Langsung ke konten utama

Bangkit dan Jatuhnya Emirat Najd atau Imamate Najd : Negara Saudi Kedua

Saya akan membahas Emirat Najd tetapi saya tidak bisa melepaskan diri dari membahas Emirat Diriyah atau negara Arab Saudi yang pertama, Emirat Najd adalah Negara Arab Saudi yang kedua setelah runtuh nya Emirat Diriyah atau Negara Arab Saudi yang pertama, Arab Saudi memiliki sejarah yang panjang sehingga akan membingungkan apabila tidak dibahas dengan benar. sebagai contoh nama Ibnu Saud sekarang lebih banyak disematkan kepada Abdul Aziz Bin Saud raja pertama kerajaan Arab Saudi modern, sebenarnya Ibnu Saud ada lebih dari satu karena nama-nama para penguasa Daulah Bani Saud banyak yang sama, Ibnu Saud adalah julukan yang berarti anaknya Al Saud, tentu dalam satu dinasti yang memiliki nama saud banyak sehingga anaknya saud juga banyak, sosok Ibnu Saud pendiri negara Arab Saudi modern(1922-se kadang tertukar dengan Muhammad bin Saud pendiri Emirat Diriyah atau negara Saudi pertama(1744-1818), Ibnu Saud pendiri Diriyah adalah orang yang menampung Muhammad bin Abdul Wahab sekaligus menantu dan muridnya, sosok Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi(1703-1792) juga sering menjadi sumber kerancuan sejarah karena berbagai kontroversi, misalnya Muhammad bin Abdul Wahab disebut sebagai antek Inggris yang dibina oleh mata-mata Inggris yang bernama Lord Hampher, kisah itu terdapat pada dokumen yang disebut sebagai the memoar of Lord Hampher, dokumen itu sudah pernah dipastikan kepalsuannya dan mungkin adalah buatan Turki Muda, secara tahun masa hidup Syaikh Muhammad bin AbdulWahab juga masih jauh dari masa kedatangan Inggris ke Teluk Arab, sehingga mustahil inggris bisa membina orang Arab setempat melalui mata-matanya, sejarah Arab Saudi menjadi kabur di Indonesia karena kepentingan politik aliran, aliran yang setuju dengan gerakan dakwah Muhammad bin AbdulWahab cenderung menampilkan potongan-potongan sejarah yang bagus-bagus mengenai Muhammad bin AbdulWahab, gerakan dakwahnya yang sering disebut Wahabi, dan juga Arab Saudi, sedangkan pihak yang kontra sering menceritakan hal-hal buruknya, untuk baik dan buruk suatu sejarah itu tergantung pada perspektif yang melihat, kejadian yang sama dapat dilihat secara berbeda tergantung sudut pandang yang melihat, tetapi di sejarah Saudi sering terjadi kerancuan fakta yang terjadi akibat disengaja maupun tidak, kekacauan paling rusak adalah kacaunya kronologi peristiwa dan masa hidup para tokohnya, misalnya ada yang salah sangka bahwa masa Hidup Muhammad bin AbdulWahab sama dengan Abdul Aziz bin Saud dan Muhammad bin Abdul Wahab bekerjasama dengan Lawrence of Arabia, padahal seperti yang sudah saya sebut tadi, masa hidup keduanya sangat berbeda, Muhammad bin Abdul Wahab hidup tahun 1700an bukan saat Perang Dunia Pertama pada awal 1900an. Hal itu saya sadari saat mengingat Perang Padri di Sumatera Barat, buku sejarah menyebut Imam Bonjol dan para Ulama Padri terinspirasi gerakan dakwah Syaikh Muhammad bin  Abdul Wahab, Perang Padri terjadi awal 1800an, Perang Dunia Pertama terjadi di awal 1900an, tentu aneh jika Imam Bonjol lahir lebih dahulu dari Muhammad bin Abdul Wahab namun terinspirasi oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Ada juga yang melupakan peran Syarif Makkah penguasa Hijaz dalam pemberontakan Arab melawan Turki Ustmani karena satu paham, Bani Saud dianggap satu-satunya pengerak revolusi Arab, entah disengaja atau tidak tapi kesalahan seperti ini sering terjadi di Indonesia namun tidak terjadi di luar negeri, sepertinya blog-blog di Indonesia hanya meniru tulisan sesama Orang Indonesia, saya yang menyadur tulisan berbahasa Inggris belum tentu benar juga tapi paling tidak saya berusaha untuk tidak membuat kesalahan kronologi peristiwa dan masa hidup tokoh-tokoh, atau melupakan pihak besar yang terlibat.
rasanya sudah cukup panjang saya membahas kerancuan yang ada kini saatnya untuk masuk ke kilas balik Emirat Diriyah pertama sebagai awalan untuk membahas Emirat Najd

Para pemimpin atau Amir dari Emirat Diriyah;
Muhammad bin Saud
Abdul Aziz bin Saud sebut saja Abdul Aziz I sebagai pembeda dengan Abdul Aziz modern
Saud al Kabir atau Saud bin Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud
Abdullah bin Saud bin Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud
  The maximum limits reached by the first Saudi state during the reign of Saud bin Abdulaziz Al Saud in the year 1814 AD.gambar ini peta Emirat Diriyah, warna hijau gelap adalah daerah sekitar Riyadh dan Diriyah, kedua kota itu berdekatan, warna Hijau yang masih gelap tapi lebih muda menunjukkan daerah yang dikuasai oleh Muhammad bin Saud Amir Pertama Emirat atau Imarah Diriyah sedangkan warna hijau muda adalah daerah yang diperoleh oleh Abdul Aziz bin Saud atau Abdul Aziz I , sedangkan warna hijau bergaris-garis putih adalah daerah yang melepaskan diri yaitu Oman dan sebagian al Ahwaz di Iran, sebuah daerah Sunni dengan banyak populasi Arab, warna merah adalah perbatasan negara modern, dari peta ini kita dapat menyimpulkan bahwa Makkah, Madinah, dan Hijaz pada umumnya memang baru didapatkan belakangan, sebelumnya Emirat Diriyah berperang melawan penguasa Makkah dibawah Turki Ustmani yang bergelar Syarif, Emirat Diriyah mengirimkan para Da'i yang mengajak pada gerakan dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab namun para Da'i itu dipenjara karena berbeda paham, akibatnya terjadi perang, awalnya Penguasa Makkah bisa menahan serangan Bani Saud namun pada masa penguasa berikutnya yaitu Syarif Ghalib Makkah tunduk pada Bani Saud setelah Syarif Ghalib dipukul mundur ke Jeddah, pemimpin Saudi saat itu Saud bin Abdul Aziz al Saud mendapat julukan Saud al Kabir, direbutnya Kota Makkah ini direspon oleh Turki Ustmani dengan mengirimkan perintah pada Gubernur Mesir, Muhammad Ali Pasya untuk menyerang Diriyah dan merebut kembali Makkah dan Madinah dari tangan Bani Saud, saat itu Turki Ustmani dibawah Sultan Mahmud II tengah melakukan reformasi militer dan membubarkan Janisari sehingga yang dikirim adalah tentara Mesir, para tentara Mesir itu kebanyakan Orang Albania karena Muhammad Ali adalah Orang Albania, nantinya Muhammad Ali akan memberontak dan Ustmani nyaris bubar jika tidak karena intervensi Inggris, Mesir kemudian dipegang oleh keturunan Muhammad Ali Pasya sampai dikudeta oleh Jamal/Gamal Abdul Nasser, serangan terhadap Imarah Diriyah atau Dariyah itu dipicu oleh banyak sebab, salah satunya adalah kebrutalan pasukan Al Saud selama menaklukan beberapa daerah. gerakan pemurnian agama Syaikh Muhammad bin AbdulWahab memang menargetkan kesyirikan seperti orang-orang yang menyembah batu, pohon, dan para waliyullah, tetapi sebagian orang menduga serangan demi serangan yang dilakukan oleh Bani Saud tidak murni karena dakwah melawan kesyirikan namun juga demi politik, salah satu contohnya Imam Syaukani, seorang Imam Fiqih terkenal asal Yaman pernah mengalami sendiri didatangi pemimpin rombongan jamaah Haji asal Yaman yang dilarang berhaji oleh Bani Saud pada masa Saud al Kabir dan terpaksa pulang ke Yaman akibat dituduh kafir, hanya karena mereka tidak tinggal di daerah yang dikuasai oleh Bani Sauid, kejadian ini tercatat di dalam kitab beliau Al Badru Thali' , dapat diduga pengkafiran itu dilakukan atas motivasi politk agar orang mau tunduk pada ekspansi wilayah Bani Saud, sebelumnya pada saat pengepungan Makkah orang-orang di Makkah sampai terpaksa memakan anjing karena pengepungan oleh Bani Saud, Bani Saud pada saat itu juga melarang orang dari Irak, Suriah, Turki, dan Mesir untuk pergi haji dengan alasan yang sama, selain itu terdapat juga kasus kontroversial pembunuhan Ustman bin Muamar penguasa Suku Huraimila pada saat Muhammad bin AbdulWahab dan Muhammad bin Saud masih hidup. peristiwa ini tercatat dalam Unwanul Majid fi tarikhun Najd karya Ibnu Bisyr, diceritakan Muhammad bin Abdul Wahab awalnya diterima oleh Ustman bin Muammar kepala Suku di Huraimila, Abdul Wahab bin Sulaiman bin Ali, ayah Muhammad bin Abdul Wahab sangat dihormati di sana karena kakek Muhammad bin Abdul Wahab Syaikh Sulaiman bin Ali memang ulama terpandang di Najd, ia mendukung dakwah Muhammad bin Abdul Wahab  sampai Muhammad bin Abdul Wahab dan para pengikutnya merobohkan kubah makam sahabat nabi di sana, merusak tempat-tempat yang dikeramatkan, dan merajam seorang wanita yang sudah menikah dan mengaku berzina, setelah kejadian itu pemimpin Bani Khalid di al Ahsa mengancam Ustman bin Muammar, Ustman bin Muammar menyarankan Muhammad bin Abdul Wahab untuk pindah ke Dariyah tempat Muhammad bin Saud, meskipun demikian Ustman bin Muammar tetap mendukung dakwah dan peperangan Muhammad bin Abdul Wahab,sampai suatu ketika Ustman bin Muammar dan Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud hendak menyerang Suku/ daerah  Duruma. Ustman bin Muammar memutuskan untuk tidak maju dan mundur, tidak dijelaskan mengapa demikian, yang jelas Ustman bin Muammar dan Abdul Aziz I berdebat karena itu, sebagian besar pasukan mereka adalah pasukan Huraimila, dan mereka setuju dengan Ustman bin Muammar, setelah pasukan mundur Abdul Aziz melaporkan Ustman bin Muammar kepada ayahnya Muhammad bin Saud dan Muhammad bin Abdul Wahab mertuanya, pada tahun 1163 Hijriyah ustman bin Muammar dibunuh di dalam masjid setelah selesai menunaikan shalat Jum'at dan tengah menunaikan shalat sunnah ba'da jum'at, justifikasinya adalah Ustman bin Muammar telah membahayakan umat Islam, memecah belah umat Islam,dan mendekati musuh, hanya saja tidak ada detail yang lebih jelas, tidak hanya itu, kontroversi muncul dari fatwa Muhammad bin Abdul Wahab pada Suku Huraimila,. seluruh Huraimila difatwa murtad, padahal kakak kandung Muhammad bin Abdul Wahab, Sulaiman bin Abdul Wahab adalah hakim agama di suku tersebut, Muhammad bin Abdul Wahab juga meminta kakaknya untuk bertobat dari memecah belah umat dan  menyebarkan syubhat kakaknya membantah fatwa murtad adiknya dengan mengirimkan surat yang isinya " aku tidak akan tinggal bersama mereka selama satu haripun bila aku menjumpai sedikitpun kemurtadan pada diri mereka", kakaknya membuat kitab untuk membantah adiknya.  Muhammad bin Abdul Wahab menjawab dengan menyatakan seluruh Suku Huraimila adalah kafir murtad dan para ulamanya ulama yang  musyrik, serta menulis kitab mufidul mustafid untuk membantah kitab dari kakandanya. Ustman dan Sulaiman dianggap salah karena tidak menunjukkan kebencian kepada orang musyrik, orang yang membenarkan, tidak mengkafirkan, atau tidak menunjukkan permusuhan kepada orang musyrik menurut Muhammad bin Abdul Wahab juga kafir, ada banyak versi mengenai pertentangan antara Muhammad dan Sulaiman bin Abdul Wahab, penentang Muhammad bin Abdul Wahab menuduh Muhammad bin Abdul Wahab memenjarkan kakaknya sementara pendukung Muhammad bin Abdul Wahab menyebut kakaknya telah bertaubat dan dinafkahi oleh adiknya, sungguh aneh mengapa ia harus dinafkahi., ada yang menduga itu hanya penghalusan istilah untuk dipenjara, karena orang dipenjara tidak bisa mencari nafkah sendiri, selain itu Huraimila yang berpusat di Unaizah juga diserang dan dikepung berkali-kali oleh pasukan Diriyah hingga mereka menyerah, penyerangan terhadap Unaziah atau Huraimila itu diingkari oleh Firanda Andirja dalam bantahannya terhadap Marhadi Mukhayar, pembunuhan terhadap Ustman bin Muammar juga disebut oleh ustad Firanda sebagai balasan atas konspirasinya penguasa Tsamard yang membahayakan umat Islam, sedangkan larangan menunaikan ibadah haji bagi jamaah haji asal Mesir, Irak, Suriah, dan Turki terjadi bukan karena mereka dikafirkan oleh Arab Saudi namun karena ditakutkan mereka akan mendukung Syarif Ghalib bin Musaid untuk bangkit melawan Arab Saudi lagi.  kata umat Islam di sini dianggap sebagai bentuk pengkafiran kepada kelompok di luar daerah kekuasaan Muhammad bin Saud dan keluarganya karena seolah-olah muslim dan umat Islam itu sama dengan negara Saudi Diriyah, mungkin saja sebagian pengikut dakwah Muhammad bin Abdul Wahab terutama dari kalangan badui Najd menyalahgunakan gerakan dakwah tersebut untuk memerangi suku-suku di luar Najd dan merampok sebagaimana kebiasaan mereka, atau muncul perasaan di antara sebagain ahlun Najd bahwa hanya Orang Najd yang sudah bertauhid dengan benar hanya karena di daerahnya ada ulama besar yang memerangi kesyirikan, semacam sindrom bintang tapi berkaitan dengan agama dan terjadi pada sekelompok orang. sikap itu ditunjukkan pada kisah yang  diceritakan oleh al Imam Asy Syaukani di atas. ada juga yang mengatakan bahwa para Syaikh Saudi membuat takfir berantai kepada Orang Turki dan Orang Arab yang membantu Orang Turki, yang tidak menunjukkan permusuhan kepada Turki Ustmani akan dimusuhi, karena termakan propaganda Inggris bahwa Turki Ustmani negara kafir, entahlah mana yang benar, para ustad di Indonesia kebanyakan bersikap moderat pada konflik ini tapi ada satu dua blog yang mengecam Ustmani dengan keras bahkan sampai menganggap sesat,bagi saya orang bertengkar apalagi berperang pasti menyatakan bahwa dirinya yang benar, tapi jika sudah berbeda versi pasti sudah ada salah satu pihak yang salah. para pihak yang berdebat dan saling serang itu memakai buku unwanul majid fi tarikhun najd karya ibnu Bisyr (Bishir dalam ejaan Inggris) dan Tarikhun Najd karya Ibnu Ghannam, marhadi mukhayar juga memakai buku Syiah, buku mufti Makkah saat itu, Ahmad Zaini Dahlan, dan buku karangan orang Inggris beragama Budha yang saya lupa namanya, juga kitab karya Syaikh Zaini Dahlan, ada juga youtuber muslim asal Inggris keturunan Pakistan yang sering mengkritik dakwah salafi, namanya adalah Muhammad Nadim/Nahim(saya lupa, dalam ejaan Inggris huruf i nya ditulis dengan dua huruf e) Safdar, atau sering disapa sebagai Bro Hajji, ia adalah seorang salafi, berbeda dengan kebanyakan pengkritik dakwah Muhammad bin Abdul Wahab yang berasal dari Syiah, Sufi, atau Nahdiyah, ia awalnya mengkritik sesama salafi pengikut Rabi' al Makhdali, menurutnya pengikut al Makhdali memiliki standar ganda dalam mengkritik pemimpin negara muslim, mereka keras kepada pemimpin negara di luar Arab Saudi, namun menganjurkan untuk patuh dan taat pada pemerintahan di negaranya, padahal Pangeran Salman sudah mengizinkan hal-hal haram dalam padangan mereka, Safdar menganggap itu sebagai inkonsistensi, Bro Hajji ini cukup keras dan mendebat mereka soal boleh atau tidaknya melakukan khuruj, atau memberontak, pengikut syaikh al makhdali melarang pemberontakan dan mencap setiap orang yang melakukan pemberontakan sebagai khawarij, atau khariji, suatu sekte yang membunuh Ali bin Abi Thalib di masa lampau, mereka juga tidak kalah keras dan menyebut Bro Hajji sebagai seorang khawarij serta keledai, menjawab itu Bro Hajji berusaha membuktikan bahwa dalam sejarah Islam pemberontakan tidak selalu dilakukan oleh anggota sekte Khawarij, Khawarij memberontak dengan dalih pemerintahan yang dilawan sudah kafir karena melakukan dosa-dosa besar, serta menganggap semua yang bukan kelompoknya kafir, sedangkan orang yang memberontak murni karena haus kekuasaan disebut bughat, ia melakukan itu dengan membacakan kitab-kitab berbahasa Arab yang menyebutkan adanya pemberontakan bukan oleh Khawarij setelah mendapatkan banyak kecaman, ia pada akhirnya mencoba menggunakan sejarah berdirinya Arab Saudi sebagai bantahan, di sini ia berubah dari orang yang sebelumnya membantah bahwa pemberontakan itu pasti dilakukan oleh  Khawarij  menjadi orang yang menunjukkan bahwa para ulama salafi sekarang menganut versi yang lunak dari gerakan Muhammad bin Abdula Wahab, ia mengatakan kitab-kitab Muhammad bin Abdul Wahab yang menolak orang menyembah wali bermanfaat dan ia banyak belajar dari kitab-kitab itu, tidak memiliki masalah dengan ajaran di dalamnya, menurut dia masalahnya malah ada pada Klan Saud yang memperluas kekuasaan dengan kedok dakwah, misalnya ia mengutip fatwa dari klan Saud bahwa orang yang tidak memusuhi musuh Muhammad bin AbdulWahab tauhidnya tidak bermanfaat meskipun sudah bertauhid.. ia menggunakan buku Ibnu Bisyr, Ibnu Ghannam, kitab Imam Syaukani yang sudah disebut tadi, dan juga mudiful mustafid, kritiknya berbeda dari kritik Marhadi Mukhayar, atau lebih dikenal dengan nama penanya yaitu Idahram yang merupakan kebalikan dari Marhadi, Ustad Marhadi berasal dari kalangan Nahdiyah, namun dituduh Syiah karena mungkin para ustad Salafi mengira lawan dari salafi kebanyakan dari Syiah, karena itulah dalam merespon Ustad Marhadi ini, Ustad Firanda malah menulis buku berjudul sejarah berdarah sekte Syiah, juga seri tulisan sebanyak tiga belas seri berjudul koleksi dusta idahram, dari ketiga belas seri itu yang membantah sejarah yang ditulis Ustad Marhadi hanya di bagian akhir, bagian awal membantah Syiah, bagian tengah membantah hubungan Najd, Saudi, Wahabi dan Khawarij.  dulu Marhadi Mukhayar menyebut Ustman bin Muammar dibunuh saat shalat jumat di masjid, hal itu dibantah ustad Firanda, Marhadi juga menyebut Unaynah diserang dan dikepung beberapa kali oleh pasukan Diriyah dan juga dibantah menurut ustad Firanda Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab langsung mengangkat saudara Ustman bin Muammar sebagai amir baru esok harinya setelah saudaranya dibunuh, orang Inggris keturunan Pakistan itu mengatakan Ibnu Muammar itu dibunuh setelah shalat jumat di masjid saat sedang shalat sunnah setelah shalat jumat, daerahnya huraimila dan yang diserang berkali itu Huraimlia, Arab Saudi dan Salafi pada masa itu bukan Khawarij tapi menyalahgunakan gerakan dakwah untuk memperluas daerah kekuasaan.  aneh versinya berbeda-beda tapi semuanya menyertakan scan dari kitabnya, saya tidak bisa bahasa arab, jika bisa saya cek, saya hanya bisa mengucapkan wallahualam bishawab.  TAKFEERI TENDENCIES | MUHAMMAD IBN ABDUL WAHAB & THE EARLY NAJDIYAAH = FOREFATHERS OF ISIS | PART 3 - Bing video ini video bro hajji, dia menyatakan bahwa cara seperti itu membukakan jalan bagi kelompok khawarij seperti ISIS meskipun Muhammad bin AbdulWahab dan Bani Saud bukan khawarij. Membongkar Koleksi Dusta Syaikh Idahram 12 – SEJARAH DUSTA VERSI IDAHRAM | CatatanMuslimManado (wordpress.com) Membongkar Koleksi Dusta Syaikh Idahram 13 – SEJARAH DUSTA VERSI IDAHRAM | Firanda.com ini bantahan Firana Andirja kepada Marhadi Mukhayar , Unwan Al-majd Fi Tarikh Najd ' - 'Uthman ibn 'Abd Allah ibn Bisr - Google Booksتـاريـخ ابن غـنـام - Tarikh Ibn Ghannam - ArabicBookshop.net - Supplier of Arabic Bookskitab yang dipakai dalam perdebatan Salafi Aqeeda - THE FLAMING FALCON SWOOPING DOWN ON THE DISSENTERS OF THE HANBALI MADHHAB (salafiaqeedah.blogspot.com) blog yang kontra dari luar negeri, judulnya mirip cerita silat wkwkwk, alap-alap berapi menukik menerjnag ke orang-orang yang menyimpang dari mazhab Hambali. soal kekejaman bisa jadi itu ulah oknum badui yang menyalahgunakan kewenangan tetapi ada juga yang menduga bahwa Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud memang menjadi lebih keras dibandingkan dengan ayah dan mertuanya . hal ini bisa dilihat pada referensi yang digunakan wikipedia Inggris untuk Abdu lAziz bin Saud, wikipedia memang bisa diubah-ubah oleh para editornya, tetepi wikipedia Bahasa Inggris memiliki lebih banyak sumber valid di catatan kaki, sumber-sumber itu banyak yang merupakan karya orang terpelajar sehingga tidak bisa diremehkan, 
 Oleh: Syaikh Nashr Ibnu Hamd Al Fahd
Sesungguhnya di antara syubhat yang dihembuskan seputar dakwah Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah adalah bahwa ia keluar membangkang terhadap Daulah Khilafah ‘Utsmaniyyah!!…dan bahwa dakwahnya itu adalah memecah belah kaum muslimin ….!!
Banyak ulama yang membela dakwah Syaikh Muhammad telah menulis buku di dalam membantah syubhat ini, dan akhir ujung pernyataan mereka adalah: “Bahwa Nejed itu adalah wilayah tersendiri di luar kekuasaan Daulah ‘Utsmaniyyah, oleh sebab itu kekuasaan dakwah Syaikh di sana itu bukanlah sebagai sikap pembangkangan terhadapnya”.[1]

