang membuat saya ragu terhadap ajaran Islam karena kerajaan Islam sebagai mana yang saya sebutkan sebelumnya tidak ma'sum dan bisa memiliki kesalahan, yang salah adalah raja dan pemerintahannya bukan Islamnya. apabila saya menceritakan tentang aib tesebut juga bukan untuk melemahkan semangat beragama namun untuk mengingatkan kalau orang di zaman dahulu pernah berbuat salah dan jangan sampai kita mengulangi kesalahn itu, jika anda hanya ...

Pengepungan Acre Pada Perang Salib Ketiga: Sejarah Asli Kampanye Age of Empire II : The Lion and Demon

Para pengguna internet yang sudah punya komputer sejak tahun 1990an mungkin sudah tidak asing lagi dengan permainan strategi Age Of Empire II terutama seri pertamanya Age of Kings, yang mana di dalam permainan itu terdapat mode ( campaign )kampanye,skenario yang berdasarkan pada sejarah asli. Salah satu skenario kampanye yang ada adalah skenario Saladin atau Shalahudin Al Ayyubi. Skenario itu terdiri atas enam bagian dan yang terakhir adalah The Lion and Demon yang berarti "Sang Singa dan Sang Setan". Skenario itu didasarkan pada pengepungan Kota Acre, sebuah kota pelabuhan di Palestina oleh pasukan Salib gabungan dari pasukan Salib Inggris yang dipimpin oleh Richard the Lion Heart dan Pasukan Salib Perancis yang dipimpin oleh Louis Augustus. https://youtu.be/f2VDzjcIocY?si=TFMq-4u-pxN03yxu Pada skenario ini pemain diharuskan untuk membagun sebuah wonder (keajaiban dunia) dan mempertahankannya agar jangan sampai hancur sampai waktu timer wonder habis, pemenang akan menang a...