Langsung ke konten utama

Perang Saudara Yaman Utara 1962: bagian dari perang dingin yang terlupakan , perang saat Arab Saudi menolong Kerajaan Syiah .

Di tengah-tengah peperangan antara koalisi Arab Saudi melawan Houthi(ٱلْحُوثِيُّون‎), (seharusnya Khutsi tapi media suka membebek pada transliterasi Inggris yang digunakan media-media dunia), di Yaman saya mendapatkan info yang mengejutkan,sekilas tampak mengejutkan karena pada tahun 1962-1970 Arab Saudi pernah mendukung Kerajaan Syiah di Yaman yaitu kerajaan Syiah Mutawakiliyah, perang ini sudah terjadi sangat lama bahkan jauh sebelum orang tua saya lahir, memang para Ustad di Indonesia seakan menyederhanakan masalah tentang Syiah agar menjadi sederhana dan sesuai dengan kebutuhan saat ini untuk melawan pengaruh Iran, namun sebenarnya politik Timur Tengah itu tidak hitam dan putih. Perang ini terjadi pada masa perang dingin, pada saat itu Yaman juga terbagi dua menjadi Yaman Utara dan Yaman Selatan seperti halnya Jerman terbagi menjadi Jerman Barat dan Jerman Timur, Korea menjadi Korea Utara dan Korea Selatan, serta Vietnam terbagi menjadi Vietnam Utara dan Vietnam Selatan, biasanya negara utara adalah negara komunis atau sosialis seperti pada kasus Vietnam dan Korea, tapi tidak dalam Kasus Yaman Utara dan Yaman Selatan, Yaman Selatan adalah negara sosialis, sedangkan Yaman Utara memiliki kecenderungan nasionalis dengan sedikit pengaruh sosiaslime pada nasionalismenya, seperti pengaruh sosialisme pada idiologi Arabisme di gerakan Gamal Abdul Naser dan partai Baats Irak dan Suriah, mungkin karena ideologi mereka yang agak dekat hubungan antara Yaman Utara dan Yaman Selatan cenderung lebih damai ketimbang negara-engara lain yang terbagi antara pengaruh Amerika Serikat dan Uni Soviet, sampai terjadi perang antara Yaman Utara dan Yaman Selatan pada tahun 1978 dan 1979, namun perang itu tidak sebesar Perang Korea dan Perang Vietnam karena adanya intervensi liga Arab, Yaman Utara dan Yaman Selatan pada akhirnya dapat disatukan pada 1990 dan kembali mengalami masalah setelah musim semi Arab pada 2011 sampai sekarang. Perang yang saya bahas ini terjadi di Yaman Utara, sebelum Yaman Utara berbentuk republikdan masih berbentuk kerajaan, kaum republikan pada akhirnya berhasil menghapuskan Monarki Mutawakiliyah Yaman setelah pengepugan Shan'a, pada perang ini kerajaan Mutawakiliyah yang menganut Syiah Zaidiyah didukung oleh Arab Saudi, sedangkan orang-orang yang ingin mengkudeta Kerajaan Mutawakiliyah di Yaman Utara atau kaum republikan dipimpin Abdullah as Sallal didukung oleh Gamal Abdul Nasser dari Mesir dan Uni Soviet ,dukungan bersama dari Uni Soviet dan Mesir kepada kaum republikan ini bisa dipahami karena Mesir pada era Naser banyak mendapatkan bantuan militer dari Uni Soviet dan ideologi Pan Arabisme Naser memiliki sikap ingi menghapuskan semua monarki di dunia Arab, Mesir sebenarnya sudah pernah terlibat perang di Yaman pada tahun 1950an bersama kelompok yang ia dukung, perang ini adalah perang internal sesama negara-engara Arab dalam masalah persaingan ideologi antara monarki dan arabisme naser disamping konflik melawan Israel, jauh-jauh hari sebelum Naser, nasionalis Arab di Suriah sudah berhasil menjatuhkan monarki Hasyimiyah di Suriah dan Irak sehingga sekarang hanya tersisa satu Monarki Hasyimiyah di Yordania, Arab Saudi yang merupakan negara berbentuk Monarki tentu saja tidak mau jika program Anti Monarki Nasser berhasil di Yaman dan kemudian merembet ke Arab Saudi. berbeda dari konflik sekarang ini Arab Saudi malah mendukung Kerajaan Syiah karena melawan sesama anti Monarki dan bentuk kesyiahan kerajaan yang didukung agak berbeda dari Syiah yang ada di Iran dan Syiah yang dianut oleh Houtsi sekarang. Kerajaan Mutawalikiyah adalah kerajaan Syiah Zaidiyah, soal sekte zaidiyah ini saya mengutip dari buku Menolak Wahabi karya Kyai Haji Muhammad Faqih Maskumambang (1857-1937)salah satu pendiri Nahdahatul Ulama dan penah menjadi wakil Rais Akbarnya , pada catatan kaki pada halaman 50 ada keterangan tentang Zaidisme atau Zaidiyah, bunyinya seperti ini, Berbeda dengan kelompok Syiah yang lain, Syi'ah ZAIDIYAH memasukkan Zaid bin Ali bin Husein sebagai salah satu Imam mereka, memang nama Zaidiyah memiliki hubungan erat dengan nama anggota keluarga Nabi atau ahlu bait yang pertama, setelah tragedi Karbala tahun 60 Hijriah atau 681 Masehi. Zaidisme berkembang dan dianut oleh berbagai kelompok, yang agak menonjol dan populer adalah Jarudiyah, Sulaimaniyah atau Jaririyah, dan Batriyah. Kelompok Sulaimaniyah, umpamanya, mengakui secara de facto kekhalifahan Abu Bakar dan Umar berdasarkan prinsip kebolehan kepemimpinan mafdul, dan menganggap uamt menininggalkan hal yang lebih tepat(al aslah)dengan mengabaikan Ali. Sedangkan bagi Jarudiyah yang mempercayai kedatangan Mahdi, figur yang ditunggu Muhammad an Nafs as Zakiyah.Mereka menganggapnya tidak pernah terbunuh ataupun meninggal, dialah al Mahdi al Muntazar. Di samping itu, Zaidisme yang berkembang dan bertahan di Yaman mirip Muktazilah dalam akidah, cenderung anti Murjiah dalam etika, dan berpendirian puris dalam menolak tasawuf. Juga dalam fikih ibadat Zaidiyah cenderung menunjukkan simbol dan amalan Syi'ah umpamanya adzan yang diselingi Hayya 'Ala Khairul Amal, takbir lima kali dalam shalat jenazah, menolak imam shalat yang tidak shaleh, dan menolak binatang sembelihan non muslim. Dalam fiqih kemasyarakatan, Zaidiyah menolak kawin campur(maksudnya nikah beda agama secara mutlak baik laki-laki muslim dengan wanita non muslim atau laki-laki non muslim dengan weanita muslim) dan kawin mut'ah(kawin kontrak). Ajaran fiqih Zaidiyah cukup bervariasi, kemungkinan besar disebabkan oleh fragmentasi komunitas dan terputus-putusnya entitas politik mereka. Bahkan dalam fiqih beberapa ulama Zaidiyah sulit dibedakan dari pendapat-pendapat imam fiqih empat yang terkenal ,begitu juga di antara buku-buku fiqih Zaidiyah ada yang digunakan oleh penganut mazhab yang empat, misalnya karya San'ani biasa digunakan oleh orang-orang Syafi'i . situs salafi muslim.or.id dan situs-situs Islam lain juga sering memberitakan perbedaan antara Syiah Zaidiyah dengan Syiah yang lain, (https://muslim.or.id/25664-mengenal-syiah-antara-syiah-dan-rafidhah.html)