Dan pada hakikatnya sesungguhnya pernyataan ini adalah tidak benar, karena tiga hal:
Pertama: Bahwa penguasaan secara nama terhadap Nejed adalah berada di tangan Daulah ‘Utsmaniyyah, karena penguasaan itu ada di Hijaz, Yaman, Ahsa, Irak dan Syam, kharaj (upeti) para amir Nejed adalah datang kepada mereka dari sebagian wilayah-wilayah ini.[2]
Ke dua: Sesungguhnya andai kita menerima bahwa Nejed itu adalah wilayah yang berdiri sendiri, namun sesungguhnya dakwah Syaikh Muhammad telah masuk ke Hijaz, Yaman, Ahsa, kawasan teluk dan pinggiran Irak dan Syam, dan mereka menyerang Karbela dan mereka mengepung Damaskus, sedangkan semuanya tanpa diragukan lagi adalah berada di bahwa kekuasaan Daulah ‘Utsmaniyyah.
Ke tiga: Bahwa pernyataan aimmatud dakwah rahimahumullah adalah sepakat bahwa Daulah ‘Utsmaniyyah itu adalah Dar Harb (Negara Kafir Harbi) kecuali orang yang menyambut dakwah tauhid –sebagaimana yang akan datang penjelasannya insya Allah-.
Dakwah Syaikh rahimahullah adalah dakwah kepada tauhid yang murni dan perang terhadap syirik dan penganutnya, sedangkan di antara pelindung kemusyrikan di zaman itu adalah Daulah ‘Utsmaniyyah, sehingga dakwah ini pun mengumumkan perang terhadapnya. Dan berikut ini saya akan menuturkan ucapan-ucapan aimmatud dakwah dan para pengikutnya yang semuanya menjelaskan sikap mereka terhadap Daulah ‘Utsmaniyyah ini: [1] Da-aawa Al Munawi-iin 233-240. [2]Ad Daulah Al ‘Utsmaniyyah 1/20 dan ‘Unwanul Majdi 1/97 dan yang sesudahnya
https://kclpure.kcl.ac.uk/portal/files/103826528/2015_Al_Saud_Turki_bin_Khaled_0957829_ethesis.pdf,{https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwjc-LvznpDzAhWVf30KHQICDmgQFnoECBIQAQ&url=https%3A%2F%2Fen.wikipedia.org%2Fwiki%2FTurki_bin_Faisal_Al_Saud&usg=AOvVaw0Yz5uQcnaJmClW4CiGzkfj}link ini adalah link ke tesis setebal 321 halaman karya Turki bin Khaled al Saud salah seorang pangeran Saudi anak dari Raja Faisal dan juga seorang diplomat, disertasi tersebut dibuat olehnya saat kuliah di King's College University of London, tesis ini berjudul A historical study of Saudi-Iranian relations and regional order 1929-2014 , meskipun tema tesis ini adalah hubungan Arab Saudi dan Iran secara histors tesis ini menjadi rujukan pada catatan kaki mengenai penaklukan Abdul Aziz terhadap Riyadh yang dipimpin oleh Dahham bin Dawwas, orang yang menurut salah satu situs salafy Indonesia disebut kejam, perang itu berlangsung selama 25 Tahun sejak zaman Muhammad bin Saud sampai berhasil ditaklukkan oleh AbdulAziz bin Muhammad bin Saud, entah mungkin saja orang-orang salah baca dan mengira itu penaklukan Huraymila atau Uyainah, laman wikipedia juga menyebutkan bahwa Abdul Aziz mulai mengauasai Najd setelah menguasai Riyadh, catatan kakinya merujuk kepada disertasi setebal 446 halaman berjudul the first saudi state in arabia ( with special reference to it's administrative, military and economic features) in light of unpunblished materials from arabic and european sources karya Muhammad S.M el Shaafy, selanjutnya juga ada disertasi  https://books.google.co.id/books/about/Abdul_Aziz_Al_Saud_and_the_Great_Game_in.html?id=6d0vnQEACAAJ&redir_esc=y yang sudah dibukukan karya Hasan Syed Abedin yang juga alumnus King's College London , meskipun wikipedia bisa diragukan tetapi wikipedia Bahasa Inggris bukan kaleng-kaleng dalam masalah sumber, pembaca yang ragu bisa mencek buku-buku tebal tersebut, tapi saya tidak akan membahasnya di sini karena ini tentang Negara Saudi ke Dua,

 Saya sudah membuat tentang awal Saudi modern dan Insya Allah akan membuat artikel tentang negara Saudi pertama yang kontroversial . saya certakan sedikit dahulu. cuma untuk kritik dari bro Hajji soal anggapan bahwa orang yang tidak masuk ke kekuasan Al Saud dianggap kafir saya belum pernah mendengar fatwa seperti itu dari para ustad salafi, yang pernah saya dengar dan baca dari situs-situs salafi adalah larangan pergi ke negera kafir untuk berwisata, untuk larangan berwisata ini salah satu teman saya bahkan ada yang tidak mau berwisata ke daerah mayoritas non muslim di Indonesia, tinggal dan menetap di negara kafir, mentap di negara kafir dianggap menyerupai orang kafir, dan dilarang pergi ke negara kafir untuk belajar bila ilmu itu bisa dipelajari di negara muslim, senada dengan itu ada ustad salafi yang mengatakan bahwa pergi ke negeri kafir bisa membuat muslim tefitnah, saya pernah dengar dari ustad agung waspodo di channel mths official bahwa pernah ada fatwa di luar najd kafir tapi saya belum pernah baca dan dengar langsung, namun saya pernah mendengar ceramah yang mirip saat shalat jum'at di masjid dekat rumah saya dari mantan tokoh HTI, ustad tersebut membacakan ayat yang menurut beliau berisi tentang orang-orang muslim di Makkah yang tidak mau hijrah di Madinah karena mementingkan dunia, ketika terjadi peperangan dengan kaum muslimin akhirnya mereka diwajibkan oleh pemimpin Makkah untuk membela Makkah, pada akhirnya ada diantara mereka yang mati di perang badar dalam kondisi bertempur di pasukan Quraisy, para malaikat betanya kepada mereka bagaimana bisa mereka mati dalam keadaan seperti itu, kalau tidak salah mereka mengaku terpaksa, tapi para malaikat itu menjawab bahwa bumi Allah itu luas , mengapa kalian tidak berhijrah, saya lupa itu surat apa dan ayat ke berapa, bunyi aslinya maupun terjemahannya juga lupa. mungkin saja emirat  Diriyah mengambil sikap yang sama kepada orang muslim yang tidak mau mendukung dakwah anti syirik mereka, bagi emirat diriyah orang yang membiarkan kesyirikan sama saja , sikap itu ditujukan dengan adanya fatwa untuk memerangi suku-suku Arab yang membantu Turki Ustmani dalam perang , jika memang emirat diriyah menganggap Turki Ustmani Musyrik sudah seharusnya ustad-ustad di Indonesia terbuka, cari saja daulah ustmaniyah dari segi tauhid di google, anda akan menemukan salafi keras yang pandangannya terhadap Turki Ustmani lebih tegas daripada para ustad mainstream, sepertinya para ustad mainstream itulah yang tidak terbuka dan emirat diriyah memang mengkafirkan Turki Ustmani. keterangan soal kesesatan Turki Ustmani menurut Emirat Diriyah saya dapatkan http://mi-wp.blogspot.com/2011/06/hakikat-daulah-ustmaniyyah-turki.html?m=1 oleh Syaikh Nashr Ibnu Hamd Al Fahad, SIKAP DAKWAH SYAIKH MUHAMMAD IBNU ABDIL WAHHAB TERHADAP DAULAH ‘UTSMANIYYAH | MI WP (mi-wp.blogspot.com) , link ini dari blog yang sama degan penulis yang sama, meskipun link di atas bermaksud membantah tuduhan bahwa Diriyah memberontak namun di sana tertulis bahwa Daulah Ustmaniyah adalah pelindung kemusyrikan, meskipun ini hanya sebuah blog namun isinya cukup berat dengan referensi merujuk keapda buku-buku yang berbahasa Arab, sebagian link catatan kaki juga mengacu kepada buku-buku sejarah umum jika yang dibicarakan hanya fakta sejarah bukan ajaran agama, ada link yang mengacu pada WordPress.com — Your Blogging Home, millahibrahim.WordPress.com, saya pernah membaca wordpress millahibrahim dan isinya mirip , situs itu merupakan salah satu situs keras yang diberangus oleh kominfo pada tahun 2014, millahibrahim mungkin "situs asli" sedangkan blog yang saya kutip itu hanya tiruan, beruntung blog itu tidak ikut diberangus, sehingga ada bukti bahwa kelompok tersebut pernah melakukan takfir terhadap Turki Ustmani, blog itu mungkin tidak diberangus  karena kurang populer, hemat saya situs-situs radikal jangan diberangus total karena kesesatan kaum radikal menjadi tersembunyi, isi lain di sana adalah tulisan aman abdurrrahman pentolan Jamaah ANshorut Daulah yang berafiliasi dengan  ISIS, APAKAH PELAKU SYIRIK AKBAR KARENA KEJAHILAN, TAQLID, TAKWIL ATAU IJTIHAD DI ’UDZUR? | MI WP (mi-wp.blogspot.com), rupanya pentolan JAD itu sudha aktif sejak 2011, maksud tulisan itu adalah untuk tidak memberikan udzur kepada pelaku "kemusyirkan", menurut pandangan mereka ,di sini masih ambigu tidak  meberikan udzur itu apa, apakah harus menasehati atau boleh menggunakan kekerasan, tetapi tulisan lain pada situs tersebut mengarah ke pengkafiran atau takfir, Syarat Takfier Mu'ayyan | MI WP (mi-wp.blogspot.com) , tulisan ini mengatakan bahwa jika orang sudah diberi hujjah atau dalil tapi tidak mau tobat dan ta'at maka kafir, tentu saja hujjah al Qur'an mereka sesuai dengan penafsiran mereka, sehingga bila ada orang yang membantah ketika diberi dalil dari Al Qur'an menurut tafsiran mereka, maka mereka anggap kafir, tulisan-tulisam di sana berbahaya namun menurut hemat saya jangan diberangus secara total oleh pemerintah namun juga harus diberikan sebagian untuk dibantah para ulama yang lurus, di situs itu ada larangan menjadi pegawai negeri, masalah thogut, takfir dan sebagainya. saya menemukan pengkafiran terhadap Turki Ustmani yang tadi saya sebut, referensinya dari millah ibrahim.wordpress sehingga tidak bisa dibuka WordPress.com, situs itu selama ini hanya saya buka bagian daulah ustmaniyah ditinjau dari segi tauhid, baru saja saya menemukan pengkafiran kepada turki ustmani seperti yang dikabarkan oleh bro hajji pada tulisan yang berjudul SIKAP DAKWAH SYAIKH MUHAMMAD IBNU ABDIL WAHHAB TERHADAP DAULAH ‘UTSMANIYYAH | MI WP (mi-wp.blogspot.com) , kutipan di bawah itu adalah catatan kaki di artikel di atas, link di atas membantah bahwa Syaikh Muhammad bin AbdulWahab memberontak, Najd tidak memberontak karena Najd tidak termasuk kekuasaan Turki Ustmanim tulisan-tulisan bernada pembelaan kepadanya juga banyak mengangkat tema yang sama, sebenarnya itu pembelaan yang benar sekaligus salah, benar karena memang tidak memberontak tetapi salah karena meskipun tidak memberontak tetap saja menyerang muslim yang lain, salah satu sumber yang dikutip oleh saudinesia dalam membela hal ini  dengan santainya menggunakan istikah ekspansi , seolah ekspansi tidak masalah, tentu sekarang Arab Saudi modern dan banyak ulama wahabi sudah berbeda, Syaikh Ustman al Khamis dari Kuwait misalnya mengatkan Turki Ustmani Khilafah dan Islami meskipun ada kesalahan , musuh dakwah najdiyah atau wahabiyah sering mengutip pengkafiran terhadap Turki Ustmani dan daerah di luar kekuasan Diriyah untuk menghambat dakwah salafi atau wahabi modern , sedangkan saalfi atau wahabi biasanya melakukan pembelaan seperti di atas , itu adalah siklus debat kusir tanpa henti, sebaiknya salafi atau wahabi mengakui kekerasan dan pengkafiran kolektif dan berantai, seperti di atas secara jujur dan mengatakan bahwa itu semua memang penyalahgunaan dakwah untuk tujuan politis, sayangnya hal itu tampaknya akan sulit untuk dilakukan karena mereka tidak bisa memisahkan dakwah dengan negara Arab Saudi , sebagi kerajaan pasti mereka mengusung prinsip mikul dhuwur mendem jero, sekalipun mereka itu  kerajaan Arab, bukan Kerajaan Jawa namun idiom Jawa itu sebenarnya cocok karena mereka tidak mau mengakui dan menutupi bahwa leluhur mereka yang mereka junjung tinggi  sudah melakukan hal-hal yang buruk.

  1. Al Imam Su’ud Ibnu ‘Abdil ‘Aziz rahimahullah (Wafat 1229 H)
Dan telah lalu saya nukilkan ucapannya tentang Daulah ‘Utsmaniyyah ini, dan di antara ucapannya juga di dalam surat yang beliau kirim kepada gubernur Baghdad: “Dan adapun ucapan kalian: ”Bagaimana dengan kebodohannya ini berani lancang membangkitkan fitnah dengan mengkafirkan kaum muslimin dan ahli kiblat serta memerangi kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir…” maka kami katakan: “Sungguh telah lalu bahwa kami tidak mengkafirkan dengan sebab dosa, namun kami hanyalah memerangi orang yang menyekutukan Allah dan menjadikan tandingan bagi-Nya yang mana dia memohon kepadanya seperti dia memohon kepada Allah, dia berkurban untuknya seperti dia berkurban untuk Allah, dia nadzar baginya seperti dia nadzar bagi Allah, dia takut kepadanya seperti dia takut kepada Allah, dia beristighatsah kepadanya di dalam kondisi susah dan di dalam memohon manfaat, dia berperang di dalam rangka melindungi berhala-berhala dan kubah-kubah yang dibangun di atas kuburan yang dijadikan berhala yang disembah selain Allah. Dan bila kalian memang benar di dalam klaim kalian bahwa kalian berada di atas millatul Islam dan mutaba’ah kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka hancurkanlah berhala-berhala itu semuanya dan ratakanlah dengan tanah serta taubatlah kalian kepada Allah dari semua syirik dan bid’ah-bid’ah itu…” terus beliau berkata: “Dan adapun bila kalian tetap berada di atas keadaan kalian ini dan kalian tidak taubat dari syirik yang kalian anut dan kalian tidak mau komitmen dengan dienullah yang mana Allah telah mengutus Rasul-Nya dengannya serta kalian tidak meninggalkan syirik, bid’ah-bid’ah dan khurafat-khurafat itu, maka kami akan senantiasa memerangi kalian sampai kalian kembali kepada agama Allah yang lurus”.[3]
  1. Syaikh Sulaiman Ibnu ‘Abdillah Ibnu Muhammad Ibnu ‘Abdil Wahhab rahimahullah (Wafat 1233 H).
Sesungguhnya Turki tatkala menginvasi negeri tauhid, maka Syaikh Sulaiman Ibnu ‘Abdillah rahimahullah menulis kitab yang diberi judul –Ad Dalaail– yang menjelaskan kemurtaddan dan kekafiran orang yang membantu dan mendukung mereka walaupun dia itu tidak berada di atas ajaran mereka –di dalam syirik itu– dan di dalamnya beliau menuturkan lebih dari dua puluh dalil terhadap hal itu, serta beliau menjuluki pasukan yang menginvasi itu dengan julukan Junud Al Qubab Wasy Syirki (Pasukan Kubah dan Syirik).[4] [4] Ad Durar Assaniyyah 7/57-69.
  1. Syaikh Hamd Ibnu ‘Atiq rahimahullah (Wafat 1301 H)
Sesungguhnya beliau rahimahullah tergolong ulama yang paling keras sikapnya terhadap Daulah ‘Utsmaniyyah ini, dan silahkan lihat surat-surat yang saling silih bergantian antara beliau dengan Syaikh Abdullathif Ibnu Abdurrahman Ibnu Hasan dalam jilid ke tujuh dari Ad Durar Assaniyyah, dan saya telah menuturkan sebagiannya. Tatkala pasukan Daulah ‘Utsmaniyyah yang kafir itu masuk ke Jazirah Arab, maka sebagian para pengkhianat dan orang-orang Badui yang sesat masuk ke dalam barisan mereka. Sebagaimana Syaikh Sulaiman Ibnu Abdullah menulis kitab Ad Dalaail tatkala orang-orang ‘Utsmaniyyah masuk ke Jazirah Arab di zamannya prihal hukum membantu mereka, maka Syaikh Hamd rahimahullah ta’ala menulis kitab yang beliau namai Sabilun Najah Wal Fikak Min Muwalatil Murtaddin Wal Atrak[10] prihal pengkafiran orang yang membantu pasukan yang dinamakan pasukan negara Islam ini…!!! [10] Kitab ini masyhur dengan nama Sabilun Najah Wal Fikak Min Muwalatil Murtaddin Wa Ahlil Isyrak sebagai pengganti Sabilun Najah Wal Fikak Min Muwalatil Murtaddin Wal Atrak, namun yang benar wallahu a’lam adalah apa yang saya sebutkan karena beberapa sebab:
  1. Bahwa naskah asli adalah dengan judul ini, dan ia itu ada di zaman Syaikh. Lihat Sabilun Najah dengan tahqiq Al Furayyan hal 12.
  2. 2. Bahwa Syaikh sendiri menyebutkan nama ini di dalam khutbah kitabnya. Sabilun Najah hal 24.
  3. 3. Bahwa waktu penyusunan mengisyaratkan kepada penamaan ini, seperti ucapannya hal 35: (Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim) (Al Maidah: 51), dan begitu juga orang yang tawalli kepada orang-orang Turki maka dia itu Turki juga) Wallahu a’lam.
  1. Syaikh Sulaiman Ibnu Sahman rahimahullah (Wafat 1349 H).
Beliau rahimahullah berkata di dalam sya’irnya:
وما قال في الأتراك من وصف كفرهم
.
فحق فهم من أكفر الناس في النحل
.
وأعداهم للمسلمين وشرهم
.
ينوف ويربو في الضلال على المللْ
.
ومن يتول الكافرين فمثلهم
.
ولا شك في تكفيره عند من عقلْ
.
ومن قد يواليهم ويركن نحوهم
.
فلا شك في تفسيقه وهو في وجلْ
.
Apa yang dikatakan tentang Turki prihal sifat kekafiran mereka
Maka itu benar, mereka tergolong yang paling kafir di dalam semua ajaran
Permusuhan dan kejahatan mereka kepada kaum muslimin
Adalah melambung dalam kesesatan di atas semua agama
Barangsiapa tawalli kepada kaum kafir maka dia seperti mereka
Dan tak diragukan pengkafirannya menurut orang yang memahami
Dan siapa yang kadang muwalah dan cenderung kepada mereka
Maka tak diragukan kefasiqannya sedang dia dalam ketakutan.[12] [12] Diwan Ibnu Sahman hal 191.
  1. Syaikh Abdullah Ibnu Muhammad Ibnu Sulaim rahimahullah (Wafat 1351 H).
Beliau rahimahullah duduk di sore hari (di pojok Mesjid Jami) menunggu shalat Maghrib, sedangkan di shaf terdepan ada orang-orang yang tidak mengetahui keberadaan dan kehadiran Syaikh di sana, maka salah seorang dari mereka berbicara kepada kawannya seraya berkata: “Telah sampai berita kepada kami bahwa Daulah ‘Utsmaniyyah telah jaya dan panji-panjinya telah menang…”, dan diapun mulai memuji daulah itu. Kemudian tatkala Syaikh telah selesai melaksanakan shalat dengan orang-orang, maka beliau memberikan wejangan dengan wejangan yang menyentuh, dan beliau mencela ‘Utsmaniyyin dan mencela orang yang mencintai dan memuji mereka: Wajib atas orang yang telah mengatakan ucapan itu untuk bertaubat dan menyesal, dan dien macam apa bagi orang yang mencintai orang-orang kafir dan dia senang dengan kejayaan dan kemajuan mereka?! Dan bila orang muslim tidak menisbatkan dirinya kepada kaum muslimin maka kepada siapa dia menisbatkan dirinya?”[13][13] Tadzkirah Ulin Nuha 3/275.
  1. yaikh Husen Ibnu ‘Ali Ibnu Nafisah[14] berkata di dalam sya’irnya:
فيادولة الأتراك لا عاد عزكم
.
علينا وفي أوطاننا لا رجعتمو
.
ملكتم فخالفتم طريق نبينا
.
وللمنكرات والخمور استبحتمو
.
جعلتم شعار المشركين شعاركم
.
فكنتم إلى الإشراك أسرع منهمو
.
تزودتمو دين النصارى علاوة
.
فرجساً على رجس عظيم حملتمو
.
فبعداً لكم سحقاً لكم خيبة لكم
.
ومن كان يهواكم ويصبو إليكمو
.
Hai Negara Turki semoga tidak kembali kejayaan kalian
Atas kami dan semoga kalian tidak kembali di negeri kami
Kalian berkuasa, terus kalian malah menyelisihi jalan Nabi kami
Dan kalian legalkan segala kemungkaran dan minuman khamr
Kalian jadikan syi’ar kaum musyrikin sebagai syi’ar kalian
Maka kalian lebih cepat menuju kemusyrikan daripada mereka
Kalian jadikan ajaran nashrani sebagai acuan
Maka kotoran di atas kotoran besar kalian memikulnya
Enyahlah kalian, binasalah kalian dan rugilah kalian
Dan juga orang yang bergabung dan bersanding dengan kalian.[15]
[14] Termasuk orang yang sejaman dengan Syaikh Sulaiman Ibnu Sahman.
[15] Tadzkirah Ulin Nuha 2/149, dan ada di dalam sya’ir Shalih Ibnu Sullam yang di dalamnya ada bela sungkawa terhadap Syaikh Sulaiman Ibnu Sahman:
وأوضح حكم الترك في ذا وكفرهم      وحكم التولي والموالاة للدولْ
Di dalamnya saya jelaskan status Hukum Turki dan kekafiran mereka
Juga hukum tawalliy dan muwalah kepada negara-negara itu
Tadzkirah Ulin Nuha 3/254.
[16] Sebagian ulama dakwah tauhid berkata: “Maka siapa yang tidak mengkafirkan para pelaku syirik dari kalangan negara Turki dan ‘Ubbadul Qubur seperti penduduk Makkah dan yang lainnya yang beribadah kepada orang-orang shaleh, dia berpaling dari Tauhidullah kepada syirik dan dia merubah Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dengan bid’ah, maka dia kafir seperti mereka meskipun membenci ajaran mereka, tidak menyukai mereka dan mencintai Islam dan kaum muslimin, karena orang yang tidak mengkafirkan para pelaku syirik adalah tidak membenarkan Al Qur’an, sebab Al Qur’an telah mengkafirkan para pelaku syirik dan memerintahkan untuk mengkafirkan mereka, memusuhinya dan memeranginya” [Ad Durar As Saniyyah : 9/291] (pent).
[17] Ulama Najd karyanya hal 56.
Kritik dari lawan dakwah Salafi atau Wahabi juga pada orang-orang atsari tertentu seperti Bro Hajji juga kerap mengkaitkan Muhammad bin Abdul Wahab dengan gerakan ekstrem modern seperti Al Qaidah, Boko Haram, ISIS, maupun kelompok lokal seperti Ash Shahaab di Somalia, namun tudingan itu dibantah oleh kelompok salafi atau wahabi resmi yang berafiliasi dengan kerajaan Arab Saudi yang sudah moderat, sebenarnya perdebatan ini bukan cuma dua arah tetapi merupakan perdebatan segitiga, kelompok-kelompok ekstrem di atas juga mendebat "salafi/wahabi resmi" binaan Kerajaan Arab Saudi, dan begitu juga sebaliknya, kelompok-kelompom ekstrem itu dan "wahabi resmi" saling tuduh bahwa lawannya lah yang menyimpang dari manhaj yang benar, muncul istilah-istilah seperti khawarij dn murji'ah, khawarij artinya adalah kelompok yang keluar dari ketaatan, di Arab Saudi istilah ini sinonim dengan teroris, ini juga nama dari kelompok yang keluar dari pasukan Sayyidina Ali setelah beliau menempuh proses arbitrase(tahkim) untuk menyelesaikan konflik dengan Muawiyah bin Abi Sufyan, memberontak disebut sebagai khuruj, mohon jangan dirancukan dengan khuruj dakwahnya jamaah tabligh, khuruj memang artinya keluar, khawarij keluar dari jamaah Khalifah Ali, sedangkan khurujnya jamaah tabligh itu keluar dari ruma huntuk berdakwah. orang yang memberontak atau cuma mengkritik pemerintah biasa mendapatkan cap khawarij dari salafi resmi, salafi resmi biasanya juga mempromosikan dakwahnya dengan mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang mengajak untuk taat kepada pemerintahan yang sah, biasanya hal ini dipertanyakan oleh kelompok ekstrem dengan mempertanyakan keabsahan pemerintah yang tidak berdasarkan syariat Islam, sedangkan kelompok Partai Islam mendebat larangan protes, demonstrasi, dan kritik dengan dasar Indonesia adalah negara demokrasi bukan monarki seperti Arab Saudi. Salafi atau Wahabi resmi sering menuduh pengkritik pemerintah seabagi khawarij, apalagi sampai memberontak, padahal tidak semua pemberontakan memiliki motif pengkafiran pemerintah seperti yang dilakukan oleh khawarij, dalam sejarah ada banyak pemberontakan yang dilakukan murni oleh motif politik, di EMIRAT NAJD yang sedang anda baca ini akan ada banyak pemberontakan non khawarij oleh sesama anggotakeluarga Al Saud
 murji'ah saya tidak begitu paham, tapi kata itu di alamatkan oleh kelompok-kelompok ekstrem itu kepada "wahabi resmi" yang dianggap abai kepada "kelonggaran" Pemerintahan Arab Saudi, sebenarnya sudah pernah ada permberontakan pasukan al ikhwan, pasukan badui iregular Arab Saudi, bukan ikhwanul muslimin,  kepada Arab Saudi di masa Raja Abdul Aziz, mereka memberonak karena  mereka menolak modernisasi dan dilarang menyerang Irak yang saat itu merupakan daerah Inggris setelah perang Dunia Pertama, selain itu Juhaiman Al Utaibi yang juga masih kerabat dari anggota Al Ikhwan melancarkan kudeta di Makkah tahun 1979. kalau tidak salah murjiah ini maksudya orang yang mendiamkan maksiat karena dianggap takdir, mereka juga berdebat mengenai udzur bil jahl, atau udzur karena ketidaktahuan, ada ustad salafi di INDONESIA yang dalam ceramahnya menasehati para penuntut ilmu untuk tidak menyibukkan diri dengan perkara udzur karena ketidaktahuan ini , tentu saja sebenarnya bukan kalangan awam saja yang akan kacau jika membaca doktrin ini , udzur karena ketidaktahuan sebenarnya adalah penyeimbang untuk doktrin lain mereka yang keras , orang yang tidak tahu diberi udzur agar tidak dikerasi , saya rasa cukup sampai di sini membahas doktrin keagamaannya paragaraf selanjutnya akan lebih banyak membahas sejarah Emirat Najd dari tahun  1840 sampai 1891. 