Bisa saja kedekatan aliran Syi'ah Zaidiyah yang dianut oleh Kerajaan Mutawakiliyah itu dengan ahlussunah wal jamaah menjadi pertimbangan bagi Raja Faisal untuk membantu mereka menghadapi kudeta dari kaum republikan, mungkin hal itu juga tidak dipedulikan menginggat Raja Faisal memiliki spektrum ideologi yang lebih dekat dengan persatuan Arab meskipun di perang Yaman ini ia menentang kudeta Republikan dukungan Naser, tetapi secara umum Raja Faisal memang agak berbeda dibandingkan saudara-saudaranya,  Raja Faisal memiliki pandangan yang sedikit lebih bebas meskipun secara politik lebih berani melawan Amerika Serikat, posisi Arab Saudi yang dekat dengan Amerika Serikat karena bisnis minyak tidak membuat Raja Faisal merasa segan untuk menolak kebijakan Amerika Serikat  yang mendukung Israel, bagi Raja Faisal, Amerika lah yang harus segan kepada Arab Saudi karena Amerika lah yang membutuhkan minyak dari Arab Saudi. Raja Salman memiliki pandangan yang lebih bebas, beliau mengizinkan wanita bersekolah dan menghapuskan perbudakan, sebelumnya wanita dilarang bersekolah di Arab Saudi akibat konservatifisme para ulama salafi,sekolah perempuan tersebut di rintis oleh istri beliau yaitu Iffat/Iffah binti Muhammad al Tsunayyan, atau lengkapnya Iffat binti Muhammad bin Abdullah bin Abdullah bin Tsunayyan al Saud. seorang keturunan Abdullah bin Tsunayyan, Amir kedua Emirat Najd atau negara Saudi kedua yang keluarganya secara turun-temurun sudah tinggal di Turki, Iffat lahir di Konstantinopel atau Istambul ayah Iffat, Ahmad bekerja sebagai dokter di militer Turki Ustmani, dan syahid dalam perang Balkan. Kakeknya Abdullah bin Abdullah diberi nama sama dengan ayahnya karena secara kebetulan lahir di hari yang sama saat ayahnya diracun sampai mati di penjara kastil masmak oleh Amir Turki bin Faisal bin Abdullah karena perebutan tahta, karena itulah Abdullah pergi ke Konstantinopel, menikah dengan orang Sirkasia dan keturunannya hidup di sana.  Sebelumnya jazirah Arab juga masih ada orang yang memilik budak, terutama budak-budak keturunan para budak di masa sebelum modern, Raja Faisal memerintahkan para pemilik budak untuk membebaskan budak-budak milik mereka dan beliau membayar kompensasi sebagai biaya pembebasan budak, dan tidak boleh ada lagi perbudakan, Raja Faisal juga memberikan izin bagi bioskop, perempuan juga memiliki hak-hak yang lebih luas, mungkin ada sebagian pembaca yang pernah membaca atau mendengar bahwa Arab Saudi pernah lebih longgar dan tidak sekonservatif seperti yang biasa kita dengar, masa itu adalah masa kekuasaan Raja Faisal,  Arab Saudi dulu memiliki hubungan yang baik dengan Iran pada saat Iran masih dipegang oleh Dinasti Pahlawi, Raja Salman saat masih muda pernah memimpin penyambutan Shah Reza Pahlevi saat Raja Persia itu menemui Raja Khalid pada tahun 1978 ketika Raja Faisal sudah wafat, saat itu tidak ada konflik Sunni dan Syiah seperti setelah Revolusi Syiah Khomeini, baik Arab Saudi maupun Iran Pahlawi adalah sekutu Amerika Serikat dalam Perang Dingin menghadapi Uni Soviet. agak sulit memang untuk mencerna hubungan  antara Iran Pahlawi dengan Arab Saudi jika menggunakan kacamata kondisi sekarang saat Arab Saudi memusuhi Syiah Iran dan begitu juga sebaliknya, namun perlu diingat Pahlawi saat itu merupakan dinasti sekuler, meskipun leluhurnya Syiah namun secara kebetulan sikap sekuler dari Syah Reza Pahlavi malah membuat dirinya lebih dekat dengan ahlussunah wal jamaah, dengan menjadi sekuler tentu saja Syah Reza Pahlavi tidak perlu repot-repot mengadakan perayaan Karbala atau upacara-upacara aliran Syiah lainnya atau sibuk menghina para sahabat nabi. Kondisi yang sama juga terjadi pada penganut Syiah di Azerbaijan dan Turkmenistan, penjajahan di  sana oleh Uni Soviet menyebabkan ajaran Syiah sudah memudar, orang-orang Syiah di sana sadar kalau leluhurnya Syiah dan mengidentifikasikan diri sebagai penganut Syiah tapi sudah lupa Syiah itu apa, meskipun dulunya Persia diSyiahkan oleh Dinasti Safawi asal Azerbaijan, semoga saja para Syiah "ktp" itu tidak kembali lagi menjadi Syiah rafidhah, Azerbaijan sekarang dekat dengan Turki yang ahlussunah sufi, Azerbaijan juga memiliki konflik dengan Iran karena secara historis Tabriz di Iran barat laut adalah ibukota Azerbaijan pada masa lampau. kembali lagi ke mengapa Saudi menolong Kerajaan Mutawakiliyah, jika dengan Pahlavi yang aslinya imamiyah tapi "lupa" saja bisa dekat apalagi dengan Zaidiyah yang memang lebih dekat lagi kepada Ahlussunah. mungkin ada pembaca yang bingung dengan tulisan ini karena sekarang militan Houtsi di  Yaman sedang berperang melawan Arab Saudi dengan dukungan dari Iran, perlu diketahui milisi Houtsi sudah berubah dari Syiah Zaidiyah menjadi Imamiyah atau minimal terpengaruh, sama halnya dengan Sekte Alawi di Suriah, dulunya mereka sekte tersendiri yang memiliki ajaran sinkretis, mirip-mirip kejawen di sini, tapi ada unsur syiahnya, untuk sekte nusyairi atau alawi yang dianut keluarga al Assad akan saya bahas di lain waktu. (https://www.hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2019/01/02/157537/syiah-zaidiyah-dulu-dan-sekarang.html )Syiah Zaidiyah sudah ada yang mulai terpengaruh Syiah Imamiyah pada masa Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari
https://www.dailymotion.com/video/x6g6wx9