Pasukan Mesir yang dipimpin oleh anak Muhammad Ali dan juga dilatih oleh Ahmad Bonaparte seorang mualaf dari tentara Napoleon asal Skotlandia, yang tertinggal di Mesir berhasil mengalahkan pasukan Gubernur Saudi di Hijaz, Gubernur Saudi itu kemudian digantikan oleh istrinya yang dijuluki tentara Mesir sebagai Ghalliyah al Wahabiyah atau Ghalliyah si wanita Wahabi. Ghaliyah pada akhirnya juga terbunuh, tentara Albania Mesir kemudian menerobos gurun Najd dengan cara berpindah dari satu oasis ke oasis yang lain sambil melawan pasukan Saudi di sepanjang jalan, samapi akhrinya Kota Diriyah dikepung, pada saat itu kepemimpinan Bani Saud sudah berpindah ke amirnya yang  ke empat Abdullah bin Al Saud, anak Muhammad Ali digantikan oleh saudaranya karena dianggap terlalu lunak, Abdullah mencoba untuk berunding tetapi ditolak karena pasukan Mesir dan Albania sudah hampir menang, akhirnya ia menyerah dengan syarat-syarat yang sangat memberatkan seperti benteng kota Diriyah harus dirobohkan, Abdullah dan beberapa orang anggota keluarga Al Saud yang laki-laki dan beberapa anggota keluarga Alu Syaikh, keturunan Muhammad bin Abdul Wahab dibawa ke Kairo sebagai tahanan, ada yang dipenjara, ada yang dibawa ke Istambul termasuk Amir Abdullah untuk diadili, dan dari keluarga Alu Syaikh ada yang sekolah di Al Azhar sekaligus menjelaskan gerakan dakwah yang dibawa oleh kakeknya Muhammad bin Abdul Wahab, di sana ia sempat menulis kitab penjelas atau Syarah terhadap Kitabut Tauhid karya kakeknya. Abdullah dan anggota keluarga yang dibawa ke Istambul dihukum pancung pada kekuasaan Sultan Mahmud tahun 1818, sebelum dipancung ia dipaksa mendengarkan suara musik seruling Turki sebagai penghinaan dan balasan atas hinaannya pada Turki Ustmani, ia menghina Turki Ustmani sesat dengan berbagai alasan salah satunya Turki Ustmani tidak menganggap haram musik, salah satu anggota keluarga al Saud yang ditahan di Mesir dibebaskan atau melarikan diri dan bergabung dengan keluarganya yang lain yang tidak tertangkap pada saat serangan pasukan Mesir. 
 
Anggota keluarga Saudi yang kembali dari penjara Mesir adalah Misy'ari bin Saud dan orang yang tidak tertangkap adalah Turki bin Abdullah bin Muhammad al Saud, perlu diingat ada sejumlah orang yang memiliki nama Turki di periode ini, jangan dirancukan dengan negara Turki Ustmani, nama Turki di Arab Saudi berarti ganteng, Amir Turki ini merupakan anak dari Abdullah anak paling bungsu Muhammad bin Saud, nantinya masa kekuasaan Emirat Najd tidak jauh berbeda dari negara Turki yang sebelumnya mengalami banyak kudeta sampai Jannisari dibubarkan oleh Sultan Mahmud II. Amir Turki turut membela Dariyah/ Diriyah pada saat serangan pasukan Muhammad Ali Pasya Gubernur Mesir dan suku-suku yang bermusuhan seperti Bani Khalid yang sebelumnya sudah dikalahkan Bani Saud pada masa namun ia berhasil selamat, berbeda dari saudara-saudaranya yang ditangkap, ia bekerjasama dengan Muhammad bin Misy'ari bin Muammar, atau singkatnya Ibnu Muammar  penguasa Unaiyah yang juga turut mempertahankan Diriyah saat dikepung Pasukan Mesir, Ibnu Muammar adalah keturunan keluarga Muammar penguasa Unaiyah dan anak Misy'ari bin Muammar penguasa Huraymila dan Unaynah setelah Ustman bin Muammar dibunuh dengan alasan terlibat konspirasi, ia disebut sangat kaya dan mempunyai banyak senjata dan kekayaan oleh Ibnu Bisyr pengarang kitab Unwanul Majid fii Tarikhun Najd , ia termasuk pemimpin Najd yang mau bernegosiasi dengan pasukan Mesir, ia dan dua pemimpin Najd yang lain ditugaskan Bani Saud sebagai negosiator, ia  menjadi pemimpin sementara di Diriyah setelah pasukan Mesir pergi. Ia mencoba menyatukan kembali Najd dengan dua buah meriam dari Diriyah yang ia sembunyikan dari pasukan Mesir dengan cara dikubur, sepeninggal pasukan Mesir Najd kembali kacau karena Bani Saud yang dominan terguling, beberapa elemen yang anti Diriyah kembali dan ada beberapa yang berhasil, di Buraidah, Rasyid bin Sulaiman al Hujailan membunuh Abdullah bin Hujailan bin Hamad yang masih berkerabat sebagai pembalasan atas kematian ayahnya yang dibunuh oleh Hujailan bin Hamad pada kampanye Sa'adun bin Urayr di Buraidah pada tahun 1196, sedangkan keluarga al Rasyid dan al Hamad kembali terjadi hingga pemimpin keluarga al hamad,  ibrahim bin Nasser al Zir al Hamad dibunuh oleh Nasser bin Muhammad bin Nasser al Rasyid, seluruh keluarga al Hamad terpaksa melarikan diri dari Huraimila, daerah-daerah seperti Al Kharj, Al Ahsan, dan Sedir kembali ke kebiasaan lama seperti saat Najd belum disatukan oleh Bani Saud, yaitu saling merampok, mejarah, dan memblokir jalan sehingga perdagangan di Najd macet, terjadi juga perampasan harta oleh oknum pasukan Mesir. Bani Khalid yang merupakan musuh Bani Saud pada Emirat Diriyah pertama juga bangkit di Qathif dan al Ahsa, mereka mengangkat anggota keluarga al Urayr sebagai pemimpin di sana, namun kekuasaan mereka tidak sekuat saat sebelum kekuasaan Bani Saud, suku Ajman, Mutayr, Subay', dan Dawasir menganggu gurun tempat tinggal mereka.  Pajak diberlakukan dan terjadi kekeringan yang berakibat pada kelapran.  kekacauan itu hendak ditanggani oleh Ibnu Muammar yang ingin menguasai Najd untuk dirinya sendiri. Ibnu Muammar yang sebelumnya mempertahankan Diriyah pindah ke Sadus. tempat tinggal anka-anak saudaranya, ibrahim, kepindahan itu dilakukan karena merasa usahanya beresiko. kemudian ia pergi ke Riyadh menemui orang-orang Diriyah yang mengungsi, orang-orang desanya, dan orang-orang Riyadh yang setuju dengannya untuk memperbaiki Diriyah. Ia memasang bendera di depan pintu rumahnya, sehingga orang-orang mendatangi rumahnya, termasuk perempuan dan anak-anak, dari situ ia mengajak mereka pergi ke Diriyah untuk mengolah tanahnya, ia kemudian tinggal di sana dan memberikan bantuan untuk orang-orang yang pindah ke sana dengan kekayaannya. sebelumnya orang asing bernama Sadlier pernah melewati Diriyah sebelum dibangun kembali oleh Ibnu Muammar pada tahun 1819 Masehi atau 1234 Hijriyah, ia melaporkan bahwa di sana hanya ada reruntuhan dan sama sekali tidak ada manusia, Sadlier mengatakan pekerjaan  merevitalisasi Diriyah oleh Ibnu Muammar sangat berat atau tidak mungkin, tapi entah bagaimana caranya Ibnu Muammar berhasil memperbaiki rumah-rumah, tembok kota, dan kastil yang sebelumnya dihancurkan oleh pasukan Muhammad Ali Pasya . Dokumen Turki Ustmani menunjukkan bahwa Ibnu Muammar mulai membangun kastil-kastil di Diriyah dan Muhammad Ali Pasya menunjukkan kekhawatirannya pada gerakan Ibnu Muammar dengan meminta bantuan pada Turki Ustmani untuk menekannya, Turki dan Muhammad Ali tampak tidak suka ada kekuatan regional baru di dekatnya. 

Ibnu Muammar berhasil membangun kembali Diriyah dan mengisi kembali penduduknya yang sempat kosong, Diriyah sudah memiliki 1200 prajurit, ketika keadaan sudah stabil ia melanjutkan langkahnya untuk menjadi penguasa seluruh Najd, ia mengirimkan para utusannya kepada penguasa negara-negara kecil atau negara suku di Najd. ia berhasil mengirimkan utusan pada daerah Manfuhah dan mendapatkan pengakuan dari orang-orang di sana, keberhasilan awalnya membuat pengusasa-penguasa negara kesukuan kecil di dekatnya ketakutan pada pengaruh dan perluasan kekuasaannya , Al Kharj, Riyadh, dan Huraimilah mengirimkan utusan ke pemimpin Al Ahsa Muhammad bin Urayr , untuk memberitahunya bahwa jika sudah kuat Ibnu Muammar akan menyerang al Ahsa, mereka membujuk Ibnu Urayr untuk menyerang Diriyah dahulu sebelum Ibnu Muammar menjadi kuat, merespon para utusan itu Muhammad bin Urayr mengirimkan utusan pada Ibrahim bin Muhammad Ali Pasya di Jeddah untuk memberitahukan adanya gerakan dari Ibnu Muammar dan rencana Ibnu Muammar untuk menyerang Al Ahsa, Ibrahim memberitahu ayahnya di Mesir dan Ayahnya memberitahu Sultan di Istambul, Turki Ustmani kemudian memerintahkan serangan untuk menekan Ibnu Muammar, perintah itu ditanggapi oleh ekspedisi ke Najd dibawah pimpinan Majid bin Urayr pada tahun 1235 Hijriah, Riyadh, al Kharj, dan Huraimilah bergabung dengan pasukan Al Ahsa, mereka bentrok dengan pasukan Ibnu Muammar dekat Manfuhah saat mereka akan menyerang daerah itu yang bersekutu dengan Ibnu Muammar, perang tersebut berakhir dengan perdamaian, sebuah dokumen Turki Ustmani menyebutkan bahwa Majid bin Urayr menjarah Aqra dan membunuh tiga puluh orang di sana, menyerang sebuah konvoi dari Riyadh ke Diriyah, dan membunuhi orang-orang Diriyah, dokumen itu juga mengindikasikan kepemilikan dua buah meriam oleh Ibnu Muammar yang ia gunakan untuk melawan Majid bin Urayr. dokumen Turki menyebutkan adanya konflik tapi ada perbedaan  mengenai detail konflik ini, Faisal ibnu Duwash menyebutkan konflik antara Ibnu Muammar dengan Majid, sedangkan Ibnu Bisyr pengarang Unwanul Majid fii Tarikhun Najd tidak menyebutkan adanya konfrontasi sama sekali, ia menyebutkan Ibnu Muammar menipu Majid dengan sejumlah korespondensi dan pemberian hadiah, sebuah dokumen mengindikasikan bahwa Ibnu Urayr dihadiahi dua buah perisai oleh Ibnu Muammar dan mengatakan bahwa Orang Diriyah ada di bawah kekuasaannya, maaf teks inggrisnya sulit saya pahami, ia mengancam Ibnu Urayr dan tidak mau menemuinya, ini sepertinya karena teks inggrsinya tidak memberikan penjelasan secara gamblang apa maksudnya, apakah artinya Majid ditipu dengan hadiah dan setelah mundur ibnu Muammar tidak mau menemui Muhammad bin Urayr dan mengancamnya , saya tidak tahu. agak sulit mencerna Ibnu Muammar memberikan hadiah tapi mengancam dan tidak mau menemui.
 
Pada akhirnya ekspedisi Majid gagal karena kekeringan, dan ia juga membuat suku-suku pendukung ekspedisi itu kecewa, justru sebaliknya Ibnu Muammar menjadi terkenal. negeri-negeri Najd seperti Al Arid, Washm, Sudair, dan mahmal atau muhammal malah mendukung Ibnu Muammar, Ibnu Muammar memanfaatkan kondisi itu untuk memperbaiki perekonomian dengan mendorong perdagangan antara provinsi-provinsi Najd dengan Diriyah, ia memerintahkan negeri-negeri Najd itu untuk mengirimkan persediaan barang ke Diriyah dan menekankan kepada mereka pentingnya barang-barang tersebut, konvoi perdagangan dari dan ke negeri-negeri Najd tersebut kembali diaktivkan oleh Ibnu Muammar, sehingga bahan-bahan makanan mudah didapatkan di Diriyah dengan harga yang normal, keberhasilan itu meningkatkan popularitasnya dan membuatnya mampu mengendalikan negeri-negeri tersebut, ia mendapatkan banyak pengikut dari daerah-daerah Najd itu. sementara itu Turki bin Abdullah al Saud dan saudaranya Zaid, datang ke Diriyah untuk membantu Ibnu Muammar, sampai di sini semua masih baik-baik saja, dokumen yang tadi menyebutkan bahwa Turki datang bersama anaknya , dan saudara Zaid dan Umar bin Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud , Turki datang dengan membawa seratus orang dari selatan, sementara Umar membawa konvoi makanan, pada saat yang bersamaan ada juga utusan dari Turki yang datang atas permintaan Ibnu Muammar. Huraymila masih melawan kekuasaan Ibnu Muammar seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, pemimpin Huraymila saat itu adalah Hamad bin Mubarak bin Abdurrahman al Rasyid, seperti yang sudah diceritakan di atas, pemimpin Bani Hamad melarikan diri ke Diriyah karena pemimpin sebelumnya tewas di tangan pemimpin Bani Rasyid. Ibnu Muammar mengirimkan pasukan yang dipimpin oleh anaknya, yaitu Misyari dan Zaid bin Abdullah bin Muhamnmad bin Saud(namanya pada sama, bikin bingung ), ia juga mengerahkan pasukan dari Mahmal dan Sudair, keluarga al Rasyid menyerah kepada Misyari bin Muhammad bin Muammar, dan juga meminta perlindungan keamanan, Misyari menjamin keamanan darah mereka dan mengajak mereka untuk menghadap kepada Ibnu Muammar di Diriyah, setelah itu Ibnu Muammar mengangkat Ibnu Hamad sebagai gubernur Huraimila, keberhasilan itu membuat seluruh komunitas Orang Najd menyatakan setia kepada Ibnu Muammar baik melalui utusan ataupun surat. 
 
Keberhasilan tersebut membuat Ibnu Muammar menjadi orang pertama yang berhasil menyatukan Najd setelah keruntuhan Emirat Diriyah pertama, sementara itu Misy'ari bin Saud bin Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud( biar ngak bingung dikasih lengkap) muncul di Najd utara setelah berhasil melarikan diri pasukan Ibrahim Pasya di desa Hamrah dekat Yanbu, ketika ia dan para saudaranya akan dibawa ke Mesir, ada sebuah dokumen Ustmani yang menceritakan hubungan antara Muhammad bin Muammar dan Misy'ari, Misy'ari sudah tinggal di Jabal Syammar setelah melarikan diri sampai diajak pindah ke Diriyah oleh utusan Ibnu Muamamar, ia dihormati oleh keluarga penguasa Kota Qassim saat melewatinya, dan ia menerima Saleh bin Daghathir sebagai utusan dari Diriyah saat singgah di Buraidah, masalah mulai muncul saat Misy'ari bin Saud sampai di Al Wasyum pada sepuluh Dhulqakdah 1235 Hijriah, ia mengadakan pawai militer bersama orang-orang dari Al Qassim, Al Zulfi, Tsamard, dan orang-orang lain dari Diriyah, ia mengklaim memiliki hak untuk memerintah di Diriyah sebagai keturunan Muhammad bin Saud, tentu saja Ibnu Muammar tidak suka karena ia merasa telah mendirikan keamiran baru setelah Emirat Diriyah pertama runtuh, namun Ibnu Muammar memilih untuk mengalah demi kebaikan bersama dan mengundurkan diri serta membai'at Misy'ari bin Saud sebagai pemimpin atau Imam. Dokumen Turki, surat yang ditulis oleh Faisal al Duwash kepada Ibrahim Pasya, menunjukkan bahwa Ibnu Muammar, Turki bin Abdullah, dan Misy'ari  bekerjasama untuk mengadakan ekspedisi militer ke negeri-negeri di dekat Najd setelah sebagian besar negeri-negeri Najd terutama di Najd selatan membaiat Misy'ari bin Saud, Misy'ari ingin menyatukan Najd, menyelesaikan apa yang telah dirintis oleh Ibnu Muammar. Misy'ari memimpin pasukan gabungan al- Arid, al Mahmal, Sudair, Wasyum, dan Wadi Siba'i ke sekeliling Najd bekas kekuasaan Emirat Diriyah  lalu kembali ke Diriyah .