Sekarang saatnya untuk membahas Kerajaan Mutawakiliyah sebagai latar belakang konflik ini, mungkin pembaca yang pernah membaca sejarah hubungan antara Turki Ustmani dan Acheh pernah membaca soal belasan kapal yang dikirimkan oleh Sultan Salim II, anak Sultan Sulaiman Al Qanuni dan Hurrem, namun sebagian kapal itu dialihkan ke Yaman karena ada pemberontakan Syiah, kaum Zaidiyah inilah yang memberontak di Yaman karena mereka tidak menerima pemimpin selain dari imam mereka,para imam Syiah Zaidiyah termasuk Pendiri Kerajaan Mutawakiliyah memiliki kekuasaan di pegununggan utara tetapi tidak pernah diakui oleh Turki Ustmani. Pada sejarah Turki Ustmani Yaman telah berulang kali melakukan pemberontakan dan pada akhirnya Turki Ustmani menandatangi perjanjian Da'an( صلح دعان) dengan Imam Yahya bin Muhammad Hamidudin, anak Imam Syiah Zaidiyah Al Mansyur yang sudah lama melawan Turki Ustmani, isi peranjian itu adalah memperluas otonomi bagi penganut Syiah Zaidiyah di Yaman, Syiah di Yaman sudah berkuas sejak tahun 800an dibawah Dinasti al Qasimi, sepanjang sejarah mereka selalu menolak kekuasaan asing termasuk Ayyubiyah dan Mamalik. Imam Muhammad al Mansyur dan Yahya bin Muhammad termasuk dalam cabang keluarga Hamidudin dari Dinasti al Qasimi. Perjanjian itu bisa dianggap berdirinya Kerajaan Mutawakiliyah. Perjanjian Da'an dilatarbelakangi oleh pemberontakan Imam Yahya bin Muhammad yang mengaku sebagai Khalifah pada tahun yang sama, pemberontakan itu gagal karena kurangnya dukungan dari suku-suku dari daerah pertanian, perang itu berakhir dengan seimbang karena Turki masih kuat di pesisir dan pegunungan Tihamah  namun Turki Utsmani juga harus mengadapi Invasi Italia atas Libya atau perang Turki-Italia(https://en.wikipedia.org/wiki/Italo-Turkish_War diakses 17 September 2021). Perjanjian Daan adalah sebuah kompromi, Turki Ustmani mengakui kekuasaan Imam Yahya bin Muhammad di daerah mayoritas Syiah Zaidiyah, Garnisun Turki di Tihamah dan Pesisri masih ada namun di Shan'a (biasanya ditulis San'a, yang benar adalah Shan'a seperti pada nama Imam Shan'ani, San'a tranlisterasi Inggris) Turki hanya boleh menempatkan sedikit tetnara. Turki bejanji untuk mendukung Imam Yahya melawan orang lain dalam perebutan tahta, Imam Yahya bin Muhammad diizinkan untuk tinggal di Kawkaban, ia dijanjikan 25.000 Pound Turki dari pendapatan provinsi itu, para Syaikh besar Syiah Zaidiyah juga mendapatkan subsidi dari Turki Ustmani, pemberlakuan hukum perdata Turki dihapuskan di tujuh distrik dataran tinggi yang mayoritas warganya menganut Syiah Zaidiyah, hukum Islam yang berlaku di sana adalah hukum Islam interpretasi para ulama Syiah Zaidiyah, dan para hakim yang berkuasa di tujuh distrik adalah orang-orang pilihan Imam Syiah Zaidiyah, ketujuh distrik dataran tinggi itu adalah Amran, Kawkaban, Dhammar, Yarim, Ibb, Hajjah, dan  Hajjur, sedangkan Imam Yahya bin Muhammad melepaskan klaimnya sebagai Khalifah dan hanya memakai gelar Imam orang-orang Zaidiyah, serta tidak berhak menarik zakat di daerah yang masih dipegang Turki Ustmani. (https://en.wikipedia.org/wiki/Treaty_of_Daan diakses 17 September 2021)
Darul Hajar(rumah batu. tempat tinggal Imam Syiah Zaidiyah Yahya bin Muhammad Hamidudin pendiri Kerajaan Mutawakiliyah Yaman Utara (https://en.wikipedia.org/wiki/Yahya_Muhammad_Hamid_ed-Din#/media/File:Dar_al_hajar.jpg) 17 September 2021   Yahya Muhammad Hamid ed-Din.jpghttps://en.wikipedia.org/wiki/Yahya_Muhammad_Hamid_ed-Din#/media/File:Yahya_Muhammad_Hamid_ed-Din.jpg, sketsa wajah ini digambar pegiat literasi Arab asal Lebanon Amin Rahini karena ia menolak untuk difoto seumur hidupnya. 17 September 2021
 