Muhammad bin Muammar pada akhirnya mengalami nasib yang tragis karena perebutan tahta, masa kekuasaan Ibnu Muammar yang pertama,selama antara tiga sampai tujuh bulan sudah diisi dengan membagun kembali kekuasaan dan persatuan di Najd, sekarang ia harus memberikannya pada Misy'ari, Ibnu Muammar kembali menginginkan kekuasaaannya setelah sebuah kampanye militer di  Kharj,ia memulai langkahnya ke kekuasaan dengan pindah dari Diriyah ke Sadous, tempat yang dulu  pernah menjadi tempatnya mengungsi setelah Diriyah dihancurkan pasukan mesir,  di sana ia berpura-pura sakit tetapi mengirimkan utusan ke negeri-negeri Najd yang setia kepadanya untuk meminta baiat, setelah mendapatkan dukungan ia mendatangi Diriyah dan menangkap Misy'ari bin Saud serta mengumumkan kekuasaannya lagi, Misy'ari bin Saud dikirim ke Sadous untuk dipenjarakan di sana, sedangkan anak Ibnu Muammar yang juga bernama Misy'ari diangkat menjadi pemimpin Diriyah(banyak nama yang sama kan), Ibnu Muammar kemudian mendatangi Riyadh , setelah Riyadh takluk, ia kembali ke Diriyah untuk memerintah dari sana sedangkan anaknya, Misy'ari bin Muhammad bin Muammar gantian menjadi pemimpin Riyadh . pada waktu yang hampir bersamaan, sebuah pasukan Turki Ustmani pimpinan Abush Agha menyerang Unaziah dan kemudian menyerang Qasim untuk menangkap Misy'ari bin Saud di Diriyah dan menghentikan pergerakannya, Ibnu Muammar menyatakan bahwa dirinya adalah bawahan Sultan Turki, atau ia bersedia tunduk pada Turki Ustmani serta ia sudah menangkap Misy'ari bin Saud serta akan menyerahkannya, sebagai balasan Abush Agha mengakui kekuasaannya, sepertinya Ibnu Muammar hanya ingin menghindari bentrokan dengan pasukan Turki Ustmani yang lebih kuat, sehingga ia memutuskan untuk memberikan pengakuan nominal kepada Turki Ustmani sampai ia memiliki kekuatan yang kuat dan sudah membereskan musuh-musuhnya, sebenarnya ia bisa merebut kekuasaan dengan mudah karena orang-orang Najd takut konflik akan membuat pasukan Turki datang lagi dan menguasai Najd secara langsung. kekuasaan Misy'ari bin Saud berhenti pada Sya'ban atau Ramadhan 1235 hijriah.
 Location of Diriyah (Imamate)
 
Turki bin Abdullah tidak bisa menerima kudeta oleh bekas sekutunya yang juga masih kerabatnya itu dan memutuskan untuk pindah ke al Ha'ir. ia pindah karena di al Hayer ada saudara-saudara iparnya, yang juga paman dari anaknya yaitu Faisal, keluarga iparnya adalah faqih atau ulama fiqihnya Suku Tamim, Ibnu Muammar juga keturunan Tamim, leluhurnya membeli Huraimila dan Unaziah dari  Suku Yazid, sisa suku Hanifahnya Musailamah al kazdab pada abad 15. karena itu di Al Hayer juga ada pertananian, properti, dan istana milik keluarga Muammar, merespon perlawana Turki bin Abdullah, Ibnu Muammar mengirimkan seratus pasukan berkuda ke Al Hayer dibawah komando anaknya Misy'ari penguasa Riyadh . mereka dikirim secara diam-diam lewat Durmaa atau Duruma, dan ia juga mengirimkan mata-mata untuk menyampaikan pesan rahasia kepada pengikutnya di Duruma, pesan itu disimpan di sebuah buku, namun Turki berhasil menangkap orang itu, dan mengetahui pasukan Muammar di istana Duruma, akibatnya malah pasukan itu yang mendapatkan serangan mendadak, pasukan itu kocar-kacir, mereka sudah lelah, ada yang membelot ke Turki bin Abdullah, Misy'ari bin Muhammad bin Muammar kembali ke Diriyah hanya ditemani oleh dua orang penunggang kuda, Turki bin Abdullah datang ke Duruma dan mengumpulkan pasukannya di sana, banyak orang dari Sabi' dan daerah lain mendukungnya, kemudian ia mengepung Ibnu Muammar di Diriyah, Ibnu Muammar ingin mempertahankan diri namun penduduk Diriyah tidak mau mendukungnya sehingga ia dan para anak buahnya ditangkap, itu pada lima rabiul awal 1236 Hijriah, kemudian Turki bin Abdullah menyerang Riyadh, di sana ia berhasil menangkap anak Ibnu Muammar yang sebelumnya gagal menyerangnya, Misy'ari, yang juga penguasa Riyadh, ia kemudina meminta Ibnu Muammar untuk membebaskan Misy'ari bin Saud yang ditahan di Sadous, Ibnu Muammar mengirim surat  kepada Ibrahim, keponakannya di Sadous untuk membebaskan Misy'ari bin Saud, tapi Ibrahim tidak bisa melakukan itu karena pasukan Turki dibawah Abush Agha dan Faisal Al Duwash sedang menuju ke sana untuk menerima Misy'ari bin Saud seperti yang sudah dijanjikan oleh Ibnu Muammar sebelumnya , karena tidak bisa membebaskan Misy'ari bin Saud, Muhammad bin Muammar dan Misy'ari bin Muhammad bin Muammar dieksekusi oleh Turki bin Abdullah al Saud pada bulan itu juga,setelah Misy'ari bin Saud diserahkan kepada Abush Agha dan Faisal al Duwash. Kekuasaan kedua Muhammad bin Muammar atau Ibnu Muammar berlangsung selama tujuh bulan dari sya'ban samapi rebiul awal 1236 Hijriyah, setelah itu keluarga Muammar tidak memiliki peran apa-apa di Najd, sebuah akhir tragis bagi seorang Ibnu Muammar, saya menemukan sedikti keanehan pada cerita ini, pasukan Turki hanya datang untuk mengambil Misy'ari bin Saud dari Sadous, mereka datang diundang oleh Ibnu Muammar, seharusnya mereka peduli pada Ibnu Muammar, dan aneh mengapa Ibrahim tidak meminta bantuan pada mereka, tanpa adanya Ibnu Muammar pun seharusnya Abush Agha bisa menyerang Diriyah karena sebelumnya ia memang ditugaskan untuk menyerang Diriyah tapi tidak jadi karena Ibnu Muammar menyatakan tunduk pada Turki Ottoman. pasukannya juga pasti lebih kuat dari seluruh Najd.

Mungkin saya keliru ada kalimat terakhir pada kalimat di atas, pada akhirnya Turki usmtani  menyerang kembali Keluarga Saud sehingga Turki bin Abdullah bersembunyi, hanya saja laman yang saya baca tidak menyebutkan apakah serangan itu lanjutan langsung dari penangkapan Misy'ari bin Saud atau operasi militer selanjutnya, banyak keluarga Saud yang tertangkap dan dibunuh, ada juga yang diasingkan, bisa dibilang Turki bin Abdullah ini "bernyawa banyak", laman yang saya baca terpisah-pisah, sekarang saya akan memakai tahun masehi, Turki bin Abdullah muncul kembali pada tahun 1823 Masehi dengan mendirikan aliansi dengan suku Sawaid, ia bersekutu dengan pemimpin Jalajil di Sudair, segera ia mendirikan kekuasaannya di Irqah, lalu masuk ke Najd dan menaklukkan kembali pemukima-pemukiman besar di sana seperti Manfuhah dan Durma(tadi saya sebut duruma), langkah itu ia lakukan untuk mengisolasi Garnisun Turki asal Mesir di Riyadh(Turki mengepung Turki) , beberapa bulan kemudian Riyadh jatuh karea pengepungannya, ia memilih Riyadh sebagai ibukota baru karena Diriyah sudah tidak berpenduduk dan rusak parah setelah diserbu dan diduduki pasukan Turki pasca kematian Ibnu Muammar, ia membangun Qasrul Hukm sebagai tempat tinggal penguasa, dirinya, di Riyadh, Qasr artinya kastil, Hukm saya tidak tahu karena saya tidak paham Bahasa Arab, dalam Bahasa Arab kata hukum, hakim, dan hakam dekat maknanya karena memiliki akar kata yang sama, tapi artinya berbeda-beda, kadang hakim juga diartikan sebagai gubernur, saya anggap dia gubernur karena ia tunduk pada Turki Ustmani meskipun hanya sebagai vassal, bukan tunduk secara langsung, ia memilih sikap seperti itu karena trauma atau kapok melihat apa yang terjadi pada Abdullah bin Saud bin Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud Amir terakhir emirat sebelumnya, meskipun secara nominal iia tunduk kepada Turki Ustmani(Turki tunduk pada Turki) ia tidak berhenti memperluas daerah kekuasaannya, ia sudah berhasil menundukkan Qassim, al Kharj, dan Jabal Syammar meskipun sempat bentrok dengan Suku Badui lokal pada 1828 , ia kemudian menaklukan Bani Khalid di provinsi Timur pada 1830 sebagai balasan atas serangan dari sana yang dipimpin Bani Khalid, musuh lama Saudi, kekuasaan Bani Khalid tumbang meskipun mereka sudah bersekutu dengan Suku Anizzah atau Anzzzah, namun ia tidak bisa berekspansi ke arah barat karena Hijaz dan laut Merah dikuasai oleh Mesir yang juga sudah membangkang kepada Turki Ustmani, sama seperti Saudi, Mesir saat itu juga nominal vassal dari Turki Ustmani, saya agak sulit menterjemahkan kata itu kepada Bahasa Indonesia, kurang lebih artinya negara bawahan yang cuma tunduk secara formalitas, tapi sangat otonom, ia juga memperluas pengaruh Saudi di pesisir Teluk Persia, Turki bin Abdullah merupakan pemimpin yang hebat yang sudah berhasil melewati banyak kesulitan, sayangnya Turki bin Abdullah justru mangkat setelah ditikam  saat pulang  dari masjid setelah shalat  subuh oleh tiga orang termasuk keponakannya atau sepupunya  sendiri, Misy'ari(namanya sama lagi)  bin Abdurrahman dan , Misy'ari mengambil kesempatan saat Faisal anak Turki bin Abdullah sedang menyerang Oman, ia tidak rela kepemimpinan diambil alih oleh Faisal apabila nanti Turki bin Abdullah wafat. 


Borders of the Emirate of Nejd by 1850

 Faisal bin Turki bin Abdullah yang sedang berada di Oman segera kembali ke Riyadh setelah mendengar kematian ayahandanya, ia sampai di Riyadh pada bulan Mei, dan mampu mengalahkan Misy'ari bin Abdurrahman dalam hitungan beberapa minggu, Misy'ari bin Abdurrahman dan orang-orangnya yang terlibat langsung dalam assasinasi ayahnya dihukum mati, sedangkan sisanya dimaafkan ,namun itu baru awal kekuasaannya yang diwarnai oleh banyak perebutan tahta. menurut berbagai laman berbahasa Inggris sebelum bergabung dengan ayahnya Faisal bin Turki sempat ditawan di Mesir namun dimaafkan dan dibebaskan, kembali lagi ke pada tragedi Diriyah 1818, pada saat Diriyah diserang dan dihancurkan oleh pasukan Mesir untuk pertama kalinya sebagian anggota keluarga Al Saud ditawan di Mesir dan Istambul, seperti yang sudah saya ceritakan di atas Abdullah bin Saud bin Abdul  Aziz bin Muhammad bin Saud dan sejumlah saudaranya dieksekusi di Istambul, Abdullah adalah anak tertua Saud sementara Misy'ari bin Saud berhasil melarikan diri di Yanbu, tiga orang anak-anak Saud bin Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud yang ditawan di Mesir dibunuh, sedangkan  anak bungsu Saud bin Abdul Aziz yaitu Khalid bin Saud dibiarkan hidup oleh Muhammad Ali Pasya karea masih kecil, dan dididik di Mesir selama delapan belas tahun, selain itu ada juga saudara jauh mereka yang hidup di selatan Irak dalam perlindungan Suku Muntafiq sampai tahun 1841 masehi, ia adalah Abdullah bin Tsunayyan bin Saud, Tsunayyan adalah saudara Muhammad bin Saud Amir atau Imam pertama Emirat Diriyah, jadi Abdullah bin Tsunayyan adalah cicit dari saudara Muhammad bin Saud,uniknya keturunan Abdullah bin Tsunayyan ini kemudain tinggal di Turki dan menikahi wanita Sirkasia dan Turki, bahkan  kelak keturunannya yaitu Iffat binti Muhammad al Tsunanyyan akan menjad istri Raja Faisal bin Abdul Aziz Arab Saudi modern, Muhammad bin Tsunayyan sendiri adalah seorang dokter atau perawat militer di ketentaraan Turki Ustmani.  kedua orang ini akan memainkan peranan dalam perebutan tahta di Emirat Najd ini. Pada masa Emirat Riyadh juga inilah Inggris baru benar-benar masuk ke Jazirah Arab bagian timur, sehingga sudah ada sedikit keterlibatan Inggris di sini . 

Benteng al Masmak di Riyadh 

 Muhammad Ali Pasya meminta Faisal bin Turki Abdullah bin Saud untuk membayar upeti melalui gubernur Turki di Madinah, namun Faisal bin Turki menolak, akibatnya Muhammad Ali Pasya atau Khursid Pasya gubernur Ustmani di Arab mengirimkan pasukan untuk mengangkat Khalid bin Abdullah bin Saud sebagai amir, Faisal bin Turki bin Abdullah bin Saud beserta sejumlah keluarganya ditawan di Mesir, hal ini mengakhiri masa kekuasaan pertama Faisal bin Turki bin Abdullah bin Saud selama empat tahun sejak 1834-1838 laman-laman berbahasa Inggris tidak konsisten dalam menceritakan bagian ini, sepertinya Muhammad Ali Pasya pada saat itu sudah membangkang kepada Turki Ustmani, ia mengangkat Khalid bin Saud bin Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud sebagai penguasa Najd sebagai bagian dari rencananya untuk melawan Turki Ustmani di Suriah, Khalid mungkin rencananya akan dijadikan penguasa boneka yang bertugas memberikan dukungan pada Muhammad Ali dalam perang melawan Ustmani di Suriah, Sultan Mahmud mengirimkan Khursid Pasya, seorang mualaf Georgia untuk melawan Muhammad Ali Pasya, tapi pada akhirnya Muhammad Ali Pasya diakui sebagai pemimpin Mesir oleh Turki Ustmani,  Ustmani dan Khursid Pasya mundur dari Mesir, Khursid Pasya ini juga yang menghancurkan revolusi Ali Pasya(bukan Muhammad Ali Pasya, nama kok pada sama)  di Yanina, tampaknya akhirnya Muhammad Ali berkuasa di Mesir sedangkan Khursyid Pasya di Arab, Faisal diasingkan dua kali, pertama oleh Muhammad Ali, kemudian setelah Khursyid Pasya berkuasa di Arab ia melawan lagi, saya ceritakan apa yang  bisa saya pahami, Khalid berhasil mengkudeta Faisal bin Turki bin Abdullah, setelah mengalahkannya dalam pertempuran Riyadh 1938, Faisal, bersama saudara-saudaranya seperti  Jiluwi, dan anak-anaknya seperti  Abdullah dan Muhammad ,serta sepupunya Abdullah bin Ibrahim bin Abdullah disingkan ke Mesir, inilah pengasingan kedua Faisal. Khalid bin Saud tidak mengalami tantangan seperti pemberontakan karena kuatnya pasukan Turki dan Mesir, namun keluarga Muhammad bin Abdul Wahab dan para tokoh "wahabi" tidak mau mendukungnya dan banyak diantara mereka melarikan diri ke Kota Al Hariq yang tidak diduduki garnisun Mesir maupun Turki.  Hasan Alu Syaikh atau Hasan bin Muhammad bin Muhammad bin Abdul Wahab, putra Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam sebuah suratnya menyatakan bahwa barang siapa tetap tinggal di Riyadh ketika dikuasai oleh Khalid bin Saud, dan tidak berusaha keluar atau ingin keluar, maka ia diangggap kafir. 

 Khalid bin Saud berhasil menguasai daerah timur dan mengirimkan Saad bin Mutlaq untuk menaklukan Oman tetapi tidak berhasil , pada 1840 ia mengirimkan surat kepada Inggris di Bahrain untuk menghidupkan kembali hubungan yang sudah ada sebelumnya tetapi tidak mendapatkan jawaban yang baik, Khalid kemudian kehilangan kekuasaan akibat tentara Mesir dipaksa mundur Turki Ustmani karena Turki Ustmani menandatangani perjanjian dengan Inggris, mungkin berkaitan dengan Krimea atau Muhammad ali (https://www.acarindex.com/pdfs/115987). konvesi London 15 Juli 1840( https://en.wikipedia.org/wiki/Convention_of_London_(1840)). Khalid bin Saud pada Desember digulingkan oleh Abdullah bin Tsunayyan, kerabat jauhnya yang selama ini tinggal di Irak, kudeta oleh Abdullah bin Tsunayyan ini didukung oleh fatwa Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, anak Syaikh Hasan pada paragraf sebelumnya , Sebelumnya Abdullah al Tsunayyan dipercaya oleh Khalid untuk memerintah Najd bagian selatan, tapi ia berkhianat setelah pasukan Turki pergi.

 Khalid mencoba mengembalikan lagi kekuasaannya namun gagal dan mengungsi ke Hijaz, ia mendapatkan pensiun dari Ustmani sampai kematiannya pada 1855, Khalid kalah karena dianggap antek Mesir dan Abdullah bisa menang karena mendapatkan dukungan dari penguasa al Hariq, Turki al Hazzani , berserta para ulama "wahabi" dan keturunan Muhammad bin Abdul Wahab yang melarikan diri ke sana saat Riyadh direbut kHalid, Abdullah memimpin negaranya dari Riyadh, pada tahun 1842 Muhammad al Khalifah, kelak Raja Bahrain keenam dari Dinasti al Khalifah, meminta bantuan setelah kalah dalam pertempuran an nafsah melawan pamandanya sendiri Ahmad bin al khalifah Raja Bahrain ke lima , ia diterima dan dilindungi oleh Abdullah bin Tsunayyan tetapi tidak diberi bantuan militer , ia kemudian dikudeta oleh Faisal bin Turki yang baru saja pulang dari Mesir, Faisal didukung oleh Abdullah ibnu Rasyid, dari keluarga Rasyid yang berkuasa di Ha'il. Abdullah bin Rasyid dulu bisa menjadi teman Faisal karena diasingkan akibat berkonflik dengan pamannya sendiri, ketika Faisal diasingkan ke Mesir ia memerdekakan diri, setelah kemenagnan ini keluarga mereka menjadi dekat dan banyak terjadi pernikahan antara keluarga al Saud dan al Rasyid. 
 
Amir Faisal bin Turki juga mengalami permasalahan berupa ketidaktundukkan beberapa daerah baik karena murni kekuasaan atau karena tidak setuju dengan paradigma beragama yang dibangun oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Pada 1847 Syarif Makkah, Muhammad bin Abdillah bin Muin bin Aun memasuki Najd, pasukan itu akan melewati Unaizah yang merupakan gerbang masuk ke Najd, Amir Unaizah Abdullah bin Sulaym selama ini dikenal tidak patuh kepada Amir Faisal bin Turki, Faisal berharap pasukan Syarif Makkah akan bentrok dengan pasukan Unaizah sehingga ada kemungkinan Unaizah menjadi lemah begitu juga pasukan Makkah, sehingga akan lebih mudah untuk mengusir sisa-sisa Pasukan Makkah dan menundukkan Unaizah yang sudah lemah, atau jika lebih baik lagi Pasukan Makkah kalah dan tidak masuk Najd serta  Unaizah yang melemah akibat serangan Makkah akan tunduk, asumsi itu didasarkan bahwa seluruh Najd sudah menerima fatwa para ulama  "wahabi" bahwa di luar Najd kafir, tetapi rupanya Pasukan Makkah malah bekerjasama dengan Unaziah, pasukan Amir Faisal dari Riyadh sempat mengancam Unaizah namun pertempuran berhasil dihindarkan dengan syarat Amir Faisal bin Turki harus membayar Jizyah kepada Sultan Abdul Majid I di Istambul. Faisal kemudian meminta bantuan kepada Inggris di bushire Iran melalui wakilnya di negara protektorat Oman pada 1848, negara protektorat ini disebut sebagai trucial state https://en.wikipedia.org/wiki/Trucial_States, negara-negara kecil yang menjadi batas antara Inggris dan Turki Ustmani, kata trucial di sini berasal dari kata truce yang berarti gencatan senjata. Pada 1851 ia juga  meminta bantuan pada Inggris untuk membantunya memunguti zakat orang-orang Bahrain, ia juga berusaha menundukkan al Qassim lagi, sepertinya sudah terjadi banyak kekacauan akibat kekacauan sebelumnya, ia mengirimkan adiknya , Jiluwi ke Al Qassim  tapi gagal mendapatkan loyalitas dari orang-orang yang pada 1854 memberontak , ia mencoba menaklukan Oman dan Bahrain pada 1850 tetapi gagal. Pada dekade 1860an ia mencoba beberapa kali mengyerang Uni Emirat Arab yang saat itu masih berbentuk Trucial state tapi gagal karena dihentikan Inggris, pada tahapan ini Saudi belum bekerjasama dengan Inggris apalagi sampai menjadi antek Inggris, permintaan bantuannya kepada Inggris di Bushire mungkin bersifat dipomatik, sedangkan permintaannya pada Inggris untuk membantunya memunguti zakat di Bahrain mungkin malah karena ia merasa yang jadi bos . Perlawanan keluarga As Sulaym pada 1848-1849 atau pertempuran Yalima berakhir dengan  Abdul Aziz bin Abu Al Ullayyan amir Buraidah dieksekusi karena bergabung dengan Amir Abdullah bin Sulaym melawan kekuasaan Amir Faisal, eksekusi itu dijatukan dengan fatwa para masyaikh, tetapi Amir Faisal bin Turki masih mendukung kekuasaan Amir Abdullah as Sulaym di Unzaizah, secara logika seharusnya Amir Abdullah bin Sulaym lebih berbahaya. Keluarga As Sulaym sudah melakukan perlawan selama masa emirat Najd, pada 1847, 1848-49, 1853-54, dan 1861-1862, hal ini menunjukkan bahwa Amir Faisal bin Turki masih terkendala oleh keberadaan  keluarga As Sulaym di Unaizah, keluarga atau amir yang kuat dikendalikan dengan pendekatan kompromi sedangkan amir yang lemah dieksekusi. 

Alu Syaikh atau keturunan Muhammad bin Abdul Wahab juga memainkan perananya dalam politik Emirat Riyadh, terutama apabila terdapat daerah dan amir bawahan yang membangkang atau menolak cara pandang beragama Muhammad bin Abdul Wahab, tindakan yang dilakukan oleh Alu Syaikh adalah membungkam dan mengusir para ulama yang tidak sepaham, para Qadhi atau hakim  Agama Islam yang pernah belajar di luar Najd dipecat,para ulama yang melawan paradigma Muhammad bin Abdul Wahab itu banyak yang pindah ke pinggiran Najd/Nejd terutama di Al Qassim dan Unaizah yang tadi sudah disebutkan memang pernah beberapa kali akan ditundukkan oleh Amir Faisal bin Turki namun tidak berhasil,  daerah pinggiran Najd seperi Qassim dan Unaizah lebih terbuka bagi pendatang dan sering dikunjungi oleh para pedagang, pusat Najd sendiri lebih tertutup, akibatnya ajaran Muhammad bin Abdul Wahab tidak menjadi satu-satunya paradigma beragama yang digunakan di sana, ketika ulama di Qassim dan Unaizah mulai terdesak mereka banyak yang pindah ke Kota Zubayr, konon Zubayr bin al Awwam, Radhiyallahu Anhu, sahabat Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam yang dijamin masuk surga dimakamkan di sana , konon dari sahabat itulah nama Kota Zubayr berasal, di sana ada kubah makam Zubayr bin Awwam, ketika para ulama penentang paradigma Islam Muhammad bin Abdul Wahab aktif di sana muncul istilah "Zubairi", istilah ini  bukan sekedar nama Nisbat seperti Imam al Bukhari dari Bukhara atau tokoh mazhab Syafi'i Imam Ibnu Az Zubairi yang mungkin (maaf jika salah )memang nama nisbatnya kepada kota ini, tapi istilah bermakna orang yang suka menyembah kuburan Az Zubair, hal inilah yang yang tadi saya sebut dalam kritik bro hajji, jika ada daerah yang ada makam keramatnya maka semua orang dari daerah itu akan dianggap sesat atau jika tidak dianggap sesat karena menyembah kuburan akan dianggap sesat karena membiaran aktivitas kuburiyyun di kotanya dan masih mau tinggal di sana. Diantara para ulama yang menentang paradigma Muhammad bin Abdul Wahab adalah:ibnu jurjis al baghdadi, ia adalah orang Baghdad yang sengaja datang dari baghdad Irak ke Najd untuk mempelajari ajaran 
'Muhammad bin Abdul Wahab, Ibnu Jurjis sudah belajar dengan baik sampai mendapatkan izin untuk mengajar, namun ternyata Ibnu jurjis malah mengajarkan hal-hal yang tidak diajarkan dalam Kitabut Tauhid, akibatnya ia dipecat oleh Alu Syaikh dan ditahdzir, ia dianggap sengaja masuk ke An Najd untk mengubah pola pikir orang-orang di sana,selain itu masih ada Muhammad Az Zubayri, Muhammad bin Humaid , 1820-1878/79. di masa yang lebih awal ada Ustman bin Mayzad, 1785-1803, Abdul Wahab bin Muhammad, Abdullah bin Faiz, Ibnu Mas'ud bin Aba al Khayr, Muhammad bin Sulhan, Muhammad bin Ibrahim as Sinyah 1793-1853
 
  . Pada 1865 Lewis Pelly mengunjungi Riyadh secara resmi. Faisal meninggal pada tahun itu, dan anak-anaknya kemudian menghancurkan negaranya yang sudah dia jaga dengan baik. 
Peta negara-negara protekrat Inggris di Teluk Arab, artinya wilayah Saudi kedua sudah tidak sebesar di masa kekuasaan Turki bin Abdullah, meskipun tidak diceritakan secara detail tampaknya, negara-negara kecil ini muncul dari orang-orang yang ingin merdeka dari Saudi ataupun Turki . agak menyimpan sedikit dari sejarah saudi dan sedikit kembali ke beberapa dekade sebelumnya, pada 1802 Bahrain dikuasai Amir PENGUASA  Muskat di OMAN, kemudian direbut kembali oleh Abdul Aziz bin Saud, penguasa asli Bahrain ditahan di Diriyah, Saudi tidak bisa memperkuat kekuasaan mereka di Bahrain karena serangan Turki Ustmani di Hijaz, Abdullah bin Ufsayan gubernur Bahrain yang diangkat saudi ganti  ditangkap oleh mereka, pada tahn 1820, penguasa Bahrain sudah meminta bantuan pada Inggris agar tidak usah membayar upeti kepada Saudi atau pun Mesir, tetapi Inggris tidak bisa banya membantu karena belum hadir secara penuh di sana, pada akhirnya Abdullah bin Ahmad al Khalifah membuat kesepakatan dengan Turki bin Abdullah untuk membayarkan zakatnya ke sana, namun rupanya pada 1839 pasukan Mesir Khuryid Pasya merebut al Ahsa, ia kemudian membuat perjanjian dengan Mesir untuk membayarkan zakatnya kepada Mesir, mungkin banyak pembaca yang bingung mengapa di paragraf tentang Bahrain ini ada upeti dan zakat yang dibayarkan kepada sesama muslim, perlu diketahui zakat di negara Islam dibayarkan kepada pemerintah bukan seperti di Indonesia sekarang, pemda menarik zakat dari masyarkatnya dan sebagian zakat itu dibayarkan kepada pemerintah pusat dengan cara yang mirip dengan upeti, kemudian Abdullah al khalifah mengalahkan keponakannya Muhammad al Khalifah pada pertempuran Annafsah seperti di cerita Faisal bin Turki di atas, pada tahn 1842, keponakannya kabur ke Riyadh dan meminta tolong pada Faisal, pada 1843 Dammam yang sekarang merupakan kota terbesar di Arab Saudi direbut oleh Klan Saud dari Bahrain karena ketidakstabilan pemerintahan Abdullah bin al khalifah, pada 1843 Inggris yang sebelumnya tidak bisa membantu melindungi Oman dari Emirat Najd malah ikut campur dengan memecatnya dan ia digantikan oleh Muhammad bin Khalifah .  Muhammad al Khalifah meminta bantuan pada Persia pada  1860 karena Inggris menekannya dengan berbagai pembatasan seperti dilarang berdagang di laut, mirip VOC saat menguasai pantai utara Jawa, Persia berjanji  mau membantu tetapi tidak pernah dilaksanakan sampai pada 1861  ia dipaksa menandatangai perjanjian yang membuat Bahrain menjadi Trucial States. pada tahun yang sama ia dipaksa untuk turun tahta karena melanggar perjanjian yang melarang ekspedisi laut , ia membalasnya dengan menyerang kekuasaan Inggris di Qatar bersama dengan pemimpin Abu Dhabi pada 1867. Hal ini membuat Inggris menjadi semakin marah, pada 1868 Muhammad al Khalifah pergi ke Khor Hassan sebelum kemudian meneteap di Qathif, sekarang kota di timur Arab Saudi. Inggris dan Kolonel Lewis Pelly juga ikut dalam masalah ini karena hal ini tidak bisa dilepaskan dari perang Qattar dan Bahrain https://en.wikipedia.org/wiki/Qatari–Bahraini_War

Faisal bin Turki bin Abdullah al Saud diketahui  memiliki empat putra, mereka adalah Abdullah, hMuhammad, Saud, dan Abdurrahman. Abdullah adalah anaknya yang tertua, Abdullah diangkat oleh Faisal  menjadi pemimpin militer tertinggi, dan juga  sudah diangkat sebagai putra mahkota,  selama menjabat menjadi panglima ia sudah bertindak sebagai pemimpin de facto emirat, membantu ayahhandanya yang mulai renta menjalankan roda pemerintahan, pasukan Abdullah berhasil memadamkan pemberontakan gubernur Buraidah Abdulaziz al Ulayyan yang bergabung dengan para perusuh di provinsi Unaizah pada 1848-1849 yang dikenal sebagai pertempuran Yalima, pemberontakan itu dimotori oleh Abdullah As Sulaym dan berakhir dengan Abdul Aziz al Ulayyan dikesekusi oleh Faisal bin Turki , tetapi Abdullah As Sulaym dibiarkan berkuasa karena memiliki cukup kekuatan untuk melawan di Unaziah , padahal sebelumnya pada 1847 Abdullah as Sulaym menerima kedatangan pasukan Syarif Makkah Muhammad bin Abdilmuin bin Aun yang pada saat itu mendukungnya untuk melawan kekuasaan Emirat Najd, mereka telah berkomplot dengan orang di luar Najd. Perang pada 1847 memaksa Emirat Najad membayar upeti pada Muhammad bin Abdulmuin, keluarga as Sulaym masih terus menjadi ganggguan dan memberontak pada 1849, 1853-54. dan 1861, keluarga As Sulaym memang cukup kuat, mereka sendiri menjadi penguasa Unaziah setelah membunuh gubernur  Ustmani di Unaziah pada 1817 . keberhasilan lain dari Abdullah adalah membuat perjanjian dengan Muhammad al Khalifah, Raja Bahrain untuk membayar upeti tahunan kepada Emirat Riyadh, ia juga berhasil mengalahkan pemberontakan Rakan bin Hithlain pemimpin Suku Ajman, suku asal ibu Saud dan Abdurrahman, Suku Ajman sudah memberontak pada 1854, dan kembali memberontak pada 1860, Abdullah dikirimkan untuk memandamkan pemberontakan mereka, pada 1861 Suku Ajman kembali memberontak dan malah mengalami kekalahan total yang lebih parah.  Sedangkan Saud al Kabir 2 sudah diberi jabatan oleh ayahnya sebagai gubernur al Kharj, selatan Najd namun prestasinya sangat gemilang sehingga ia merasa layak untuk memimpin seluruh Najd , penduduk di sana yang masih satu suku dengan ibunya juga merasa demikian, tetapi ayahnya dan Turki Ustmani tidak pernah menyetujui itu, perlu diingat Emirat Najd adalah bagian dari Turki Ustmani dan tunduk sebagai vassal, nantinya Saud akan meminta bantuan pada Inggris, Abdullah dikenal memiliki kemampuan militer yang hebat, namun sangat autokratik dalam kepemimpinan, sedangkan Saud dikenal energik dan ekstrovet. 