Perjanjian Da'an memang hanya memberikan pengakuan atas kekuasaan Imam Yahya pada daerah mayoritas Zaidiyah, namun itu sudah memberikan pengakuan bahwa kekuasaan Zaidiyah ada, hal ini menjadi dasar untuk perkembangan selanjutnya dari Kerajaan Mutawakiliyah, Imam Yahya ini menstabilkan Yaman yang sebelumnya sering dilanda peperangan, ia termasuk orang yang berlaku adil pada orang-orang Yahudi,  Orang Orang Yahudi sangat menyukai Imam Yahya, pada tahun 1906 Orang Yahudi Shan'a  menyambutnya secara meriah  saat pasukan Turki meninggalkan Shan'a pada waktu yang singkat, ia mengangkat Yihya Yizhak Halevi (https://en.wikipedia.org/wiki/Yihya_Yitzhak_Halevi diakses pada 17 September 2021)sebagai wakil dari orang Yahudi di pemerintahannya setelah ia berkuasa. meskipun demikian ia juga menerapkan hukum kuno larangan bagi Orang Yahudi untuk mendirikan bangunan lebih tinggi dari Orang Islam, Yihya Yizhak Halevi juga bertugas untuk memungut jizyah atau pajak non muslim dari Orang-orang Yahudi, Orang Yahudi di Yaman sudah lama sering menjadi korban kekerasan ketika ada perang antar Suku di Yaman, Orang Yahudi di Yaman statusnya dibawah naungan suatu suku Arab, kadang suku-suku Arab yang saling berperang juga menyerang Orang Yahudi dibawah naungan suku Arab musuhnya, dan suku Arab yang diserang orang Yahudi bawahannya itu balik menyerang Orang Yahudi bawahan suku Arab lawannya, Situasi dibawah Imam Yahya lebih baik bagi Orang Yahudi, karena tekanan dari negara-negara Arab lain ia melarang Yahudi untuk pindah ke Israel sejak  1922, kebijakan larangan itu berlaku higga 1949 setelah Imam Yahya wafat, tapi Orang-orang Yahudi di Yaman sering menyelundupkan diri lewat protektorat Inggris di Aden, Yaman Selatan, Imam Yahya juga sebenarnya tidak peduli apakah Orang Yahudi di Yaman akan pergi ke Israel atau tidak. Secara umum masa kekuasaan Imam Yahya memang damai.
 