Foto di atas adalah Saud al Kabir ke 3, cucu Saud al Kabir 2 tidak ada hubungannya secara langsung dengaa pembahasan kita, saya ingin membahas Amir kelima atau keenam (terjadi perebutan kekuasaan ada dua amir)Emirat Najd, Saud Al Kabir 2, belum pernah difoto, kakak dari Abdurrahman bin Faisal bin Turki bin Abdullah. Abdurrahman adalah ayah dari Raja Abdul Aziz dan kakek dari para Raja Arab Saudi dari raja Saud sampai Salman, sepeninggal Faisal bin Turki bin Abdillah, terjadi perselisihan di antara keempat anaknya, Saud bin Faisal dan Abdurrahman bin Faisal, menentang saudara beda ibu mereka Muhammad dan Abdullah bin Faisal, ibu Muhammad bin Faisal dan Abdullah bin Faisal adalah juga anggota klan al Saud, sementara ibu dari Saud al Kabir 2 dan Abdurrahman bin Faisal, berasal dari Suku Ajman , sebuah suku badui dari Yaman yang tinggal di selatan Riyadh, Suku Ajman ini termasuk suku Arab Selatan keturunan Qahthan, perebutan kekuasaan ini melibatkan suku-suku di selatan Riyadh yang bersekutu dengan suku Ajman, para paman Saud bin Faisal atau Saud al kabir 2 ingin keponakannya menjadi pemimpin baru Emirat Najd, setelah kematian Faisal pada 1865 Abdullah menjadi Imam namun Saud menolaknya, ia mengatakan bahwa keputusan ayahandanya untuk mengangkatnya sebagai gubernur al Kharj menunjukkan bahwa ia dipercaya oleh ayahandanya untuk memimpin, ia meminta pengakuan pada Inggris melalui adiknya satu ibu yaitu Abdurrahman bin Faisal, Inggris mengakuinya karena menganggap Saud akan lebih mudah diatur daripada Faisal


Abdullah menjadi Amir setelah Amir Faisal mangkat pada Desember 1865, dan  ia mendapatkan dukungan dari pamannya Abdullah bin Turki, adik ayahnya, dan juga Syaikh Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahab, atau Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, ulama Wahabi cucu langsung dari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, yang juga dikenal sebagai penulis kitab penjelas Kitabut Tauhid karya kakeknya (syarah), untuk mensentralkan kekuasaan, Syaikh Abdurrahman bin Hasan secara terbuka mendukung Abdillah bin Faisal dengan mengeluarkan fatwa bahwa masyarakat sudah seharusnya mendukung kekuasaan Amir Abdullah karena ia sudah diangkat secara resmi oleh ayahandanya, pada tahun 1867, Abdullah meminta pengakuan dari otoritas Inggris, Inggris memberikan jaminan perlindungan dan bantuan meterial(404 Not Found (social-sciences-and-humanities.com)su,ber ini ada di endnote wikipedia inggris tetapi tidak bisa dibuka, ini Abdullah Muhammad Sindi yang ada di bawah) Turki Ustmani memberikan pengakuan sebagai gubernur pada 1867, sepertinya  Turki Ustmani tidak mau Najd dipengaruhi Inggris . dan Inggris ingin mendapatkan pengaruh di Najd, meluaskan pengaruhnya di Teluk Arab/Persi. pada tahun pertama tidak ada masalah karena Saud pun sudah berbaiat kepada Abdullah, namun pada 1866-1867. Ali Haydar Midhat, anak Mihdat Pasya Gubernur Turki Ustmani untuk Iraq mencatat bahwa Saud ingin merebut Najd dari tangan Abdullah dengan bantuan Inggris dan juga suku-suku Arab di tempatnya menjabat, ia merekrut pasukan dari daerahnya,  terutama dari Suku Ajman, suku asaln ibunya yang pernah memberontak sebelumnya . Sedangkan Abdullah didukung oleh Suku Suba'i dan Al Suhul dari Al Aridh serta Suku Qahthani di Najd. Abdullah juga  meminta bantuan kepada Turki Ustmani,untuk permintaan bantuan kepada Turki Ustmani Abdullah meminta fatwa kepada para ulama, para ulama yang lebih konservatif menolak karena ada rasa antipati kepada Turki Ustmani akibat konflik-konflik sebelumnya, namun seorang ulama yang bernama Muhammad bin Ibrahim bin Ajlan mengizinkan Abdullah untuk meminta bantuan kepada Turki Ustmani, pejabat Turki Ustmani yang didekati adalah Midhat Pasya di Iraq, Midhat pun setuju untuk membantu Abdullah  sebenarnya Muhammad, saudara satu ibu Abdullah juga pernah menginginkan kedudukan sebagai Amir atau Imam namun tidak pernah berhasil .  Pasukan Abdullah dan Saud bentrok pada pertempuran Al Mutala  dan pasukan Abdullah behasil menang, Saud melarikan diri ke Trucial Oman yang saat itu dibawah perlindungan Inggris. Saud bersama dengan pasukan bantuan dari penguasa Oman, Abu Dhabi, dan Bahrain berhasil memukul balik Abdullah pada pertempuran Juda di bulan Desember 1871, Muhammad tertangkap dalam pertempuran itu dan dipenjarakan di Dammam ,tapi  Abdullah berhasil melarikan diri ke al Qassim untuk meminta bantuan kepada keluarga  Al Rasyid tapi tak berhasil, padahal ia menikahi dua orang wanita dari keluarga Al Rasyid yaitu sepupu dan anak dari Amir Bani Rasyid, Abdullah bin Ali Al Rasyid. Ia malah mendapatkan bantuan dari Suku Qathaniyah di Najd, rumpun Suku Bangsa Arab Selatan yang dekat dengan Suku Ajman, pendukung Saud. Pada saat Saud berhasil mengambilalih Riyadh, Syaikh Abdul Lathif Alu Syaikh, anak Syaikh Abdurrahman bin Hasan yang mengantikan ayahnya, mengesahkan kekuasaan Saud bin Faisal, Abdurrahman bin Faisal dikirim ke Baghdad untuk bernegosiasi tentang kekuasaan, maksudnya supaya Saud diakui oleh Turki Ustmani sebagai penguasa Najd yang sah, namun tidak berhasil . Midhat Pasya yang dimintai bantuan oleh Abdullah untuk melawan Saud malah merebut Provinsi Al Ahsa , pada saat merebut al Ahsa itu juga Midhat Pasya membebaskan Muhammad bin Faisal yang dipenjarakan di sana oleh Abdul Aziz anaknya Saud. Al Ahsa akan tetap berada di bawah kekuasaan Turki Ustmani sampai direbut kembali oleh Abdul Aziz bin Abdurrahman pada  akhir Perang Dunia Pertama pada 1913.
  1. Syaikh Abdullathif Ibnu Abdirrahman Ibnu Hasan rahimahullah (Wafat 1289 H).
Di dalam suratnya kepada Syaikh Hamd Ibnu ‘Atiq rahimahullah perihal sikap Abdullah Ibnu Faishal Al Imam yang meminta bantuan saat itu kepada ‘Utsmaniyyin dalam melawan saudaranya Su’ud Ibnu Faishal di kala Su’ud ini mengalahkannya di dalam peperangan Jaudah kira-kira di tahun 1289 H, di mana beliau berkata di dalamnya: “Abdullah itu memiliki kepemimpinan dan bai’at yang syar’iy (sah) secara umum, kemudian nampak bagi saya setelah itu bahwa dia menyurati Daulah (‘Utsmaniyyah) yang kafir itu dan meminta bantuannya serta mendatangkannya ke negeri kaum muslimin, sehingga dia itu adalah seperti pribahasa:
Orang yang meminta perlindungan kepada ‘Amr saat tertimpa kesulitan
Adalah seperti orang yang meminta perlindungan api dari terik matahari
Maka saya menyatakan pengingkaran dan keberlepasan diri di hadapannya secara lisan dan saya berkata pedas kepadanya, dan bahwa hal ini adalah perobohan terhadap Ushulul Islam dan pencabutan terhadap akar-akarnya, serta ini dan itu, yang sekarang saya tidak ingat rincian ucapan saya itu, maka diapun menampakan taubat dan penyesalan serta memperbanyak istighfar. Dan saya menulis atas nama lisannya kepada gubernur Baghdad: Sesungguhnya Allah telah mencukupkan dan memberikan kemudahan, maka tunduklah dari kalangan penduduk Nejed dan kaum Badui yang dengannya tujuan sudah bisa tercapai insya Allah Ta’ala, dan kami tidak membutuhkan kepada pasukan Daulah (‘Utsmaniyyah), dan ucapan sejenis ini, dan dia (Abdullah) pun mengirimkan surat itu sesuai apa yang saya lihat serta dia berlepas diri dari apa yang telah terjadi… dan surat ini adalah panjang”.[5]
Dan beliau berkata di dalam surat yang lain kepada sebagian para pencari ilmu tentang masalah yang sama: “Dan adapun Al Imam Abdullah Ibnu Faishal, maka sesungguhnya saya telah menasehatinya dengan nasehat yang tegas sebagaimana yang telah lalu… dan saya ingatkan dia di dalam nasehat itu, dan mengingatkannya dengan ayat-ayat Allah dan hak-Nya, agar lebih mengedepankan keridloan Allah dan agar menjauhi musuh-musuh agama-Nya yaitu kalangan ahli ta’thil, ahli syirik dan penganut kekafiran yang nyata, dan diapun menampakkan taubat dan penyesalan…”.[6]
Dan berkata tentang masuknya orang-orang ‘Utsmaniyyin ke Jazirah (Arab) tahun 1289 H: “Barangsiapa telah mengetahui hal pokok ini –yaitu tauhid-, tentu dia mengetahui bahaya fitnah-fitnah yang terjadi di zaman sekarang ini dengan sebab kedatangan pasukan Turki, dan dia mengetahui bahwa fitnah ini bisa menghancurkan, merobohkan dan menghilangkan pondasi tauhid ini secara total, dan menyebabkan nampaknya kemusyrikan dan kekafiran yang nyata, serta meningginya bendera-bendera kekafiran yang diusungnya…”.[7]
Dan dalam hal ini beliau memiliki sya’ir:
وجر زعيم القوم للترك دولة
.
على ملة الإسلام فعل المكابر
Pimpinan kaum mendatangkan kaum Turki sebagai Negara
Untuk melakukan perbuatan orang yang angkuh terhadap millatul Islam
وساروا لأهل الشرك واستسلموا لهم
وجاءوا بهم من كل إفك وساحر
Mereka berjalan dengan ahli syirik dan pasrah terhadap mereka
Dan datang dengan mereka dari kalangan para pendusta dan tukang sihir
وصار لأهل الرفض والشرك صولة
.
وقام بهم سوق الردى والمناكر
.
وعاد لديهم للواط وللخنا
.
معاهد يغدو نحوها كل فاجر
.
وشتت شمل الدين وانبت حبله
.
وصار مضاعاً بين شمل العساكر
.
Dan jadilah kekuasaan bagi kaum Rafidlah dan kaum musyrikin
Dan berdirilah di atas mereka pasar-pasar kebejatan dan kemungkaran
Dan kembalilah berdirilah milik mereka untuk liwath dan pelacuran
Pondok-pondok yang disinggahi oleh setiap orang yang bejat
Berceceranlah ikatan agama dan terurai tali-talinya
Dan iapun disia-siakan di antara para pasukan durjana
وواليتم أهل الجحيم سفاهة
.
وكنتم بدين الله أول كافر
.
فسلْ ساكن الإحساء هل أنت مؤمن
.
بهذا وما يحوي صحيح الدفاتر ؟
.
Kalian berikan kesetiaan kepada penghuni neraka dengan kedunguan
Dan kalian orang yang paling pertama kafir terhadap agama Allah
Silahkan tanya kepada penduduk Ahsa, apakah kamu beriman
Kepada hal ini dan apa yang dimuat oleh lembaran-lembaran kebenaran[8]
Dan beliau memiliki sya’ir lainnya:
لما بدا جيش الضلالة هادماً
.
ربع الهدى وشرائع الإحسان
.
قوم سكارى لا يفيق نديمهم
.
أبد الزمان يبوء بالخسران
.
قوم تراهم مهطعين لمجلسٍ
.
فيه الشقاء وكل كفرٍ دان
.
بل فيه قانون النصارى حاكماً
.
من دون نصٍ جاء في القرآن
.
فانظر إلى أنهار كفرٍ فجّرت
.
قد صادمت لشريعة الرحمن
.
Tatkala nampak datang pasukan kesesatan seraya menghancurkan
Pilar petunjuk dan ajaran-ajaran yang penuh kebaikan
Kaum yang mabuk yang tidak sadar pula penyesalannya
Mereka kembali dengan membawa kerugian sepanjang zaman kehidupan
Kaum yang engkau lihat mereka berbondong menuju majelis
Yang di dalamnya penuh kebejatan dan segala kekafiran yang dekat
Bahkan di sana hukum kaum nashrani menjadi pemegang putusan
Dengan meninggalkan nash yang datang di dalam Al Qur’an
Maka lihatlah sungai-sungai kekafiran yang meluap-luap
Yang telah menghantam syari’at Allah Yang Maha Pemurah.[9]

Gubernur Turki Ustmani untuk Iraq Midhat Pasya 

Abdullah dan Muhammad berhasil merebut kembali Riyadh setelah Muhammad dibebaskan oleh Turki Ustmani, tetapi Abdullah memutuskan untuk menghentikan kerjasama dengan Turki Ustmani pada 1872 setelah merasa kecewa Turki Ustmani malah mengambil Al Ahsa dari Emirat Riyadh mereka berhasil berkat dukungan Abdullah bin Turki, paman mereka, adik ayah mereka, Saud dan Abdurrahman tidak berhasil mempertahankan kekuasaan mereka karena penduduk membenci mereka sebab mereka berdua telah mengkudeta kakandanya dengan bantuan suku-suku di luar Riyadh, tetapi masa  kekuasaan kedua Abdullah hanya bertahan selama satu tahun , pada 1873 Saud dan para pengikutnya berhasil merebut kembali Riyadh, Abdullah dan Muhammad terpaksa hidup di pengasingan di tengah-tengah suku Mutayr dan Utaibah di Al Ahsa, Abdurrahman bin Faisal berusaha menyerang kedua kakaknya di sana selama dua tahun tetapi tidak berhasil, pada 1875 Saud meninggal dunia karena cacar air pada 1875, meskipun memiliki enam orang anak laki-laki kedudukannya sebagai Amir Najd digantikan oleh Abdurrrahman adiknya, namun belum lama berkuasa Abdurrahman langsung dikudeta oleh Abdullah pada 1876, Abdullah berkuasa untuk yang ketiga kalinya . Setelah itu Abdullah, Muhammad, dan Abdurrahman berdamai . Anak-anak Saud rupanya tidak terima, mereka menanggap merekalah yang seharusnya mengantikan ayahanda mereka, karena Abdullah tidak memiliki anak laki-laki. Mereka berhasil mengkudeta pamanda mereka  Abdullah pada 1887, dan memenjarakannya,  namun kekuasaan mereka tidak diakui sehingga situs-situs di internet menuliskan bahwa  Abdullah berkuasa dari tahun 1876-1889.

Anda tahu siapa pria sangar ini? beliau adalah Abdurrahman bin Faisal anak laki-laki termuda Faisal bin Turki dan juga Amir terakhir Emirat Najd, beliau juga ayah dari Raja Abdul Aziz pendiri Arab Saudi modern, wajah beliau tampaknya menunjukkan perjuangan hidupnya yang keras, kadang foto ini secara salah  disebut sebagai foto Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, silahkan disimak ceritanya.

Permusuhan antara para paman dan para keponakanya ini mengundang masalah baru, Amir Bani Rasyid ke lima Muhammad  bin Abdullah Al Rasyid yang sebelumnya merupakan vassal Bani Saud memanfaatkan kesempatan ini untuk menguasai Riyadh dan seluruh Najd, sebelumnya ia sudah menguasai sebagian besar Najd karena perseteruan Abdullah bin Faisal dan Saud bin Faisal,  ia adalah anak keempat dari Abdullah bin Al Rasyid yang pernah membantu kelaurga Saud, sebelumya, saat masa kekuasaan para kakaknya,  ia berkerja  sebagai kepala kafilah dagang dari Irak ke Ha'il atau sebaliknya dan juga sebagai pemandu ibadah Haji, saat itu ia sudah sangat populer. Setelah naik tahta pada 1869, ia berhasil mengembangkan kekuasaannya  yang berpusat di Ha'il dengan sangat cepat, Ha'il menjadi kota dengan penduduk mencapai 20.000 jiwa, sebuah angka yang besar untuk ukuran Najd, daerah kekuasaannya bahkan mencapai perbatasan Jordania dan Suriah, ia berhasil merebut kembali al Jawf, sekitar Dumat Al Jandal, dari kekuaaan Faisal bin Sholan pada 1870an, Faisal bin Sholan merebut daerah itu pada 1860an, memang sebelumnya daerah itu sudah menjadi daerah kekuasaan Bani Rasyid, sejak   masa kekuasaan Abdullah al Rasyid, ayah Muhammad bin Abdullah Al Rasyid yang di atas disebut sebagai sahabat Faisal bin Turki , yang berjasa pada saat pendirian Emirat Najd. Pada saat itu Bani Rasyid masih menjadi vassal Saudi. ia berhasil mendapatkan dukungan dari Turki Ustmani dengan cara yang cerdik,  pada 1972 penduduk Al Jawf meminta bantuan kepada Subhi Pasya, Gubernur Turki Ustmani di Suriah karena takut pada kekejaman Muhammad Al Rasyid, Turki Ustmani yang pada saat itu sudah lemah tidak mampu menindak Muhammad Al Rasyid karena ia sudah bekerjasama dengan Inggris dan Perancis, Turki Ustmani hanya mampu mengirimkan satu korps yang terdiri atas delapan puluh prajurit untuk mengawasi Provinsi Al Jawf pada 1873, Turki Ustmani memilih untuk memegang Muhammad bin Rasyid dengan cara mendekatinya dan mengajaknya bekejasama, supaya tidak terlalu dipengaruhi oleh Inggris dan Perancis, kerjasama itu membuahkan hasil yang sangat menguntungkan bagi Muhammad bin Rasyid, ia sudah menjadi orang terkuat di seluruh  Najd pada 1884, ia menganeksasi seluruh Najd pada 1887 pada saat Abdullah bin Faisal meminta pertolongan kepadanya. ketika Abdullah bin Faisal  dipenjarakan oleh para keponakannya, yaitu para  anak-anak Saud bin Faisal. Muhammad Al Rasyid menyerang Riyadh dan merebutnya dari anak-anak Saud bin Faisal,  membunuh tiga orang anak Saud bin Faisal tetapi tidak memberikan Riyadh pada Abdullah bin Faisal al Saud, ia malah mengangkat seorang gubernur bernama Salim al Sibhan  untuk menguasai Riyadh,  serta menawan Abdullah bin Faisal dan tiga orang anak Saud,  mereka semua ditahan sebagai sandera di Ha'il. nasib anak-anak Saud yang lainya  tidak jelas, namun nanti dari cucu Saud ada Saud Al Kabir ketiga yang fotonya saya pajang di atas.   Abdurrahman bin Faisal bangkit dan menyerang Riyadh , ia berhasil merebut Riyadh dan menguasainya serta mempertahankannya dari usaha Bani Rasyid untuk merebutnya kembali, namun ia tidak berhasil memperluas kekuasaanya, ia kembali menyerang Riyadh dan membebaskan kakaknya Abdullah bin Faisal pada 1889, tidak berselang lama Abdullah mangkat pada 2 Desember 1889, untuk sementara waktu tidak ada keterangan tentang Muhammad bin Faisal yang saya temukan kemudian Abdurrahman bin Faisal  dengan bantuan Suku Mutair dan Utaibah serta  klan Sulaym pimpinan Zamil al Sulaym, penguasa Unaizah yang dulu tidak bisa digoyahkan oleh Abdullah bin Faisal,   dan  Klan Al Muhanna pimpinan Hasan bin Muhanna ,penguasa Al Qasim ,  menghadapi Muhammad bin Rasyid yang didukung oleh Suku Dhafir dan Al  Muntafiq serta Klan Syammar dan Harb , pasukan Abdurrahman bin Faisal berjumlah 24.000 orang melawan 27.000 sekutu Muhammad Al Rasyid pada pertempuran Mulayda pada 1891, pertempuran ini memberikan hasil yang pahit bagi keluarga Al Saud, koalisi Klan Saud kalah dan seluruh Klan Saud harus melarikan diri ke Gurun Rub Al Khali,Gurun terbesar di dunia yang sangat gersang,  di sana mereka hidup dengan menumpang pada Bani Murrah , Abdurrahman sadar bahwa ia tidak akan mempu untuk hidup di gurun yang sangat tandus itu dengan menumpang pada suku lain, kemudian mereka pindah ke Bahrain untuk meminta pertolongan pada keluarga Al Khalifah di sana, dan kemudian pindah ke Kuwait untuk meminta bantuan kepada keluarga Al Sabah, di Kuwait, Abdurrahman meminta izin kepada Turki Ustmani untuk tinggal di sana, ia dan keluarganya diizinkan untuk tinggal dan diberi uang pensiun. kelanjutanya sudah pernah saya tulis sebelumnya. Kakek dai Raja Faisal dari pihak ibunya, Abdullah bin AbdulLatif Alu Syaikh, atau lengkapnya Abdullah bin AbdulLatif bin Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdulwahab tidak ikut mengasingkan diri ke Kuwait, beliau tetap tinggal di Riyadh selama kekuasaan Bani Rasyid, namun keluarga Al Saud memaafkan beliau setelah mereka mampu mengalahkan Bani Rasyid