 Pada hari Kamis 14 November`1918 Imam Yahya mendengar keterpurukan Turki Utsmani pada Perang Dunia Pertama, ia segera pergi ke Shan'a dan sampai pada 17 November 1918 atau tiga hari sesudahnya, ia ke Shan'a untuk menemui para pemimpin suku-suku Arab seperti Suku Hasyid, Arhab, Nihm, dan Khowlan.ia tiba di rumah hakim sekaligus ulama Hussain bin Ali al Amri, dan di sana ia menerima para pejabat tinggi, ulama, pangeran Turki, para hakim, dan tempat itu juga dibanjiri rakyat Yaman yang menginginkannya menjadi pemimpin tertinggi di Yaman, Perintah pertama adalah melarang memasuki ibu kota Sana'a dengan senjata, dan menunjuk penjaga di gerbang untuk memulai pemerintahan perdamaian dan keadilan yang tak tertandingi selama tahun-tahun pemerintahannya. Kota demi kota menerima kekuasaan dan otoritas Imam Yahya; pelabuhan Mocha, dan kota Taiz termasuk di antara kota-kota terpenting pertama. Dia mengambil langkah untuk menciptakan negara modern, dan memelihara semua pejabat Ottoman yang akan tinggal untuk mendukung perkembangan pemerintahan. Pada 1919 ia menciptakan pasukan reguler dengan merekrut prajurit dari suku-suku Arab di sekitar Shan'a seperti Suku

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Abad kemunduran yang memprihatinkan Turki Ustmani, Mesir, dan Arab Saudi : pesan lintas zaman dari kejadian di masa lalu sebagai pelajaran untuk orang sekarang

Pada abad 18 Umat Islam mengalami kemunduran,Turki Ustmani sudah bukan lagi kekuatsn besar yang diperhitungkan, militernya sudah ketinggalan zaman karena adanya oknum-oknum yang menolak modernisasi, alasannya adalah menolak teknologi kafir. orang zaman itu tidsk bisa membedakan budaya dan teknologi ketika ada rencana modernisasi senjata mereka menolak dengan alasan teknologi kafir , bEgitu juga ketika muncul teknologi mesin cetak, mereka menolak dengsn alasan itu teknologi kafir dan berbahaya, padahal alasan itu dikrluarkan karena para tukang tulis buku(maaf Bahasa saya terlalu kasar) menolak mesin cetak karena jika ada mesin cetsk merekq akan kalah bersaing, merrkw itu prang terpelajar dan termasuk sedikit orsng yang biss menulis dengan baik , namun karena menolak teknologi akibat kepentingan pribadi yang bersifst singskt saya sebut mereka sebagai tukang tulis buku, tentuc saja ada yang tidak setuju seperti channrl al muqadimah. tspi biarlah saya ada dsn yang tidak setuju ada , saya t...

Andranik Ozanian dan kawan kawan: tokoh-kokoh pemberontak Armenia yang menjadi salah satu antagonis dalam Payithat Abdul Hamid II

saya memang cukup mengagumi Turki Utsmani sebagai kerajaan Islam yang besar, namun saya tidak menutup mata kalau ada cela atau aib pada Turki Utsmani, begitu juga dengan kerajaan-kerajaan Islam lainnya, karena kerajaan dan raja Islam seperti Amir, Sultan, bahkan Khalifah itu tidak ma'sum atau dijaga oleh Allah Subhanallahu Wata'ala dari dosa, bahkan khulafaur Rasyidin juga tidak ma'sum, yang ma'sum adalah rasulullah shalallahu alaihi wassalam.pengetahuan saya akan cela atau aib yang ada pada kerajaan-kerajaan Islam bukanlah sesuatu yang membuat saya ragu terhadap ajaran Islam karena kerajaan Islam sebagai mana yang saya sebutkan sebelumnya tidak ma'sum dan bisa memiliki kesalahan, yang salah adalah raja dan pemerintahannya bukan Islamnya. apabila saya menceritakan tentang aib tesebut juga bukan untuk melemahkan semangat beragama namun untuk mengingatkan kalau orang di zaman dahulu pernah berbuat salah dan jangan sampai kita mengulangi kesalahn itu, jika anda hanya ...

Pengepungan Acre Pada Perang Salib Ketiga: Sejarah Asli Kampanye Age of Empire II : The Lion and Demon

Para pengguna internet yang sudah punya komputer sejak tahun 1990an mungkin sudah tidak asing lagi dengan permainan strategi Age Of Empire II terutama seri pertamanya Age of Kings, yang mana di dalam permainan itu terdapat mode ( campaign )kampanye,skenario yang berdasarkan pada sejarah asli. Salah satu skenario kampanye yang ada adalah skenario Saladin atau Shalahudin Al Ayyubi. Skenario itu terdiri atas enam bagian dan yang terakhir adalah The Lion and Demon yang berarti "Sang Singa dan Sang Setan". Skenario itu didasarkan pada pengepungan Kota Acre, sebuah kota pelabuhan di Palestina oleh pasukan Salib gabungan dari pasukan Salib Inggris yang dipimpin oleh Richard the Lion Heart dan Pasukan Salib Perancis yang dipimpin oleh Louis Augustus. https://youtu.be/f2VDzjcIocY?si=TFMq-4u-pxN03yxu Pada skenario ini pemain diharuskan untuk membagun sebuah wonder (keajaiban dunia) dan mempertahankannya agar jangan sampai hancur sampai waktu timer wonder habis, pemenang akan menang a...