 Beberapa tahun kemudian ketika sudah zaman Arab Saudi modern Raja Abdul Aziz bin Abdurrahman pendiri Saudi modern mengatakan bahwa pamannya gagal karena anak-anak Saud menyebarkan propaganda negatif tentang dirinya di Provinsi Al Kharj, keputusan Abdullah untuk mendukung keluarga Al Ulayyan bekas penguasa Al Qassim memerangi keluarga Al Muhanna yang nantinya menguasai daerah tersebut, dan usaha Ibnu Rasyid , selain itu ada orang asing yang  ahli Bahasa Arab, yaitu  R. Baylyl Winder, menyebutkan bahwa kejatuhan Abdullah juga dikarenakan ia suka mengangkat pejabat-pejabat di daerah bukan dari kalangan putra daerah, praktek itu sebelumnya belum pernah dilakukan para penguasa Saudi sehingga warga setempat tidak suka. 

 sumber gambar

  https://en.wikipedia.org/wiki/File:Diriyahpic.jpg
https://en.wikipedia.org/wiki/Mu%27ammarid_Imamate#/media/File:Imamate_of_Ibn_Mu'ammar_(Mu'ammarids_in_Dir'iyyah).png
 https://en.wikipedia.org/wiki/Emirate_of_Nejd#/media/File:Second_Saudi_State_Big.png
 https://en.wikipedia.org/wiki/Trucial_States#/media/File:United_Arab_Emirates._1870_Johnson_Map_of_Turkey,_Persia,_Arabia,_Balochistan_(cropped).jpg
https://en.wikipedia.org/wiki/House_of_Saud#/media/File:House_of_Saud_rulers.svg
https://en.wikipedia.org/wiki/Midhat_Pasha#/media/File:Midhat_pasa_fotograf.jpg
https://en.wikipedia.org/wiki/Abdul_Rahman_bin_Faisal_Al_Saud_(1850–1928)#/media/File:Abdul_Rahman_bin_Faisal_bin_Turki_Al_Saud.jpg


sumber tulisan  internet

untuk catatan kaki surat alu syaikh soal permintaan bantuan Abdullah bin Faisal saya pisahkan tidak seperti catatan-catatan kaki sebelumnya yang saya taruh langsung di bawah kutipannya karena alu syaikh lebih tinggi dibadingkan dengan ulama-ulama yang lain serta surat tersebut merupakan bagian penting pada pokok bahasan perang saudara di emirat najd
[5] Ad Durar Assaniyyah 7/184, Tadzkirah Ulin Nuha Wal ‘Irfan tentang kejadian tahun 1289 H dari jilid pertama.
[6] Majmu’atur Rasaail 2/69.
[7] Ad Durar Assaniyyah 7/148-152.
[8] Ad Durar Assaniyyah 7/187-191, (Tadzkirah Ulin Nuha) 1/198-202, dan beliau secara khususkan sebutkan Ahsa karena ‘Utsmaniyyin setelah Imam Abdullah meminta pertolongan mereka, mereka masuk ke Ahsa dan menguasainya terlebih dahulu. Dan lihat rincian hal itu di dalam kejadian-kejadian tahun 1289 H dari kitab Tadzkirah Ulin Nuha 1/197, dari ucapannya (Penuturan apa yang terjadi dan apa yang muncul dari sebab kedatangan pasukan ‘Utsmaniyyah dan bala tentara Turki).
[9] Ad Durar 192-194, Tadzkirah 1/203-206, dan yang sangat aneh bahwa ini adalah sifat pasukan ‘Utsmaniyyah tahun 1289 H, sedangkan di dalam Tarikh Al Jibritiy juga ada sifat yang sama bagi pasukan yang masuk ke Jazirah kira-kira tahun 1226 H, di mana dia berkata di dalam Tarikh-nya 3/341: (Dan telah berkata kepada saya sebagian pimpinan mereka dari kalangan yang mengklaim kesalihan dan sikap wara’: Dari mana kita akan mendapatkan kemenangan sedangkan mayoritas pasukan kami adalah berada di luar millah dan di tengah mereka ada orang yang tidak menganut agama apapun, juga menyertai kami kotak-kotak minuman keras, di tengah kami tidak didengar ‘adzan, dan tidak ditegakkan di dalamnya satu kewajiban shalatpun, serta tidak terlintas di benak mereka syi’ar-syi’ar agama ini………) selesai.
begitu juga pernyataan saud al kabir 1  yang juga ada di blog itu, pernyataan ini tidak  dimasukkan ke bagian awal karena akan merusak alur cerita  blog yang sudah panjang dan rumit ini, saya baru menemukan blog itu belakangan, seperti ini bunyi pernyataanya:
  1. Al Imam Su’ud Ibnu ‘Abdil ‘Aziz rahimahullah (Wafat 1229 H)
Dan telah lalu saya nukilkan ucapannya tentang Daulah ‘Utsmaniyyah ini, dan di antara ucapannya juga di dalam surat yang beliau kirim kepada gubernur Baghdad: “Dan adapun ucapan kalian: ”Bagaimana dengan kebodohannya ini berani lancang membangkitkan fitnah dengan mengkafirkan kaum muslimin dan ahli kiblat serta memerangi kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir…” maka kami katakan: “Sungguh telah lalu bahwa kami tidak mengkafirkan dengan sebab dosa, namun kami hanyalah memerangi orang yang menyekutukan Allah dan menjadikan tandingan bagi-Nya yang mana dia memohon kepadanya seperti dia memohon kepada Allah, dia berkurban untuknya seperti dia berkurban untuk Allah, dia nadzar baginya seperti dia nadzar bagi Allah, dia takut kepadanya seperti dia takut kepada Allah, dia beristighatsah kepadanya di dalam kondisi susah dan di dalam memohon manfaat, dia berperang di dalam rangka melindungi berhala-berhala dan kubah-kubah yang dibangun di atas kuburan yang dijadikan berhala yang disembah selain Allah. Dan bila kalian memang benar di dalam klaim kalian bahwa kalian berada di atas millatul Islam dan mutaba’ah kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka hancurkanlah berhala-berhala itu semuanya dan ratakanlah dengan tanah serta taubatlah kalian kepada Allah dari semua syirik dan bid’ah-bid’ah itu…” terus beliau berkata: “Dan adapun bila kalian tetap berada di atas keadaan kalian ini dan kalian tidak taubat dari syirik yang kalian anut dan kalian tidak mau komitmen dengan dienullah yang mana Allah telah mengutus Rasul-Nya dengannya serta kalian tidak meninggalkan syirik, bid’ah-bid’ah dan khurafat-khurafat itu, maka kami akan senantiasa memerangi kalian sampai kalian kembali kepada agama Allah yang lurus”.[3] [3] Ad Durar Assaniyyah 7/397.

https://en.wikipedia.org/wiki/Emirate_of_Diriyah diakses pada 11 september 2021
https://en.wikipedia.org/wiki/Mu%27ammarid_Imamate diakses pada 11 september 2021
https://en.wikipedia.org/wiki/Diriyah diakses pada 5 september 2021
https://en.wikipedia.org/wiki/Wahhabi_War pada 5 september 2021
https://shodhganga.inflibnet.ac.in/bitstream/10603/165516/6/06_chapter%203.pdf 3 september 2021
https://en.wikipedia.org/wiki/Saud_bin_Abdulaziz_Al_Saud_(1748%E2%80%931814) 1 september 2021
https://apps.dtic.mil/sti/pdfs/ADA620023.pdf Roby c Barret, Saudi Arabia: Modernity, Stability, and The Twenty First Century Monarchy. 2015 join special operations University MacDill Air Force Base, Florida. 
https://en.wikipedia.org/wiki/Bani_Khalid_Emirate 10 september 2021 
https://en.wikipedia.org/wiki/Turki_bin_Abdullah_Al_Saud_(1755%E2%80%931834) 12 september 2021
https://en.wikipedia.org/wiki/Khalid_bin_Saud_Al_Saud_(1811–1865) Paada 21 
https://en.wikipedia.org/wiki/Abdullah_bin_Ahmad_Al_Khalifa pada 21
https://en.wikipedia.org/wiki/Muhammad_bin_Khalifa_Al_Khalifa pada 21 
https://en.wikipedia.org/wiki/Unaizah pada 29 september 
https://core.ac.uk/download/pdf/144512812.pdf  Saudi Arabia Under King Faisal, Tesis Bilal Ahmad Kutty untuk doktor filsafat dalam Islamic Studies. Departement of Islamic Studies. Aligarh Islamic University .Aligarh India
  1. Abdullah Mohammad Sindi. "The Direct Instruments of Western Control over the Arabs: The Shining Example of the House of Saud" (PDF)Social sciences and humanities. Retrieved 25 January 2021.
  2. ^ H. St. J. B. Philby (Sprin)
https://www.proquest.com/docview/303101806 bagian kudeta anak-anak Saud bin Faisal kepada pamanda mereka Abdullah bin Faisal. 
https://en.wikipedia.org/wiki/Muhammad_bin_Abdullah_Al_Rashid pada 2 Oktober 2021 
https://en.wikipedia.org/wiki/Saud_bin_Faisal_Al_Saud_(1833–1875) pada 30 September  
https://en.wikipedia.org/wiki/Abdul_Rahman_bin_Faisal_Al_Saud_(1850–1928) 02 Oktober 2021 

Komentar

  1. Nejed apa yang anda maksud? Dari awalpun Nejed Hijaz bukan termasuk wilayah pemerintahan Turki Utsmani ... Turki Utsmani hanya menguasai wilayah pinggiran..

    Hijaz dari awal hanyalah sebuah Vassal States negara bawahan... İa bukan wilayah penerintahan turki Utsmani secara provinsi + ini wajib harus anda tau ) pemerintahan utsmani berhak mengangkat ataupun mencopot sharif disana...hilangnya wilayah itu dari tangan mereka bukanlah merupakan ancaman tapi lebih kearah kelemahan karena pengaruhnya di hijaz telah hilang

    Contoh aja sejak lepasnya afghanistan dari tangan Amerika tahun 2021 kemaren..amerika tidak menganggap itu sebagai ancaman kedaulatan negaranya..namun pengaruhnya atas negara bonekanya itulah yang berkurang....


    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Abad kemunduran yang memprihatinkan Turki Ustmani, Mesir, dan Arab Saudi : pesan lintas zaman dari kejadian di masa lalu sebagai pelajaran untuk orang sekarang

Pada abad 18 Umat Islam mengalami kemunduran,Turki Ustmani sudah bukan lagi kekuatsn besar yang diperhitungkan, militernya sudah ketinggalan zaman karena adanya oknum-oknum yang menolak modernisasi, alasannya adalah menolak teknologi kafir. orang zaman itu tidsk bisa membedakan budaya dan teknologi ketika ada rencana modernisasi senjata mereka menolak dengan alasan teknologi kafir , bEgitu juga ketika muncul teknologi mesin cetak, mereka menolak dengsn alasan itu teknologi kafir dan berbahaya, padahal alasan itu dikrluarkan karena para tukang tulis buku(maaf Bahasa saya terlalu kasar) menolak mesin cetak karena jika ada mesin cetsk merekq akan kalah bersaing, merrkw itu prang terpelajar dan termasuk sedikit orsng yang biss menulis dengan baik , namun karena menolak teknologi akibat kepentingan pribadi yang bersifst singskt saya sebut mereka sebagai tukang tulis buku, tentuc saja ada yang tidak setuju seperti channrl al muqadimah. tspi biarlah saya ada dsn yang tidak setuju ada , saya t...

Andranik Ozanian dan kawan kawan: tokoh-kokoh pemberontak Armenia yang menjadi salah satu antagonis dalam Payithat Abdul Hamid II

saya memang cukup mengagumi Turki Utsmani sebagai kerajaan Islam yang besar, namun saya tidak menutup mata kalau ada cela atau aib pada Turki Utsmani, begitu juga dengan kerajaan-kerajaan Islam lainnya, karena kerajaan dan raja Islam seperti Amir, Sultan, bahkan Khalifah itu tidak ma'sum atau dijaga oleh Allah Subhanallahu Wata'ala dari dosa, bahkan khulafaur Rasyidin juga tidak ma'sum, yang ma'sum adalah rasulullah shalallahu alaihi wassalam.pengetahuan saya akan cela atau aib yang ada pada kerajaan-kerajaan Islam bukanlah sesuatu yang membuat saya ragu terhadap ajaran Islam karena kerajaan Islam sebagai mana yang saya sebutkan sebelumnya tidak ma'sum dan bisa memiliki kesalahan, yang salah adalah raja dan pemerintahannya bukan Islamnya. apabila saya menceritakan tentang aib tesebut juga bukan untuk melemahkan semangat beragama namun untuk mengingatkan kalau orang di zaman dahulu pernah berbuat salah dan jangan sampai kita mengulangi kesalahn itu, jika anda hanya ...

Pengepungan Acre Pada Perang Salib Ketiga: Sejarah Asli Kampanye Age of Empire II : The Lion and Demon

Para pengguna internet yang sudah punya komputer sejak tahun 1990an mungkin sudah tidak asing lagi dengan permainan strategi Age Of Empire II terutama seri pertamanya Age of Kings, yang mana di dalam permainan itu terdapat mode ( campaign )kampanye,skenario yang berdasarkan pada sejarah asli. Salah satu skenario kampanye yang ada adalah skenario Saladin atau Shalahudin Al Ayyubi. Skenario itu terdiri atas enam bagian dan yang terakhir adalah The Lion and Demon yang berarti "Sang Singa dan Sang Setan". Skenario itu didasarkan pada pengepungan Kota Acre, sebuah kota pelabuhan di Palestina oleh pasukan Salib gabungan dari pasukan Salib Inggris yang dipimpin oleh Richard the Lion Heart dan Pasukan Salib Perancis yang dipimpin oleh Louis Augustus. https://youtu.be/f2VDzjcIocY?si=TFMq-4u-pxN03yxu Pada skenario ini pemain diharuskan untuk membagun sebuah wonder (keajaiban dunia) dan mempertahankannya agar jangan sampai hancur sampai waktu timer wonder habis, pemenang akan menang a...